Surabaya, Jatimmandiri.id – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mulai dimanfaatkan Muhammadiyah untuk memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan keagamaan. Melalui peluncuran ChatHPT, organisasi Islam tersebut menghadirkan asisten digital yang memungkinkan warga mengakses keputusan, pemikiran, dan pandangan keagamaan Muhammadiyah secara lebih praktis.
Platform tersebut diperkenalkan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dalam rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih XXXIII di Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Kamis (5/11/2026).
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, pengembangan ChatHPT merupakan bagian dari langkah organisasi dalam mengantisipasi sekaligus beradaptasi dengan perubahan di era revolusi digital.
“Sebagai wujud antisipasi dan adaptasi terhadap perkembangan kehidupan di era revolusi digital, Muhammadiyah mengembangkan platform Himpunan Putusan Tarjih (HPT). Jika ingin mengetahui keputusan, pemikiran keagamaan, dan pandangan Muhammadiyah, tinggal membuka platform tersebut,” kata Haedar di Surabaya.
Menurut dia, ChatHPT dirancang untuk memudahkan masyarakat, terutama warga Muhammadiyah dan generasi muda, memperoleh berbagai produk keilmuan Majelis Tarjih dan Tajdid.
Pemanfaatan teknologi informasi tersebut diharapkan membuat sumber pengetahuan agama lebih mudah dijangkau sekaligus membantu masyarakat memahami pedoman kehidupan.
“Ini bentuk penggunaan teknologi informasi terkini untuk kepentingan beragama. Tujuannya agar kita hidup lebih benar, lebih baik, lebih pantas, serta mengetahui arah dan makna kehidupan,” ujarnya.
Haedar berharap platform tersebut dapat menjadi salah satu rujukan bagi generasi Z dan generasi Alfa dalam menghadapi tantangan masa depan. Pengembangan ekosistem digital Muhammadiyah juga dilakukan melalui sejumlah program lain, termasuk SatuMu dan Masa, untuk melengkapi akses informasi dan layanan masyarakat.
Munas Tarjih Bahas Fikih Lansia hingga Kedaulatan Pangan
Selain memperkenalkan teknologi AI, Munas Tarjih XXXIII juga membahas berbagai persoalan keagamaan dan sosial. Mengusung tema meneguhkan akidah, memperindah akhlak, menguatkan ibadah, serta memberdayakan umat untuk membangun peradaban berkemajuan, forum tersebut mengangkat sejumlah isu strategis.
Materi pembahasan meliputi fikih lansia, kedaulatan pangan, risalah akidah, dan risalah akhlak. Seluruhnya diarahkan untuk menjawab kebutuhan umat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, hingga menghadapi persoalan global.
Haedar menjelaskan, pembahasan fikih lansia penting untuk merumuskan kebutuhan pelayanan keagamaan bagi kelompok lanjut usia yang semakin mendapat perhatian. Sementara isu kedaulatan pangan berkaitan dengan penguatan kebijakan pertanian dan pemenuhan kebutuhan pangan nasional.
Ia menegaskan, Muhammadiyah terus mengambil peran dalam pembangunan bangsa melalui sektor pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, dan pencerahan keberagamaan.
Penguatan berbagai bidang tersebut diperlukan agar Indonesia mampu mengelola kekayaan alam secara mandiri dan berdaulat, dengan melibatkan generasi muda yang memiliki karakter kuat.
“Bangsa kita harus memiliki kemampuan, termasuk generasi mudanya harus mempunyai karakter yang kuat. Mengelola alam yang diberikan Tuhan harus dengan tanggung jawab, amanah, dan berlandaskan kemaslahatan orang banyak,” katanya.












