Tak Berkategori

Cahyo Harjo Soroti Kasus Kekerasan Digital Anak di Jatim

×

Cahyo Harjo Soroti Kasus Kekerasan Digital Anak di Jatim

Sebarkan artikel ini
Cahyo harjo
Anggota Komisi E DPRD Jatim Cahyo Harjo Prakoso
Example 468x60

Intisari Berita:

  • Anggota Komisi E DPRD Jatim Cahyo Harjo Prakoso menegaskan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 wajib jadi momentum evaluasi total, bukan sekadar seremoni.

  • Soroti 4 persoalan krusial: ketimpangan pendidikan, kesehatan fisik-mental, maraknya kekerasan era digital, hingga perundungan.

  • Mendesak penerapan kolaborasi pentahelix demi menjamin hak anak secara inklusif di Jawa Timur dan Kota Surabaya.

Surabaya, Jatimmandiri.id — Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 mendapat sorotan kritis dari jajaran legislatif Provinsi Jawa Timur. Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Cahyo Harjo Prakoso, menegaskan bahwa HAN harus dimanfaatkan sebagai momentum evaluasi mendalam dan penyempurnaan kebijakan, bukan sebatas agenda seremonial tahunan.

Cahyo menilai masih terdapat persoalan mendesak terkait belum terintegrasinya pemenuhan hak anak secara menyeluruh—mulai dari sektor pendidikan, pelayanan kesehatan, pola pengasuhan, hingga jaminan perlindungan dari aksi kekerasan maupun eksploitasi.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

“Ketika kita berbicara tentang Hari Anak, kita berharap ini menjadi momentum evaluasi dan penyempurnaan kita dalam membangun lingkungan kehidupan yang betul-betul ramah terhadap anak dan bukan sekadar peringatan seremonial,” tegas Cahyo Harjo Prakoso di Surabaya, Kamis (23/7/2026).

Soroti Ketimpangan Pendidikan dan Tantangan Kesehatan Fisik-Mental

Politisi muda ini membeberkan berbagai potret buram di lapangan yang masih membayangi anak-anak di Jawa Timur. Pada bidang pendidikan, isu anak putus sekolah, ketimpangan akses dan kualitas, keterbatasan fasilitas bagi disabilitas, hingga aksi perundungan (bullying) masih kerap ditemui.

“Sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman, inklusif, dan menyenangkan bagi setiap anak,” ujarnya.

Sementara di sektor kesehatan, Cahyo memaparkan bahwa tantangan anak tidak hanya berputar pada akses fasilitas medis, tetapi mencakup:

  • Pemenuhan Gizi & Imunisasi: Mencegah masalah tumbuh kembang (stunting) sejak dini.

  • Kesehatan Mental & Reproduksi Remaja: Menyiapkan mentalitas generasi muda yang tangguh.

  • Deteksi Dini Kognitif: Mengoptimalkan potensi kecerdasan fisik dan kognitif anak.

Baca Juga  Kapolda Jatim Lantik 971 Bintara Remaja Lulusan SPN Polda Jatim

Untuk mengatasi ini, ia meminta penguatan fungsi promotif-preventif lewat posyandu terdekat, sekolah inklusif, serta lingkungan permukiman yang guyub.

Darurat Kekerasan Era Digital dan Solusi Kolaborasi Pentahelix

Cahyo memberikan alarm keras terhadap eskalasi kekerasan fisik, seksual, verbal, hingga ancaman siber (cyberbullying) di ruang digital yang menyasar anak-anak.

Banyak kasus terjadi di lingkungan terdekat korban namun terlambat terungkap akibat sistem pengaduan yang belum sepenuhnya aman dan responsif.

Di samping itu, persoalan eksploitasi ekonomi, pernikahan anak di bawah umur, hingga kasus anak berhadapan dengan hukum (ABH).

Ia menilainya butuh penanganan lintas sektor secara terpadu melalui skema kolaborasi pentahelix (pemerintah, sekolah, keluarga, penegak hukum, dunia usaha, dan media).

“Prinsipnya setiap anak di Jawa Timur khususnya di Kota Surabaya—apa pun kondisi ekonomi, latar belakang, maupun kondisi disabilitasnya—harus memperoleh kesempatan yang sama untuk tumbuh, belajar, sehat, aman, dan berpendapat guna mengembangkan potensi optimalnya,” pungkas legislator Komisi Kesra tersebut.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *