Jakarta, Jatimmandiri.id, – Pemerintah mulai mempersiapkan langkah besar dalam transformasi energi rumah tangga dengan menghadirkan Tabung Merah Putih.
Tabung berbahan Compressed Natural Gas (CNG) yang diproyeksikan menjadi alternatif pengganti LPG 3 kilogram atau yang selama ini dikenal sebagai gas melon.
Inovasi ini dirancang untuk menghadirkan bahan bakar yang lebih ringan, aman, sekaligus mampu mengurangi beban subsidi energi negara.
Tahapan awal pengembangan kini memasuki fase penting. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjadwalkan pembuatan prototipe tabung mulai berlangsung pada Juli 2026.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaiman, menjelaskan bahwa pengembangan tersebut menjadi bagian dari persiapan sebelum program diterapkan secara lebih luas.
Sementara itu, nama “Tabung Merah Putih” dipilih langsung oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebagai identitas nasional bagi energi alternatif tersebut.
Sebagai langkah awal, pemerintah akan memproduksi sekitar 15 unit prototipe untuk menjalani serangkaian uji kelayakan di Lembaga Minyak dan Gas Bumi (Lemigas).
Pengujian dilakukan secara menyeluruh guna memastikan keamanan penggunaan, mulai dari kualitas katup (valve), kekuatan material tabung, hingga kemampuannya menahan tekanan gas tinggi sebelum nantinya digunakan oleh masyarakat.
Salah satu keunggulan utama Tabung Merah Putih terletak pada material pembuatnya. Berbeda dengan tabung LPG konvensional yang menggunakan logam sehingga relatif berat, tabung baru ini dibuat dari material komposit tipe empat yang memiliki bobot jauh lebih ringan.
Pemilihan material tersebut bukan tanpa alasan. Pemerintah ingin memastikan tabung lebih mudah dipindahkan dalam aktivitas sehari-hari, terutama oleh ibu rumah tangga yang menjadi pengguna utama bahan bakar memasak.
Meski komponen prototipe saat ini masih didatangkan dari China, pemerintah membuka peluang besar untuk membangun fasilitas produksi di Indonesia.
Apabila penggunaan Tabung Merah Putih semakin meluas dan permintaan meningkat, industri dalam negeri dinilai memiliki kesempatan untuk memproduksi tabung komposit tersebut secara mandiri.
Selain mengedepankan aspek keamanan dan kenyamanan, pemerintah juga memastikan peralihan ke CNG tidak akan membebani masyarakat dari sisi biaya.
Simulasi yang tengah disiapkan menargetkan biaya penggunaan Tabung Merah Putih tetap setara dengan harga eceran LPG 3 kilogram yang berlaku saat ini.
Di sisi lain, penggunaan CNG diperkirakan mampu memberikan efisiensi signifikan terhadap anggaran negara.
Pemerintah mengklaim migrasi energi ini berpotensi menekan beban subsidi energi hingga 30 persen, sehingga dapat mendukung pengelolaan anggaran yang lebih efektif.
Meski demikian, implementasi program tidak akan dilakukan secara serentak di seluruh Indonesia. Pemerintah bersama SKK Migas akan menerapkannya secara bertahap dengan memprioritaskan daerah yang telah memiliki pasokan gas memadai serta infrastruktur pendukung yang siap.
Melalui pengembangan Tabung Merah Putih, pemerintah berharap masyarakat memperoleh alternatif energi rumah tangga yang lebih aman, ringan, tetap terjangkau, sekaligus mampu mendukung efisiensi subsidi energi nasional dalam jangka panjang.












