Ekbis

Ditengah Tren Sell Indonesia, Prabowo Klaim Banyak Investor Asing Ingin Berinvestasi

×

Ditengah Tren Sell Indonesia, Prabowo Klaim Banyak Investor Asing Ingin Berinvestasi

Sebarkan artikel ini
Prabowo bantah isu Sell Indonesia.
Example 468x60

Jakarta, Jatimmandiri.id, – Di tengah meningkatnya sentimen negatif terhadap pasar keuangan Indonesia dan munculnya istilah Sell Indonesia di kalangan investor global, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa minat investor asing untuk menanamkan modal di Tanah Air masih tetap tinggi. Kepala negara membantah anggapan bahwa pemerintahannya tidak bersahabat dengan investasi luar negeri.

Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat menghadiri pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Dalam kesempatan itu, ia mengungkapkan telah bertemu dengan sejumlah calon investor yang menunjukkan ketertarikan untuk masuk ke Indonesia dan mengembangkan investasinya.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

“Ada yang mengatakan Prabowo tidak suka dan nanti akan mengusir investor-investor asing. Ternyata tidak seperti itu. Saya ketemu banyak investor-investor yang akan masuk,” ujar Prabowo dalam Peresmian Pembukaan Munas HIPMI, yang disiarkan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (10/6/2026).

Pernyataan tersebut muncul di tengah sorotan terhadap arus keluar modal asing dari Indonesia dalam beberapa waktu terakhir. Sejumlah indikator pasar menunjukkan adanya tekanan terhadap aset domestik yang memicu kekhawatiran mengenai tingkat kepercayaan investor global terhadap perekonomian nasional.

Presiden menegaskan bahwa pemerintah tetap membuka pintu selebar-lebarnya bagi investor asing. Namun, ia menekankan bahwa seluruh kegiatan investasi harus berjalan sesuai aturan hukum yang berlaku di Indonesia.

Menurut Prabowo, kepastian hukum merupakan fondasi penting dalam menciptakan iklim usaha yang sehat dan berkelanjutan. Ia mengingatkan bahwa praktik bisnis yang mengandalkan celah aturan atau memanfaatkan lemahnya penegakan hukum justru dapat merugikan seluruh pelaku ekonomi dalam jangka panjang.

Lebih lanjut, Prabowo menyinggung adanya pihak-pihak tertentu, baik dari dalam maupun luar negeri, yang selama ini merasa diuntungkan oleh kondisi regulasi yang tidak tegas. Pemerintah, kata dia, berkomitmen menciptakan persaingan usaha yang adil melalui penegakan hukum yang konsisten.

Baca Juga  Importir yang Biarkan Kontainer Mengendap Bakal Disanksi

“Tapi kita ngerti bahwa di antara kita ada yang selalu tidak suka dengan berlakunya hukum. Mereka suka keadaan yang liar! Kalau kita tidak tegakkan hukum, yang terjadi adalah hukum rimba, hukum liar dan di ujungnya tidak baik bagi kita semua,” lanjutnya.

Di sisi lain, sentimen pasar terhadap Indonesia memang tengah menghadapi tantangan. Seruan untuk melepas aset-aset Indonesia atau dikenal dengan istilah Sell Indonesia disebut semakin menguat di kalangan investor internasional.

Fenomena tersebut tercermin dari kinerja pasar saham dan nilai tukar rupiah. Indeks saham utama Indonesia dilaporkan mengalami salah satu penurunan tercepat di dunia, sementara rupiah melemah hingga menyentuh level terendah sepanjang sejarah.

Hanya dalam kurun lima bulan setelah mencapai rekor tertinggi, indeks saham acuan Indonesia tercatat terkoreksi hingga 37 persen. Angka tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu pasar dengan performa terburuk di antara lebih dari 90 indeks global yang dipantau Bloomberg sepanjang periode tersebut.

Tekanan juga terlihat di pasar valuta asing dan obligasi. Rupiah dilaporkan melemah lebih dari 7 persen, sementara investor asing menarik dana dalam jumlah miliaran dolar AS dari pasar obligasi pemerintah Indonesia.

Perubahan sentimen ini dianggap cukup dramatis mengingat Indonesia sebelumnya dikenal sebagai salah satu tujuan investasi favorit di kelompok negara berkembang, terutama berkat kekayaan sumber daya komoditas yang dimiliki.

Sejumlah analis menilai kekhawatiran investor dipicu oleh persepsi terhadap meningkatnya intervensi pemerintah dalam perekonomian serta sejumlah agenda populis yang berkembang di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Kondisi geopolitik global juga disebut turut memengaruhi keputusan investor.

Konflik yang terjadi di Timur Tengah dinilai mempercepat arus modal keluar dari berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia. Situasi tersebut membuat investor global cenderung lebih berhati-hati dalam menempatkan dananya pada aset berisiko.

Baca Juga  Evaluasi 1,5 Tahun Berujung Perombakan BGN, Dadan Hindayana Diganti Setelah Sejumlah Catatan Serius

“Tren utama di Asia saat ini adalah ‘Sell Indonesia’,” ujar George Boubouras, Kepala Riset K2 Asset Management, hedge fund yang mengelola aset sekitar US$4,3 miliar.

Meski demikian, pemerintah optimistis daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi tetap kuat. Komitmen terhadap kepastian hukum, pemerataan kesempatan usaha, serta upaya menjaga stabilitas ekonomi diyakini menjadi modal penting untuk mengembalikan kepercayaan pasar dan menarik masuk investasi baru ke dalam negeri.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *