Edu-Life & SportGaya Hidup

Tan.Going Performance Jerman Hadirkan Refleksi Kehidupan Lewat NowHere

Penulis: RedaksiEditor: Ayunda
×

Tan.Going Performance Jerman Hadirkan Refleksi Kehidupan Lewat NowHere

Sebarkan artikel ini
Improvisasi, interaksi antarpemain, dan respons spontan menciptakan pertunjukan yang selalu menghadirkan cerita baru.
Example 468x60

Surabaya, Jatimmandiri.id – Gerak tubuh menjadi medium untuk menyampaikan pesan kedamaian dan hubungan manusia dengan alam dalam pertunjukan “Now Here (NOWHERE)” karya Tan.Going Performance asal Jerman. Pementasan ini mengajak penonton merenungkan kembali makna kehidupan melalui eksplorasi gerak bebas dan filosofi Amerta.

Mengambil inspirasi dari pendekatan Amerta yang dipengaruhi maestro tari asal Solo, almarhum Prapto Suryodarmo, pertunjukan tersebut mengeksplorasi kebebasan tubuh sebagai bentuk ekspresi sekaligus refleksi tentang bagaimana manusia seharusnya hidup selaras dengan alam.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Sebanyak sembilan seniman tampil di Gedung Cak Durasim, Surabaya, pada Minggu (1/11) malam. Mereka mengenakan busana putih dengan riasan wajah berupa bedak putih tebal. Penampilan diperkuat iringan musik dan olah suara yang disesuaikan dengan dinamika gerakan di atas panggung.

Melalui rangkaian koreografi dan eksplorasi tubuh, para seniman menghadirkan suasana yang merepresentasikan kedamaian. Setiap gerakan menjadi bagian dari komunikasi artistik yang tidak bergantung pada kata-kata, melainkan melalui ekspresi tubuh, suara, dan ruang.

Pertunjukan ini sekaligus memperlihatkan bagaimana seni tari kontemporer dapat menjadi ruang perjumpaan lintas budaya. Filosofi Amerta yang menjadi salah satu inspirasinya menghadirkan perspektif tentang kesadaran tubuh, kebebasan bergerak, serta hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya.

Dalam wawancara terpisah Peter Ohrt, Sutradara dari Tan.Going Performance menceritakan bagaimana persiapan sebelum melakukan pementasan tersebut. “Kami melakukan persiapan ini selama dua minggu dengan sering Latihan olah tubuh, dan suara, yang semuanya dilakukan sendiri,” jelasnya.
Yang menjadi tantangan dalam pementasan ini adalah tidak ada naskah baku, dialog yang harus dihafalkan, maupun koreografi tertentu.
“Tangoing Performance menghadirkan pengalaman seni panggung yang berbeda. Kelompok seniman ini mengandalkan improvisasi, interaksi antarpemain, dan respons spontan untuk menciptakan pertunjukan yang selalu menghadirkan cerita baru,” jelas Endang Pergiwati dari Teater Api yang juga menjadi penghubung dengan Tan.Going Performance asal Jerman ini.

Baca Juga  Kejuaraan Nasional Pagar Nusa di Pasuruan Jadi Ajang Pembinaan Pesilat Muda

Konsep tersebut memberikan ruang bagi setiap aktor untuk membangun karakter dan merespons situasi yang berkembang di atas panggung. Tidak ada kepastian mengenai alur cerita maupun akhir pertunjukan karena seluruh proses berlangsung secara langsung di hadapan penonton.

Ember, salah satu artist yang juga ikut dalam wawancara menambahkan, bahwa setiap pemain membawa pengalaman dan kisah masing-masing. Ketika berinteraksi dengan aktor lain, pengalaman tersebut berpadu dan melahirkan rangkaian cerita baru yang dapat berlangsung secara bersamaan.

“Kami tidak memilih cerita. Cerita memilih kita,” ungkapnya.

Berbeda dengan teater konvensional yang mengandalkan naskah dan struktur pementasan terencana, pertunjukan ini menempatkan spontanitas sebagai kekuatan utama. Para aktor memang rutin melatih kemampuan tubuh, suara, kreativitas, dan improvisasi, tetapi tidak melakukan latihan khusus untuk menentukan jalannya pertunjukan.

Konsep ini juga tidak menetapkan pesan tunggal yang harus disampaikan kepada penonton. Makna pertunjukan justru terbuka melalui interpretasi masing-masing orang.

“Kami tidak pernah berpikir tentang pesannya. Penonton melihat pesannya. Tapi itu bukan intensi kita,” lanjutnya.

Melalui pendekatan seni kontemporer dan gerak bebas, Tangoing Performance mengajak aktor berani mengambil risiko, mempertahankan rasa ingin tahu, serta merespons energi di sekitarnya. Setiap pementasan pun menjadi pengalaman artistik yang unik dan tidak dapat diulang dengan hasil yang sama

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *