Intisari Berita:
KPwBI Jawa Timur resmi meluncurkan program Jelajah UMKM dan Pondok Pesantren 2026 sebagai ruang belajar bersama untuk memperkuat kapasitas dan replikasi ekosistem ekonomi lokal.
Ekonomi Jawa Timur tumbuh 4,93% di tahun 2025 dengan inflasi yang terjaga stabil di kisaran 2,9% berkat kontribusi kuat dari sektor UMKM, pertanian, perdagangan, dan ekosistem pesantren.
Kepala Perwakilan BI Jatim Ibrahim menekankan tiga aspek utama fondasi kemandirian ekonomi daerah, yaitu Konsistensi, Inovasi, dan Kolaborasi lintas pemangku kepentingan.
Surabaya, Jatimmandiri.id — Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Jawa Timur resmi meluncurkan program Jelajah UMKM dan Pondok Pesantren Jawa Timur Tahun 2026. Agenda strategis tersebut dibuka melalui kegiatan Kick Off resmi di Surabaya, Kamis (30/7/2026).
Mengusung tema “Jelajah Ekonomi Berdaya: Merangkai Kemandirian, Inovasi, dan Keberlanjutan dari Ekosistem Lokal”, program yang memasuki tahun ketiga ini diorientasikan untuk memperkuat hilirisasi klaster pangan, desa wisata, koperasi, hingga kemandirian ekonomi pondok pesantren.
Asisten Administrasi Umum Sekdaprov Jawa Timur, R. Heru Wahono Santoso—yang hadir mewakili Pemerintah Provinsi Jawa Timur—menyampaikan apresiasi besar atas langkah nyata Bank Indonesia dalam menstimulasi ekonomi dari tingkat akar rumput.
“Program ini merupakan ekosistem ekonomi yang mampu menghubungkan petani, UMKM, koperasi, industri, dan pondok pesantren dengan pasar yang lebih luas. Desa harus terintegrasi dengan sektor pariwisata, perdagangan, dan industri sehingga tercipta rantai nilai yang saling menguatkan,” kata Heru.
Tren Positif Makroekonomi Jatim dan Peran Strategis Pesantren
Dalam kesempatan tersebut, Pemprov Jatim memaparkan indikator makroekonomi Jawa Timur yang sukses mencatatkan tren positif sepanjang tahun lalu. Pada tahun 2025, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur mampu bertengger di angka 4,93 persen, didorong oleh konsumsi rumah tangga, industri pengolahan, kinerja ekspor, dan pertanian.
Sinergi kuat antara Pemprov Jatim dan Bank Indonesia juga berhasil meredam laju inflasi tetap terkendali di kisaran 2,9 persen guna menjaga daya beli masyarakat. Sektor pondok pesantren pun kini dinilai tidak lagi sekadar menjadi lembaga pendidikan agama, melainkan motor penggerak ekonomi syariah yang mandiri melalui unit usaha produktif dan koperasi (kopontren).
Pilar pengembangan dari Bank Indonesia Jatim. Konsistensi Usaha: Mendorong pelaku UMKM dan ekosistem pesantren untuk tekun melewati proses panjang guna membangun ketahanan usaha berbasis potensi lokal. Inovasi Berkelanjutan: Memacu digitalisasi transaksi, pengembangan komoditas unggulan daerah, serta implementasi pertanian organik agar responsif terhadap dinamika pasar global. Kolaborasi Multi-Pihak (Pentahelix): Membangun integrasi ekosistem usaha yang sehat melibatkan pemerintah, Bank Indonesia, sektor perbankan, akademisi, media massa, hingga dunia usaha.
Replikasi Kisah Sukses ke Berbagai Daerah
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Ibrahim, menjelaskan bahwa Jelajah UMKM dan Pondok Pesantren 2026 dirancang sebagai ruang bersama untuk menggali praktik-praktik terbaik (best practices) dari pelaku usaha yang telah mapan untuk diadopsi di wilayah lain.
“Melalui kegiatan ini kita ingin menghadirkan ruang belajar bersama. Kita akan menyaksikan berbagai success story, berbagi pengalaman, sekaligus melihat bagaimana keberhasilan pengembangan UMKM, desa wisata, hingga pesantren produktif di suatu daerah—seperti di Mojokerto dan Banyuwangi—dapat direplikasi di daerah lainnya,” pungkas Ibrahim.
Melalui kemitraan yang berkelanjutan ini, Bank Indonesia bersama Pemprov Jatim optimistis program ini mampu melahirkan lebih banyak wirausahawan daerah yang berdaya saing tinggi, mandiri secara finansial, serta siap menembus pasar nasional maupun internasional.












