Manado, Jatim Mandiri – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 497 gempa tektonik menggetarkan wilayah Sulawesi Utara dan sekitarnya sepanjang September 2026. Data tersebut disampaikan oleh Ketua Tim Data dan Informasi Stasiun Geofisika Manado, Kamal Ardiyanto, pada Senin 12 Oktober di Manado.
“BMKG melalui Stasiun Geofisika Manado, mencatat sebanyak 497 kejadian gempa bumi yang mengguncang wilayah Sulawesi Utara dan sekitarnya selama periode tersebut,” kata Kamal Ardiyanto.
Kamal menjelaskan bahwa berdasarkan distribusi kedalaman hiposenter, aktivitas gempa bumi selama September 2026 didominasi oleh gempa bumi dangkal. Gempa-gempa tersebut terjadi pada kedalaman kurang dari 60 kilometer. Pada kedalaman dangkal itu, terekam sebanyak 333 kejadian gempa bumi dari total 497 kejadian yang tercatat sepanjang bulan tersebut.
Berdasarkan magnitudonya, gempa bumi yang terjadi sepanjang September 2026 memiliki rentang magnitudo mulai dari M1,6 hingga gempa bumi terbesar berkekuatan M5,7. Rentang magnitudo tersebut menunjukkan variasi kekuatan gempa yang cukup lebar di kawasan Sulawesi Utara dan sekitarnya selama periode pencatatan oleh Stasiun Geofisika Manado.
Dari keseluruhan kejadian gempa yang tercatat, sebanyak tiga gempa bumi dilaporkan dirasakan oleh masyarakat. Wilayah yang merasakan guncangan tersebut meliputi Maba, Morotai, Halmahera Utara, Halmahera Tengah, Manado, Ternate, dan Batang Dua. Meskipun jumlah gempa yang dirasakan relatif sedikit dibandingkan total kejadian, hal ini tetap menjadi perhatian serius bagi warga di wilayah-wilayah tersebut.
Berdasarkan peta seismisitas dan distribusi episenter yang dianalisis BMKG, aktivitas gempa bumi selama periode September 2026 terkonsentrasi pada beberapa wilayah utama. Kawasan yang menjadi pusat konsentrasi gempa adalah Laut Maluku, Teluk Tomini, dan Laut Sulawesi. Ketiga wilayah perairan ini memang dikenal sebagai zona yang aktif secara tektonik di kawasan timur Indonesia.
Konsentrasi aktivitas gempa di wilayah-wilayah tersebut menunjukkan tingginya dinamika tektonik di kawasan pertemuan lempeng dan zona subduksi di sekitar Sulawesi Utara dan Maluku Utara. Kondisi geologis ini menjadikan kawasan tersebut sebagai salah satu wilayah dengan aktivitas seismik yang konsisten tinggi di Indonesia.
Jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, frekuensi gempa bumi tektonik yang terekam sepanjang September 2026 tercatat lebih sedikit. Pada Agustus 2026, BMKG mencatat sebanyak 515 kali kejadian gempa tektonik di wilayah yang sama. Artinya, terjadi penurunan sebanyak 18 kejadian gempa dari bulan Agustus ke bulan September 2026.
Meski mengalami penurunan frekuensi dibandingkan bulan sebelumnya, aktivitas gempa di Sulawesi Utara dan sekitarnya tetap perlu diwaspadai mengingat karakteristik tektonik kawasan yang berada di zona pertemuan lempeng. BMKG melalui Stasiun Geofisika Manado terus melakukan pemantauan dan analisis terhadap setiap aktivitas seismik yang terjadi di wilayah tersebut guna memberikan informasi yang akurat dan tepat waktu kepada masyarakat.












