Dalam NegeriEkbis

Sagu sebagai Alternatif Pengentasan Kemiskinan dan Pelestarian Lingkungan

×

Sagu sebagai Alternatif Pengentasan Kemiskinan dan Pelestarian Lingkungan

Sebarkan artikel ini
Prof. Dr. Elsina Titaley, Guru Besar Jurusan Sosiologi FISIP Unpatti.
Example 468x60

Oleh: Prof. Dr. Elsina Titaley, Guru Besar Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Pattimura (Unpatti).

Kemiskinan sebagai salah satu masalah sosial berakibat negatif pada hampir semua aspek kehidupan manusia, untuk itu kemiskinan menjadi musuh bersama dan mesti diperangi oleh seluruh umat manusia tanpa memandang profesi dan status.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Berbagai upaya telah dilakukan oleh berbagai pihak, namun kemiskinan tetap ada dengan angka selalu berfluktuatif.

Selain itu, permasalahan lain yang cukup menonjol yang mempengaruhi mutu kehidupan manusia, adalah masalah kerusakan lingkungan.

Berbagai upaya tealah dilakukan namun hasilnya tidak berdampak positif.

Jalan keluar yang tepat untuk mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut dijelaskan oleh Prof. Dr. Elsina Titaley, Guru Besar Jurusan Sosiologi FISIP Unpatti dalam bincang-bincangnya dengan wartawan jatimmandiri.id, tentang sagu sebagai alternatif pengentasan kemiskinan berkelanjutan dan pelestarian lingkungan berkelanjutan.

jatimmandiri.id: Prof sebagai sosiolog dengan ilmu yang dipelajari, apakah Prof memiliki kompetensi berbicara tentang pengentasan kemiskinan dan pelestarian lingkungan?

Prof Titaley: Perlu diketahui, sosiologi itu ilmu yang mempelajari tentang masyarakat dengan berbagai interaksi dengan berbagai permasalahan maupun potensi di dalamnya.

Juga sosiologi memiliki berbagai cabang antara lain sosiologi kepulauan, sosiologi lingkungan, sosiologi pembangunan, sosiologi pedesaan, sosiologi perkotaan, sosiologi hukum, sosiologi politik, sosiologi ekonomi dan masih banyak lagi.

Jadi segala yang dialami dan dimiliki oleh masyarakat menjadi wilayah kajian sosiologi termasuk kemiskinan dengan semua penyebab dan akibatnya serta upaya mengatasinya secara berkelanjutan, juga kerusakan lingkungan dengan berbagai penyebab dan akibatnya serta upaya mengatasinya agar lingkungan menjadi sehat dan lestari bagi mutu kehidupan secara berkelanjutan dikaji oleh sosiologi.

Hasil penelitian terhadapnya, saya uraikan secara lengkap dalam disertasi saya.
Jadi kalau filsafat sebagai induk ilmu pengetahuan oleh karena dasar berpikir, membimbing pengembangan ilmu, dan menyediakan kerangka ontologis, epistemologis, dan aksiologis bagi semua disiplin ilmu, maka sosilogi sebagai induk ilmu-ilmu sosial oleh karena cakupan wilayah kajiannya.

Itu bukan berarti ilmu-ilmu yang lain tidak penting, namun ilmu-ilmu tersebut hanya berfokus pada spesifikasi masalah yang dialami masyarakat.

Itu pendapat saya, mungkin banyak ahli memiliki pendapat yang berbeda, wajar-wajar saja.

Jatimmandiri.id: Mengapa Prof memusatkan penelitian-penelitian pada kemiskinan dan sagu sebagai alternatif pengentasannya?

Prof Titaley: Sebagaimana dijelaskan di atas, kemiskinan hanya sebagai salah satu permasalahan sosial, namun akibatnya sangat negatif pada semua aspek kehidupan manusia seperti kesehatan, pendidikan, pendapatan, politik, hukum, interaksi, kepercayaan, jaringan dan sebagainya untuk itu kemiskinan mesti menjadi musuh bersama yang mesti diperangi seluruh umat manusia pribadi, masyarakat dan lembaga.

Berbagai upaya selaku dilakukan dengan dasar teori para ahli namun hasilnya mash jauh dari harapan, sehingga masih banyak orang miskin dengan jumlah yang berpluktiatif.

Dari penelitian-penelitian yang saya lakukan, lalu saya menemukan bahwa sagu sebagai salah saya potensi bagi pengentasan kemiskinan bukan untuk waktu sesaat namun berkelanjutan, juga berdampak pada kualitas lingkungan dan mutu kehidupan manussia secara berkelaanjutan.

jatimmandiri.id: Apa yang menjadi ukuran seseorang atau suatu masyarakat dinyatakan miskin?

Prof Titaley: Bank Dunia menggunakan standar daya beli masyarakat pada negara-negara berpendapatan menengah sebesar US$8,30 per orang per hari.

Bila asumsi saat ini 1 dolar sebesar Rp.17.000.- maka standarnya seseorang dinyatakan miskin bila pengeluaran untuk kebutuhan makan dan non makan per harinya sebesar Rp.141.100.- atau di bawahnya.

Dengan standar itu, maka penduduk Indonesia berada pada kisaran 68,3%, atau sekitar 193 juta jiwa yang miskin, menduduki posisi nomor dua termiskian di dunia.

Sedangkan Badan Pusat Statistik (BPS), menggunakan garis kemiskinan nasional dengan ukuran sangat rendah sebesar Rp.641.443 per orang per bulan, atau sebesar Rp.21.381,- per orang per hari.

Baca Juga  Asri Basin Disiapkan Jadi Hub CCS Regional, PHE–ExxonMobil Perkuat Kolaborasi Strategis

Dengan ukuran BPS seakan-akan penduduk miskin di Indonesia sangat sedikit hanya 8,25% dari jumlah penduduk sebanyak 289.716.110.- jiwa per Mei 2026.

Angka kemiskinan di Maluku dengan standar Rp.797.060 per orang per bulan atau Rp.26.057.- per orang per hari untuk kebutuhan makan dan non makan.

Maluku pada posisi ke 8 termiskin awalnya posisi ke 4, bukan karena kemajuan, namun akibat pemekaran Provinsi di Papua.

Ukuran BPS sangat tidak masuk akal, oleh karena tidak mungkin seseorang dapat hidup memenuhi kebutuhannya hanya dengan nilai sedikit di atas nilai Rp.26.057 dianggap sudah tidak miskin.

Dengan ukuran itu seseorang yang melakukan perjalanan pergi pulang dari Ambon – Dobo misalnya, mesti tidak boleh makan paling berbulan-bulan, oleh karena uangnya untuk perjalanan.

Perhitungan yang konyol. Seharusnya ukuran angka kemiskinan oleh BPS sama atau setidaknya mendekati standar Bank Dunia.

jatimmandiri.id: Maluku sebagai salah satu provinsi yang memiliki SDA yang sangat kaya.
Di laut ada ikan, cumi dan udang dan lainnya. Juga ada tambang emas, minyak dan gas dan sebagainya.
Namun penduduk Maluku dikategerikan sebagai penduduk miskian dengan posisi sebagaimana dijelaskan di atas. Apa yang menjadi penyebabnya?

Prof Titaley: Dalam pendekatan teori, penyebab kemiskinan karena (1). Bencana alam dan perang, (2). Nilai budaya yang tidak mendukung, (3). Sumber daya alam yang terbatas, (4).

Kebijakan pemerintah kurang berpihak pada masyarakat.

Dalam penelitian-penelitian yang dilakukan, khususnya pada masyarakat adat, ditemukan penyebab kemiskinan lebih domin oleh karena kebijakan pemerintah kurang berpihak kesejahteraan masyarakat adat.

jatimmandiri.id: Mengapa Prof memilih sagu sebagai alternatif pengentasan kemiskinan berkelanjutan, bukan pada potensi tambang atau tanaman/tumbuhan lain?

Prof Titaley: Sagu memiliki kelebihan jauh melebihi hasil bumi yang lain seperti tambang maupun tanaman/tumbuhan apapun.

Yang paling utama oleh karena menjamin keberlanjutan mengatasi kemiskinan dan mutu lingkungan sehat.

Bahan tambang pada waktunya akan habis dan pengolahannya berakibat kehancuran lingkungan meliputi ekosistem di dalamnya.

Tanaman atau tumbuhan lain membutuhkan perawatan dan biaya tinggi dengan berbagai akibatnya seperti menggunakan pupuk. Berbeda dengan sagu.

Dari rumpun-rumpun sagu akan muncul aliran air jernih untuk minum dan berbagai kebutuhan usaha.

Aliran-aliran air dari rumpun sagu, akan menghadirkan hewan air: siput, udang, belut dan ikan, memiliki gizi tinggi untuk pertumbuhan otak dan lainnya.

Air mengalir memberi kesuburan wilayah sekitar, dan membawa plankton sebagai dasar rantai makanan ikan laut, sehingga menjadi tempat usaha para nelayan.

Semakin banyak rumpun sagu, semakin banyak pula manfaatnya.

Selain itu, semuan bagian dari pohon sagu memiliki bermanfaat kepada manusia.

jatimmandiri.id: Bisakah Prof menjelaskan manfaat dari bagian-bagian pohon sagu tersebut?

Prof Titaley: Dari hasil penelitian pustakan dan penelitian lapangan, dapat saya jelaskan

(1). Daun sagu menghasilkan oksigen terbesar dibandingkan tumbuhan lain, dan memperlambat menipisnya lapisan ozon yang berakibat pada melambatnya panas matahari menembus lapisan bumi.

Masyarakat desa dapat menggunakan daun sagu untuk dinding dan atap rumah, pagar tanaman, daun jendela dan daun pintu rumah kebun, tumang (tempat menampung tepung sagu), membuat ehu (tempat penampungan/penyimpanan sagu, yang siap dimakan).

Atap rumah dari daun sagu memberikan kesejukan dalam rumah dan umur atap rumah jauh lebih lama bila menggunakan atan sengk apalagi pada daerah pesisir laut,

(2). Pelepah sagu dapat dijadikan sahani remas ela/empulur sagu (tempat mengayah ela/empelur sagu untuk mendapatkan tepung sagu), untuk menjadi kepala goti dan kaki goti, sebagai bahan dasar untuk dianyam menjadi tas, timba air (pengganti gayung) dan berbagai bahan kerajinan lainnya,

Baca Juga  Kuntadi Diusulkan ke Presiden

(3). Batang daun (masyarakat menyebutnya gaba-gaba) dapat dijadikan dinding rumah, daun jendela, plafon rumah, daun pintu, pagar tanaman, tali pengikat (hahesi), timbil (wadah tempat penampungan bahan makanan) dan sebagainya sesuai kebutuhan,

(4). Kulit pohon sagu (masyarakat menyebut waa) sebagai bahan dasar dinding rumah, kayu bakar, pagar, goti, busur dan anak panah (loeng),

(5). Tepung sagu sebagai sumber energi, memperlancar pencernaan, penangkal radikal bebas yang merusak tubuh, meminimaliris risiko penyakit jantung, memberikan makanan pada bakteri usus sehat.

Juga mengencang otot, mencegah peningkatan gula darah, meningkatkan performa tubuh ketika aktif bergerak, menjaga berat badan alami, menstabilkan tekanan darah, memperbaiki sistem pencernaan, mencegah kemungkinan cacat tabung saraf bayi pada ibu hamil, melindungi sistem pencernaan dan mengobati asam lambung, membantu kesehatan dan kepadatan tulang dan sendi, dicampur air dalam tempurung kelapa kemudian dipanaskan dalam api menjadi papeda untuk pengobatan sangat mujarab terhadap luka bernanah, dan lainnya.
Manfaat konsumsi sagu manfaatnya lebih banyak bila dibandingkan dengan beras atau makanan lain

(6). Ampas ela sagu sagu dapat menjadi makanan ternak, dan ela yang membusuk menjadi humus tanah, dan menjadi tempat tumbuh jamur sagu sebagai sayur bergizi tinggi. Komposisi dan kandungan nutrisi jamur sagu sangat berbeda dibanding jamur lain,

(7). Akar pohon sagu menjadi penyerap dan penampung air tanah.

jatimmandiri.id: Apakah Prof dapat menjelaskan keuntungan sosial ekonomi bagi kesejahteraan petani sagu bila dibandingkan dengan petani tanaman/tumbuhan lain, dan apakan sagu dapat diandalkan bagi ketahanan pangan masyarakat Maluku?

Prof Titaley: Umumnya pekerjaan mengelola sagu dilakukan oleh beberapa orang dengan fungsi masing-masing dalam kebersamaan, dengan demikian dilalui dengan interaksi yang harmonis, kerja sama dan saling percaya.

Penelitian pustaka diperoleh gambaran umur sagu sampai masak tebang mencapai 11 s/d 15 tahun.

Pada setiap rumpun sagu menyediakan 2 pohon dewasa setiap 3 tahun.

Rata-rata jumlah pohon masak tebang pada setiap HA setiap tahun sebanyak 42 (empat puluh dua) pohon.

Setiap pohon akan menghasilkan rata-rata 478 kg tepung basah atau 239 tepung kering.

Perhitungan rata-rata, setiap tumang akan berisi antara 20 sampai 25 kg tepung basah.

Setiap tahun untuk setiap HA, akan dapat mencapai 20.076 kg tepung basah atau 10.038 kg tepung kering.

Rata-rata, setiap kg tepung basah dijual di pasar tradional serendahnya Rp. 15.000.- sampai Rp.20.000.- diambil harga terendah maka setiap tahun dari setiap HA akan menghasilkan nilai uang dari tepung basah sebesar: 20.076 X Rp.15.000.- = Rp.3.011.400.000.- (tiga miliar sebelas juta empat ratus ribu rupiah).

Dari jumlah itu dipotong 10% maka yang dapat diterima bersih setiap tahun dari setiap HA adalah sebesar Rp.2.710.260.000.-

Bila di dalam suatu negeri terdapat paling sedikit 10 HA saja, maka setiap tahun secara tetap akan memperoleh hasil bersih sebesar Rp.27.102.600.000.- (dua puluh tujuh miliar seratus dua juta enam ratus delapan ribu rupiah) sebagai suatu jumlah yang sangat besar, oleh karena semua peralatan untuk mengelola sagu sebagian besar diperoleh dari alam.

Kesimpulannya, mengelola sagu menghasilkan suasana hidup masyarakat selalu harmonis, tingkat pendapatan ekonomi keluarga dan masyarakat berkelanjutan, menjadi andalan ketahanan pangan dan menjadi andalan mutu lingkungan bekelanjutan.

jatimmandiri.id: Saat ini jumlah hutan sagu terus berkurang.
Data jumlah areal sagu di Maluku pada tahun 1986 kurang lebih 58.185 HA sesuai penelitian Luhenapessy.

Saat ini luas hutan sagu hanya 36.462 HA (data Kompas.Com 30 Januari 2025).
Jadi rata-rata setiap tahun terjadi pengurangan lahan seluas 760 HA.
Suatu keadaan yang sangat memprihatinkan, oleh karena hilangnya sumber makanan, ruang usaha, dan hilangnya kesejukan, kesuburan, dan kelestarian alam sebagaimana Prof jelaskan.

Baca Juga  E10 Berpotensi Tekan Impor BBM

Pertanyaaan: Menurut Prof, apa yang menjadi penyebab semuanya ini dan bagaimana jalan keluarnya?

Prof Titaley: Penyebab utama pada pemerintah dengan berbagai kebijakan telah merubah lahan sagu untuk kebutuhan lain, kurangnya penguatan pemahaman (motivasi) kepada masyarakat terhadap manfaat sagu.

Oleh karena pemahaman yang terbatas, maka lahan sagu diganti menjadi lahan kebun tanaman umur pendek dan umur panjang.

Penyebab lain; kurangnya industri yang dapat mengola tepung sagu menjadi bahan makanan modern dan rendahnya akses pasar, juga Pemerintah Daerah lemah menampilkan sagu sebagai makanan pokok dan makanan sebagai khas budaya Maluku dengan menampilkan budaya masyarakat lain.

Contohnya pada acara-acara serimonial dilakukan pemotongan nasi tumpeng, seharusnya papeda dan bahan olahan saru lainnya yang ditampilkan.

Dalam penelitian saya di Negeri Samasuru Kabupaten Maluku Tengah beberapa minggu lalu, ditemukan jawaban informan kunci bahwa salah satu penyebab berkurangnya lahan sagu, oleh karena terjadi perubahan pola makanan masyarakat dari makan olahan sagu menjadi makan olahan beras sehingga masyarakat kurang terhatikan lahan sagu mereka.

Jalan keluarnya pertama-tama Pemerintah mesti menghentikan semua kebijakan yang berakibat berurangnya lahan sagu, pemerintah berkewajiban memfasilitasi dengan kebijakan serta anggaran yang mendorong masyarakat giat membudidaya sagu.

Pemerintah mendorong hadirnya berbagai industri pengelolaan tepung sagu menjadi makanan modern. Juga, masyarakat Maluku termasuk di perkotaan mesti dibiasakan lagi untuk menjadikan sagu sebagai makanan pokok.

jatimmandiri.id: Melalui penelitian-penelitian yang Prof lakukan, apakah terdapat kesulitan dalam proses budidaya tanaman sagu?

Prof. Titaley: Kita ketahui budi daya tanaman tanaman meliputi: (1). Persiapan lahan, (2). Penyediaan bahan tanaman, (3). Pembibitan, (4). Penanama, dan (5). Pemeliharaan; dengan tenaga termasuk teknologi, waktu, dan biaya yang cukup.

Untuk budi daya tanaman sagu, sangat mudah dan dilakukan secara bertahap. Persiapan lahan tidak membutuhkan biaya.

Penyediaan bibit, dilakukan dengan cara anakan sagu dipotong tungkainya dipisahkan dari induk rumpun sagu, kemudian anakan tersebut direndam di air tawar dalam beberapa waktu tertentu mencapai 2 – 3 bulan sampai keluar akar-akar kemudian ditanam pada tempatnya.

Anakan sagu membutuhkan wadah tanah yang agak basah, maka anakan sagu mesti ditanam pada wilayah pinggiran genangan air, atau wilayah hutan hujan.

Pada wilayah yang kurang sumber air, anakan sagu ditanam berdekatan dengan rumpun sagu, sehingga dapat memperoleh air dari rumpun sagu di dekatnya.

Anakan-anakan sagu yang ditanam pada periode pertama pembibitan, akan tumbuh dan berkembang menjadi rumpun sagu yang darinya dapat diambil anakan.

Banyaknya rumpun-rumpun menambah folume penyimpanan air hujan dan menambah folume keluarnya mata air-mata air (sumber-sumber air) baru.

Bila ditentukan target dalam 1 bulan seorang petani dapat menanam 5 anakan, maka Masyarakat dapat menghitung sendiri berapa banyak rumpun sagu dan berapa banyak peningkatan pendapatan dan berapa banyak lingkungan yang subur dan berapa banyak lahan usaha lainnya yang muncul.

Anakan sagu tidak membutuhkan perawatan, namun sewaktu-waktu perlu pembersihan agar jangan ada tali rumput yang melilit.

jatimmandiri.id: Terima kasih prof, closing statement dari Prof untuk menutup percakapan ini.

Prof Titaley: Saya himbau kepala Pemerintah khusus Pemerintah Provinsi Maluku dan Masyarakat terutama generasi muda.

Sebaiknya merubah cara pandang dan sikap yang salah selama ini.
Tataplah masa depan Maluku yang ceriah berkelanjutan dengan alam yang selalu subur, melalui sagu sebagai sarananya. Kita semua diberkati. Amin.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Jember, Jatimmandiri.id Penyanyi Krisdayanti memuji penyelenggaraan Jember Fashion Carnaval (JFC) 2026 yang dinilainya menjadi rahimnya karya seni, budaya, dan kreativitas…

Berita

Ribuan Warga Padati Alun-Alun JEMBER, Jatimmandiri.id – Ribuan warga memadati Alun-Alun Jember untuk menyaksikan malam puncak Artwear Carnival Jember Fashion…