Jakarta, Jatimmandiri.id, – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai terasa hingga ke rak-rak ritel modern. Kenaikan biaya impor yang dialami pemasok mendorong sejumlah perusahaan ritel melakukan penyesuaian harga jual berbagai produk, terutama barang yang mengandung komponen impor.
Fenomena tersebut tidak hanya berdampak pada harga barang, tetapi juga mulai memengaruhi pola konsumsi masyarakat. Sejumlah pelaku industri mencatat konsumen kini lebih selektif dalam menentukan produk yang akan dibeli, meski daya beli pada segmen tertentu masih tergolong kuat.
Salah satu perusahaan yang telah merasakan dampak tersebut adalah PT Supra Boga Lestari Tbk (RANC). Perseroan mengungkapkan bahwa sebagian besar produk yang dipasarkan di gerainya sudah mengalami penyesuaian harga setelah para pemasok lebih dulu menaikkan harga jual akibat meningkatnya biaya produksi dan pengadaan barang.
Direktur PT Supra Boga Lestari Tbk (RANC), Hady, menjelaskan bahwa perubahan harga yang terjadi di tingkat ritel merupakan konsekuensi dari kebijakan vendor yang menghadapi tekanan biaya akibat pelemahan rupiah.
“Iya, sebagian besar sudah ada penyesuaian harga. Karena dari pihak vendornya sendiri sudah melakukan penyesuaian harganya,” ujar Hady dalam agenda paparan publik, Rabu (3/6/2026).
Meski demikian, RANC menilai dampak kenaikan harga terhadap konsumennya masih relatif terkendali. Hal ini karena perusahaan melayani pasar menengah ke atas yang dinilai memiliki daya beli lebih baik dibandingkan segmen lainnya.
Namun, perusahaan tetap melihat adanya perubahan perilaku belanja. Konsumen disebut semakin berhati-hati dalam memilih produk dan lebih mempertimbangkan kebutuhan sebelum melakukan pembelian.
“Sebenarnya dari segi segmentasi market kita cukup baik, karena segmennya kan menengah ke atas ya. Jadi secara daya beli seharusnya tidak impacted too much, tapi tentu mereka akan lebih wise dalam pemilihan barang,” tambahnya.
Kondisi serupa juga terjadi di PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), pengelola jaringan ritel Alfamidi. Perseroan mengakui bahwa pelemahan rupiah berpotensi mendorong kenaikan harga sejumlah produk yang memiliki ketergantungan terhadap bahan baku atau komponen impor.
Produk seperti susu dan berbagai kebutuhan pangan lainnya menjadi kelompok barang yang paling rentan mengalami penyesuaian harga ketika nilai tukar rupiah terus tertekan.
Finance Director MIDI, Suantopo Po, menjelaskan bahwa harga jual di gerai Alfamidi pada dasarnya mengikuti kebijakan yang ditetapkan oleh principal atau pemasok. Karena itu, ketika pemasok menaikkan harga akibat kenaikan biaya, pihak ritel juga harus melakukan penyesuaian.
“Tapi pada prinsipnya apabila principal menaikkan harga, maka otomatis Alfamidi akan menaikkan harga juga. Kita adalah retailer, jadi tidak mungkin tidak ada kenaikan harga. Tapi kenaikan harga kembali tergantung pada principal,” jelasnya.
Meski menghadapi tantangan akibat fluktuasi nilai tukar, MIDI tetap memandang sektor ritel sebagai industri yang relatif defensif. Perseroan optimistis peluang pertumbuhan bisnis masih terbuka karena kebutuhan masyarakat terhadap produk konsumsi sehari-hari tetap terjaga.
Dengan kata lain, pelemahan rupiah memang mulai memicu kenaikan harga di sejumlah produk ritel. Namun, pelaku usaha menilai sektor ini masih memiliki ketahanan yang cukup baik untuk menghadapi tekanan ekonomi, meskipun konsumen diperkirakan akan semakin cermat dalam mengatur pengeluaran dan menentukan prioritas belanja.












