HeadlineMetropolitan

Bertahan di Jalan Semarang, Dua Pedagang Kampung Ilmu Surabaya Melawan Perubahan Kurikulum dan Gempuran Digital

×

Bertahan di Jalan Semarang, Dua Pedagang Kampung Ilmu Surabaya Melawan Perubahan Kurikulum dan Gempuran Digital

Sebarkan artikel ini
Kampung Ilmu Surabaya menghadapi tantangan berat akibat perubahan kurikulum pendidikan, menurunnya minat baca, dan pergeseran transaksi ke platform digital. Dua pedagang buku membagikan kisah perjuangan mereka bertahan di Jalan Semarang.
Example 468x60

Surabaya, Jatimmandiri.id – Nama Kampung Ilmu di Jalan Semarang, Surabaya, telah lama dikenal sebagai pusat buku murah yang menjadi tujuan pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum. Sejak direlokasi dan ditata menjadi kawasan terpadu pada 2009, sentra penjualan buku bekas ini menjadi salah satu ikon literasi Kota Pahlawan.

Namun, di balik deretan kios yang dipenuhi buku-buku pelajaran, novel, hingga referensi akademik, tersimpan kisah perjuangan para pedagang yang terus berusaha bertahan di tengah perubahan zaman.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Salah satunya adalah Cahyo, pedagang buku bekas yang telah menekuni profesinya selama 18 tahun. Sejak 2008, ia menggantungkan penghasilan keluarga dari penjualan buku di Kampung Ilmu.

Di balik deretan kios yang dipenuhi buku-buku pelajaran, novel, hingga referensi akademik, tersimpan kisah perjuangan para pedagang yang terus berusaha bertahan di tengah perubahan zaman.

Menurut Cahyo, tantangan terberat yang pernah dihadapi para pedagang datang saat pandemi COVID-19. Sejak masa tersebut, jumlah pembeli mengalami penurunan signifikan dan hingga kini belum sepenuhnya pulih.

Meski pada hari-hari tertentu omzetnya masih mampu mencapai sekitar Rp1 juta per hari, kondisi pasar yang tidak menentu membuat pengelolaan modal usaha menjadi semakin ketat.

Namun, bagi Cahyo, persoalan terbesar saat ini justru bukan perkembangan teknologi digital, melainkan perubahan kurikulum pendidikan yang dinilai terlalu cepat.

“Kami ini pedagang kecil, modalnya berputar dari buku-buku yang ada. Kalau Kurikulum Merdeka yang baru berjalan sebentar saja tahun depan sudah direvisi lagi, buku-buku lama ini langsung jadi rongsokan, tidak laku dijajakan,” ujar Cahyo.

Perubahan kurikulum yang berulang membuat stok buku pelajaran lama kehilangan nilai jual. Akibatnya, para pedagang harus menanggung kerugian karena buku yang sebelumnya menjadi andalan tidak lagi dicari oleh siswa maupun sekolah.

Berbeda dengan Cahyo, Aan memilih beradaptasi dengan perkembangan teknologi dengan memasarkan buku secara daring.

Menurutnya, kondisi Kampung Ilmu saat ini hanya ramai pada akhir pekan, terutama oleh kalangan mahasiswa dan pencari buku bekas. Untuk menjangkau pasar yang lebih luas, ia memanfaatkan platform digital sebagai sarana penjualan.

Baca Juga  HUT ke-99 Persebaya, Eri Cahyadi Tegaskan Klub Ikon Identitas Kota Surabaya

Meski demikian, berjualan secara online juga memiliki tantangan tersendiri. Aan mengungkapkan bahwa omzet usahanya menurun sekitar 30 persen akibat perlambatan ekonomi yang membuat masyarakat lebih selektif dalam membelanjakan uangnya.

Selain itu, perubahan kebijakan sejumlah platform perdagangan elektronik juga memaksa banyak pedagang beradaptasi dengan cepat.

“Kalau di Shopee dulu enak, tinggal packing dan bayar sistematis. Di Facebook, polanya beda, kita mengandalkan kepercayaan penuh dari pelanggan. Kadang seharian ada yang tanya, tapi tidak ada yang beli sama sekali,” kata Aan.

Setelah berpindah ke Facebook Marketplace dan TikTok, Aan berupaya membangun kembali jaringan pelanggan. Berkat konsistensinya, ia masih mampu mencatat omzet rata-rata sekitar Rp5 juta per bulan.

Meski menghadapi tantangan yang berbeda, Cahyo dan Aan memiliki harapan yang sama, yakni meningkatnya kembali budaya membaca di masyarakat.

Aan berharap Pemerintah Kota Surabaya dapat menghadirkan program literasi yang lebih masif dan berkelanjutan guna mendorong minat baca warga, khususnya generasi muda.

Menurutnya, Kampung Ilmu bukan sekadar pusat perdagangan buku bekas, melainkan bagian dari warisan pendidikan dan budaya Surabaya yang patut dipertahankan.

Di balik tumpukan buku yang memenuhi kios-kios sederhana itu, terdapat perjuangan puluhan pedagang yang tetap bertahan menghadapi perubahan kurikulum, transformasi digital, hingga tekanan ekonomi.

Mereka bukan hanya penjual buku, melainkan penjaga literasi yang terus berupaya menjaga denyut budaya membaca agar tetap hidup di tengah derasnya arus perubahan zaman.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *