Intisari Berita:
- Anggota Komisi C DPRD Surabaya Achmad Nurdjayanto meminta Brida fokus menghasilkan riset yang berdampak langsung bagi problem warga, khususnya penanggulangan banjir dan cuaca ekstrem.
- Riset Brida didorong menguji efektivitas proyek drainase kota yang menyerap APBD sekitar Rp1 triliun tiap tahunnya.
- Alokasi anggaran Brida Surabaya mengalami kenaikan signifikan dari sekitar Rp8 miliar pada 2024 menjadi sekitar Rp23 miliar.
*Anggaran Naik Jadi Rp23 Miliar, Achmad Nurdjayanto Minta Brida Fokus Riset Solusi Banjir*
Surabaya, Jatim Mandiri — Komisi C DPRD Kota Surabaya meminta Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kota Surabaya tidak sekadar menjalankan riset formalitas. Badan riset milik pemerintah kota tersebut didorong menjadi motor penggerak inovasi yang mampu melahirkan solusi konkret atas persoalan sosial dan lingkungan warga, terutama terkait ancaman cuaca ekstrem serta penanganan banjir.
Penegasan tersebut disampaikan oleh Anggota Komisi C DPRD Kota Surabaya dari Fraksi Partai Golkar, Achmad Nurdjayanto, usai menggelar rapat koordinasi pembahasan APBD bersama mitra kerjanya di lingkungan legislatif.
“Kami berharap agar Brida menjadi motor penggerak inovasi riset daerah, khususnya dalam memberikan masukan kepada Pemerintah Kota Surabaya dalam hal menyusun program-program prioritas yang nantinya akan dilaksanakan, dan permasalahan sosial di masyarakat itu dapat terjawab melalui inovasi riset yang ditawarkan oleh Brida,” terang Achmad.
Soroti Anggaran Drainase Triliunan Rupiah: Butuh Riset Efektivitas
Politisi muda Partai Golkar itu mengingatkan agar Brida tidak membuang energi pada kajian-kajian yang belum mendesak bagi arah pembangunan Surabaya. Kajian Brida semestinya diprioritaskan untuk mengantisipasi cuaca ekstrem serta menguji efektivitas belanja modal infrastruktur air yang menyedot anggaran daerah dalam skala masif.
“Artinya Brida jangan hanya melakukan riset yang memang belum menjadi prioritas Pemerintah Kota Surabaya. Jadi harapan kami tadi, Brida dapat melakukan riset-riset yang terkait dengan misalnya dengan cuaca ekstrem yang akan melanda Kota Surabaya nantinya, ini risetnya seperti apa, inovasinya seperti apa,” ujarnya.
Achmad menambahkan, alokasi dana penanganan banjir di Surabaya terbilang sangat tinggi. Oleh karena itu, akuntabilitas manfaat teknis dari setiap proyek saluran air harus diperkuat lewat telaah riset yang mendalam.
“Terkait dengan anggaran penanggulangan banjir yang cukup tinggi di Kota Surabaya, ini juga harapannya Brida dapat melakukan riset efektivitas dan produktivitas dari anggaran pembangunan drainase yang menyerap triliunan rupiah dari pajak masyarakat Kota Surabaya,” lanjutnya.
Dorong Solusi Inovasi Alat Normalisasi Saluran Air
Menurut Achmad, belanja daerah untuk penanganan genangan air, pembangunan drainase, perbaikan jalan, dan jembatan konsisten berada di level yang sangat besar di setiap siklus APBD.
“Kenapa tadi penanganan banjir saya berharap ada inovasi juga, karena setiap tahun anggaran yang dikeluarkan pemerintah daerah untuk penanggulangan banjir dan drainase, jembatan, dan jalan ini cukup tinggi sekali, selalu mencapai angka 1 triliun atau sekitar kurang lebih 1 triliun rupiah,” bebernya.
Melalui riset lapangan, Brida diharapkan memberikan rekomendasi mekanisasi kerja atau teknologi terapan yang memudahkan instansi teknis melakukan pemeliharaan saluran.
“Harapannya dengan adanya Brida ini mampu memberikan jawaban terkait permasalahan banjir di Kota Surabaya, termasuk bagaimana Brida memberikan masukan inovasi terkait dengan alat-alat yang mungkin dapat membantu dinas terkait dalam hal untuk melakukan normalisasi dan juga pemeliharaan jaringan drainase yang sudah dibangun dengan menggunakan APBD rakyat Kota Surabaya,” papar Achmad.
Kenaikan Anggaran Rp23 Miliar Harus Linier dengan Dampak Nyata
Kebutuhan intervensi riset strategis tersebut dinilai kian relevan seiring meningkatnya postur pendanaan Brida Kota Surabaya. Achmad membeberkan bahwa dalam pembahasan anggaran, terjadi lonjakan alokasi dana operasional dan riset pada badan tersebut.
“Total anggaran Brida tadi ada kenaikan[. Kami juga memahami bagaimana nanti riset yang akan dihasilkan ini agar sesuai dengan tuntutan masyarakat. Kalau tahun 2024 kemarin sekitar 8 miliar rupiah, tetapi ini naik menjadi sekitar 23 miliar rupiah,” ungkapnya.
Legislator Surabaya itu menaruh catatan tegas agar kenaikan nilai anggaran tersebut dibayar lunas dengan mutu dan faedah riset yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Tentunya harapannya dengan kenaikan anggaran Brida ini dapat memberikan efek positif juga, linier dengan kenaikan anggaran yang ditetapkan oleh Pemerintah Kota Surabaya,” pungkas Achmad.
Foto: Anggota Komisi C DPRD Kota Surabaya dari Fraksi Partai Golkar, Achmad Nurdjayanto












