Gaya Hidup

Resensi film Children of Heaven: Ketika Sepasang Sepatu Menjadi Pelajaran tentang Kasih Sayang dan Kesederhanaan

×

Resensi film Children of Heaven: Ketika Sepasang Sepatu Menjadi Pelajaran tentang Kasih Sayang dan Kesederhanaan

Sebarkan artikel ini
Sutradara dan jajaran pemain film Children of Heaven.
Example 468x60

Oleh: Sari Wulandari, guru SMP Islam Baitul Izzah.

Nganjuk, Jatimmandiri.id – Kehangatan dan nilai kemanusiaan terpancar dalam agenda nonton bareng (nobar) film Children of Heaven yang digelar oleh Lembaga Budaya Seni dan Olahraga (LBSO) Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kabupaten Nganjuk. Acara yang berlangsung pada 23-25 Juli 2026 di Sam’s Studio Nganjuk tersebut sukses menyedot perhatian dan menggugah emosi para penonton.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Seusai membagikan dokumentasi kegiatan tersebut di media sosial, banyak teman mengira film yang kami tonton adalah Children of Heaven versi Iran karya sutradara Majid Majidi (1997), film legendaris yang pernah meraih nominasi Academy Award kategori Best Foreign Language Film.

Dugaan itu dapat dimaklumi karena film garapan Hanung Bramantyo yang tayang pada 27 Mei 2026 memang merupakan adaptasi dari karya tersebut.

Konflik film ini sangat sederhana: Ali kehilangan sepatu sekolah adiknya, Zahra. Namun, bagi keluarga miskin, kehilangan sepasang sepatu berarti hilangnya kesempatan bersekolah dengan layak.

Demi mengatasi masalah itu, Ali dan Zahra bergantian memakai satu-satunya sepatu yang tersisa. Zahra mengenakannya saat sekolah pagi, lalu berlari pulang agar Ali dapat memakainya ke sekolah siang.

Kesederhanaan itulah yang menjadi kekuatan Children of Heaven. Film ini tidak memaksa penonton menangis, tetapi mengajak melihat kehidupan apa adanya. Tatapan mata, langkah kaki, dan keheningan justru lebih berbicara daripada dialog panjang.
Majid Majidi sebenarnya tidak sedang berkisah tentang kemiskinan, melainkan tentang martabat, tanggung jawab, dan kasih sayang dalam keluarga.

Puncak cerita hadir melalui lomba lari yang diikuti Ali. Baginya, kemenangan bukan soal menjadi juara, melainkan memperoleh hadiah sepasang sepatu untuk Zahra. Di sinilah makna kemenangan berubah: kebahagiaan terbesar sering kali lahir dari pengorbanan bagi orang yang kita cintai.

Baca Juga  Angkat Perjalanan Ibu Pertiwi dari Egoisme hingga Pemulihan

Meski mengikuti alur yang sama, Hanung Bramantyo menghadirkan sentuhan berbeda. Latar dipindahkan ke Indonesia pada masa Orde Baru dengan nuansa budaya lokal yang kuat, termasuk latar SD Muhammadiyah tempat Zahra bersekolah.

Dibanding versi Iran yang lebih simbolis, adaptasi Indonesia terasa lebih komunikatif dan eksplisit.

Film ini juga diselingi humor yang segar, terutama melalui dialog berpantun kepala sekolah dan penampilan Dodit Mulyanto sebagai guru Ali.

Hanung turut menyisipkan kritik sosial secara halus, misalnya ketika ayah Ali melarang anaknya memakan telur untuk posyandu sambil berkata, “Jangan makan yang bukan hak kita.”

Kalimat sederhana itu menjadi pesan kuat tentang kejujuran di tengah berbagai persoalan moral yang masih kita hadapi.

Secara keseluruhan, Children of Heaven versi Hanung Bramantyo adalah film yang hangat, menghibur, sekaligus menyentuh.

Berbeda dengan akhir versi Iran yang dibiarkan terbuka, Hanung memperlihatkan secara jelas hadiah sepatu baru bagi Ali dan Zahra sehingga penutup terasa lebih optimistis.

Film ini mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari kemewahan, melainkan dari rasa syukur, kejujuran, empati, dan kasih sayang. Karena itu, film ini layak ditonton bukan hanya oleh anak-anak, tetapi juga oleh orang tua, guru, dan para pemimpin.

Karena, di tengah dunia yang sibuk mengejar apa yang dimiliki, Children of Heaven mengingatkan kita untuk kembali menghargai apa yang sering terlupakan: kejujuran, pengorbanan, dan kasih sayang.

Barangkali itulah sebabnya, hampir tiga dekade setelah lahir di Iran dan kini dihidupkan kembali di Indonesia, kisah sepasang sepatu itu tetap sanggup mengetuk hati siapa pun yang menontonnya.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *