Intisari Berita:
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa ajak masyarakat masifkan gerakan tanam dan rawat mangrove pada Hari Mangrove Sedunia 2026.
Luas ekosistem mangrove di Jawa Timur kini mencapai 31.067 hektare (47,85% dari total ekosistem mangrove di Pulau Jawa).
Penanaman mangrove difokuskan sebagai investasi ekologis, pencegah abrasi, penyerap karbon hingga 5 kali lipat, serta penggerak ekonomi pesisir.
Surabaya, Jatimmandiri.id — Pada Peringatan Hari Mangrove Sedunia 2026 yang mengusung tema “Menjaga Mangrove, Mengamankan Generasi Mendatang”, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memasifkan gerakan penanaman dan pemeliharaan mangrove secara konsisten.
Langkah ini dinilai sebagai bentuk investasi ekologis jangka panjang guna membentengi wilayah pesisir dari ancaman perubahan iklim, abrasi, dan intrusi air laut.
“Menjaga mangrove berarti menjaga garis pantai, melindungi keanekaragaman hayati, memperkuat ketahanan masyarakat pesisir, sekaligus mengamankan masa depan anak cucu kita. Karena itu, perlindungan mangrove harus menjadi gerakan bersama yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan,” ujar Khofifah di Surabaya, Minggu (26/7/2026).
Jatim Kuasai Hampir Separuh Ekosistem Mangrove Pulau Jawa
Berdasarkan Peta Mangrove Nasional, kinerja perluasan ekosistem hijau di Jawa Timur terus mencatatkan tren positif. Capaian ini merupakan buah dari kolaborasi lintas sektor antara pemerintah daerah, akademisi, komunitas peduli lingkungan, hingga sektor swasta:
-
Tahun 2021: 27.221 hektare
-
Tahun 2024: 30.839 hektare
-
Tahun 2025 – Sekarang: 31.067 hektare
Dengan total cakupan tersebut, Jawa Timur menyumbang 47,85 persen dari keseluruhan luas kawasan mangrove di Pulau Jawa. Artinya, hampir separuh benteng alam mangrove Pulau Jawa berada di wilayah Jawa Timur.
Manfaat Ekologis dan Penopang Ekonomi Pesisir
Gubernur Khofifah menguraikan bahwa vegetasi mangrove memiliki kapasitas penyerapan dan penyimpanan karbon yang sangat tinggi—bahkan mencapai hingga lima kali lipat dibanding hutan daratan biasa—sehingga efektif menahan laju pemanasan global.
Di samping manfaat ekologi, keberadaan ekosistem pesisir yang sehat secara otomatis menunjang pendapatan nelayan lokal. Mangrove menjadi tempat berkembang biak yang ideal bagi biota perairan seperti ikan, udang, kepiting, dan kerang.
“Ketika mangrove tumbuh dengan baik, ekosistem laut di sekitarnya juga ikut hidup. Sumber penghidupan nelayan menjadi lebih dekat sehingga mereka tidak harus melaut terlalu jauh untuk memperoleh hasil tangkapan,” jelasnya.
Menanam, Merawat, dan Mengembangkan Ekowisata
Khofifah mengingatkan bahwa indikator keberhasilan rehabilitasi lahan kritis tidak sekadar diukur dari banyaknya jumlah bibit yang ditanam, melainkan persentase bibit yang berhasil tumbuh dan terawat.
Melalui konsistensi gelaran Festival Mangrove yang telah memasuki tahun ketiga, Pemprov Jatim mendorong pengintegrasian ekosistem mangrove dengan kegiatan penelitian, sarana edukasi, ekowisata, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal secara berkelanjutan.
“Setiap mangrove yang kita tanam dan jaga hari ini merupakan warisan kehidupan bagi generasi mendatang. Menjaga mangrove adalah menjaga masa depan bersama,” pungkas Khofifah.












