Jakarta, Jatimmandiri.id, – Keikutsertaan Prilly Latuconsina dalam Kirab Malam Satu Suro di Pura Mangkunegaran, Solo, menarik perhatian publik. Di tengah ramainya perbincangan mengenai etika berpakaian dalam prosesi budaya tersebut, aktris muda itu memilih mengikuti seluruh aturan dan tata cara yang telah ditetapkan penyelenggara sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi.
Prilly mengaku dirinya berusaha menaati setiap ketentuan selama mengikuti upacara sakral yang digelar di Pura Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah. Sebagai tamu undangan, ia menilai menghormati adat istiadat menjadi hal utama ketika mengikuti sebuah kegiatan budaya.
Salah satu aturan yang harus dipatuhi peserta adalah menjalani tapa bisu, yakni menjaga keheningan selama prosesi berlangsung. Selain dilarang berbicara, seluruh peserta juga tidak diperkenankan menggunakan telepon seluler ataupun membuat konten selama kirab berlangsung.
“Nggak boleh berisik, nggak boleh bikin konten, nggak boleh begini terus (memegang HP). Jadi handphone itu di tas,” ujar Prilly saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.
Meski demikian, ia menjelaskan bahwa panitia tetap menyediakan area khusus bagi tim dokumentasi agar proses pengambilan gambar tidak mengganggu jalannya ritual.
“Yang bikin konten itu punya areanya sendiri. Jadi timku yang mau merekamkan ya dia duduknya punya areanya sendiri gitu. Tapi ada juga momen-momen di mana semua harus naruh handphone. Nggak boleh pakai flash yang pasti,” lanjutnya.
Tak hanya menjaga keheningan, peserta kirab juga diwajibkan berjalan kaki tanpa alas kaki mengelilingi rute di luar benteng keraton. Prilly mengungkapkan dirinya menempuh perjalanan sekitar lima kilometer selama kurang lebih satu setengah jam.
Meski sempat merasakan panas di telapak kaki, pengalaman tersebut justru memberikan kesan mendalam baginya. Menurut Prilly, prosesi itu menjadi ruang refleksi diri yang menghadirkan ketenangan batin.
“Maksud dari situ adalah untuk kita merefleksikan diri, untuk lebih teduh dan membumi. Walaupun kaki capek, tapi energi dari dalam kayak ke-recharge,” katanya.
Dalam hal busana, Prilly juga memastikan penampilannya sesuai dengan pakem yang berlaku di lingkungan Pura Mangkunegaran. Ia mengenakan kebaya rancangan desainer Didiet Maulana, sementara tata rambut dan sanggul dipercayakan kepada penata rias asal Solo agar sesuai dengan aturan adat setempat.
“Aku mengikuti arahan Mas Didiet untuk kebaya dan kainnya. Tapi kalau konde, aku pakai orang Solo langsung karena takut salah (posisi) tusuk kondenya,” jelas Prilly.
Rangkaian kegiatan diawali dengan jamuan teh bersama pemimpin Pura Mangkunegaran, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Mangkunegara X. Setelah kirab selesai, para peserta mengikuti tradisi makan ketan yang menjadi simbol penghormatan kepada leluhur.
Meski bukan berasal dari suku Jawa, Prilly mengaku merasa terhormat memperoleh undangan langsung dari Kanjeng Gusti Bhre untuk mengikuti prosesi sakral tersebut. Pengalaman mengenal tradisi baru membuatnya berharap dapat kembali berpartisipasi apabila mendapat kesempatan di masa mendatang.
“Aku senang banget karena aku memang suka acara kebudayaan. Pas di sana kayak belajar adat baru, itu seru banget,” pungkasnya.












