ꦧꦸꦢꦪ

Mengenang Mbah Roekoen Rekso Mulyo: Nyawa Seni Tayuban dan Doa Bersama yang Menggema di Simo Kalangan

×

Mengenang Mbah Roekoen Rekso Mulyo: Nyawa Seni Tayuban dan Doa Bersama yang Menggema di Simo Kalangan

Sebarkan artikel ini
Mbah roekoen rekso mulyo
Keluarga besar almarhum Mbah Roekoen Rekso Mulyo
Example 468x60

Intisari Berita:

  • Keluarga besar almarhum Mbah Roekoen Rekso Mulyo menggelar ritual Umbul Dungo dan Tabuhan Gayeng Gayengan Sasi Suro di Simo Kalangan, Surabaya.

  • Penyelenggaraan acara memadukan esensi doa spiritual lintas generasi dengan pelestarian kesenian tradisional Jawa seperti musik tayuban dan Reog.

  • Momentum bulan Suro dimanfaatkan warga sekitar dan kerabat sebagai wadah silaturahmi mempererat kerukunan sosial kemasyarakatan.

Surabaya, Jatimmandiri.id — Nuansa khidmat yang sarat akan nilai spiritual berpadu selaras dengan eksotisme kekayaan budaya Jawa di sudut Kota Pahlawan. Kawasan Simo Kalangan, Surabaya, mendadak riuh oleh gema gamelan dalam penyelenggaraan ritual adat Umbul Dungo yang dirangkai dengan gelaran Tabuhan Gayeng Gayengan Sasi Suro.

Gelaran kebudayaan yang diinisiasi oleh keluarga besar almarhum Mbah Roekoen Rekso Mulyo pada Rabu (15/7/2026) ini menjadi wujud penghormatan, bakti, sekaligus kirim doa bagi sosok sesepuh yang semasa hidupnya dikenal sangat mencintai seni tradisional serta menjunjung tinggi nilai kebersamaan antardesa.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Rangkaian acara ini didesain tidak hanya untuk menghadirkan hiburan pertunjukan budaya semata, melainkan membawa substansi makna teologis yang mendalam.

Ritual Umbul Dungo memegang posisi sentral sebagai inti kegiatan, di mana doa bersama dipanjatkan oleh keluarga, kerabat, sahabat, hingga masyarakat sekitar agar almarhum Mbah Roekoen Rekso Mulyo memperoleh ampunan serta tempat terbaik di sisi Allah SWT.

Seni Tayuban dan Reog Sebagai Tenger Warisan Leluhur

Suasana peringatan sasi Suro di Simo Kalangan kian semarak ketika alunan gamelan ditabuh. Dentuman gong dan petikan karawitan dalam Tabuhan Gayeng Gayengan Sasi Suro sengaja dikombinasikan dengan pakem tari tayuban serta atraksi dinamis seni Reog.

Pertunjukan seni visual ini dihadirkan bukan tanpa alasan, melainkan menjadi simbol hidup untuk merefleksikan kecintaan mendalam almarhum terhadap kebudayaan asli tanah Jawa semasa hidupnya.

Baca Juga  Modal Swadaya, Sedekah Bumi RW 1 Sememi Sukses Dongkrak Omzet UMKM hingga 400%

Agus Mulyo, SH, salah satu keturunan langsung dari almarhum Mbah Roekoen Rekso Mulyo, menjelaskan bahwa ketukan instrumen gamelan tersebut sengaja disajikan sebagai tenger atau penanda historis bagi generasi muda.

“Semasa hidup, Mbah Roekoen sangat menyukai musik tayuban. Karena itu, keluarga menghadirkan Tabuhan Gayeng Gayengan Sasi Suro sebagai tenger atau pengingat akan kecintaan beliau terhadap seni tayuban,” tuturnya.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno Keberadaan artefak-artefak kuno yang dikoleksi Suyanto tidak hanya memunculkan pertanyaan mengenai usia dan asal-usulnya. tetapi juga…