Kota Besar

Dispendik Surabaya Perkuat Program DASH di 1.213 Titik

Penulis: Hari Agung
×

Dispendik Surabaya Perkuat Program DASH di 1.213 Titik

Sebarkan artikel ini
Dispendik Surabaya
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi saat berkunjung ke SDN Kaliasin I/280 Surabaya
Example 468x60

Intisari Berita:

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id
  • Dispendik Surabaya perkuat pencegahan perundungan lewat program SATRIA SURABAYA dan penyediaan fasilitas Bilik Curhat di sekolah.
  • Program DASH digencarkan di 1.213 titik SD-SMP menggandeng DP3APPKB dan Fakultas Psikologi Unesa guna edukasi pergaulan sehat.
  • Evaluasi MPLS Ramah Anak 2026/2027 catat nol pelanggaran, peran kader sebaya dan guru BK terus dioptimalkan tanpa penghakiman.

Surabaya, Jatimmandiri.id — Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus memperketat proteksi bagi para peserta didik melalui langkah preventif terstruktur guna memberantas aksi perundungan (bullying) dan tindak kekerasan di lingkungan pendidikan. Kebijakan ini diakselerasi melalui penajaman pendidikan karakter, penguatan ruang aktivitas positif, serta ekspansi fasilitas konseling ramah anak di jenjang sekolah dasar hingga menengah pertama.

Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, Febrina Kusumawati, menegaskan bahwa penciptaan ekosistem sekolah yang aman dan nyaman menuntut konsistensi pembinaan di hulu, alih-alih sekadar bereaksi secara reaktif saat friksi atau kasus kekerasan telanjur meledak ke permukaan.

“Pencegahan harus dimulai dari keseharian anak di sekolah. Kami ingin membangun lingkungan yang membuat murid merasa aman, dihargai, dan nyaman untuk bercerita. Penguatan karakter, komunikasi terbuka, serta pendampingan dari guru dan orang tua menjadi bagian penting untuk mewujudkan hal tersebut,” tegas sosok yang akrab disapa Febri itu, Kamis (22/10/2026).

Pendidikan Karakter SATRIA SURABAYA dan Pembagian Pola Asuh Berjenjang

Fondasi pencegahan di lingkungan belajar diterjemahkan secara konkret melalui integrasi program terstruktur, baik di sekolah negeri maupun swasta. Dispendik mengoptimalkan pembiasaan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat serta penguatan pendidikan karakter berbasis SATRIA SURABAYA (Sekolahe Arek Suroboyo).

Selain wadah akademis, ruang ekspresi anak dibuka seluas-luasnya melalui ekstrakurikuler Pramuka, Palang Merah Remaja (PMR), kesenian, keolahragaan, pembiasaan keagamaan, literasi, numerasi, hingga pembelajaran berbasis proyek (PjBL) guna mengasah empati antarsiswa.

Baca Juga  M Fikser Bergeser ke DLH, Zaini Jadi Asisten 1 Pemkot Surabaya

“Pendidikan karakter tidak cukup hanya disampaikan melalui teori, tetapi harus menjadi kebiasaan. Anak perlu belajar menghormati perbedaan, mengendalikan emosi, menyelesaikan persoalan tanpa kekerasan, dan memahami bahwa setiap orang berhak diperlakukan dengan baik,” papar Febri.

Pendekatan pembinaan turut disesuaikan secara berjenjang berdasarkan usia psikologis murid:

  • Jenjang Sekolah Dasar (SD): Menitikberatkan pada pembiasaan perilaku santun, penumbuhan rasa empati sesama teman, serta pendampingan intensif dari guru kelas dan kepala sekolah.
  • Jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP): Menekankan kematangan tanggung jawab pribadi, manajemen kendali emosi, pelatihan kepemimpinan, dan kemahiran mengambil keputusan secara bijak.

Bilik Curhat: Ruang Aman Konseling Tanpa Stigma dan Penghakiman

Guna memutus keengganan siswa melapor, Dispendik Surabaya mendorong sekolah mendirikan fasilitas “Bilik Curhat” sebagai saluran komunikasi yang aman dan rahasia. Fasilitas ini didesain agar siswa dapat menguraikan beban pertemanan, relasi keluarga, maupun problem emosional tanpa rasa takut dihakimi.

Di jenjang SMP, layanan penanganan awal dipimpin oleh guru bimbingan dan konseling (BK), sedangkan tingkat SD diampu langsung oleh guru kelas serta kepala sekolah dengan sokongan tenaga ahli profesional bila diperlukan.

Febri meluruskan paradigma keliru yang memandang ruang konseling hanya sebagai tempat hukuman bagi murid bermasalah. “Anak yang datang untuk bercerita harus mendapatkan respons yang tepat, bukan dihakimi atau dibuat takut. Informasi yang disampaikan perlu dijaga kerahasiaannya, dengan tetap mengutamakan keselamatan anak. Jika ditemukan indikasi kekerasan, sekolah harus memberikan pendampingan awal dan berkoordinasi dengan pihak berwenang sesuai kebutuhan,” lugasnya.

Budaya saling jaga diperkuat pula lewat keterlibatan pengurus kelas, OSIS, serta penunjukan duta antiperundungan sebaya. “Anak-anak perlu memahami bahwa ketika melihat temannya mengalami kesulitan, mereka tidak boleh ikut menyakiti atau justru membiarkan. Keberanian untuk membantu dan melapor merupakan bagian dari kepedulian. Namun, penanganannya tetap perlu melibatkan orang dewasa agar keselamatan dan kondisi psikologis anak terjaga,” imbuhnya.

Baca Juga  Komisi B DPRD Surabaya Siapkan Opsi Relokasi PKL Waduk Unesa dan Bongkar Dugaan Pungli

Sasar 1.213 Titik Sekolah via Program DASH dan Gandeng Psikologi Unesa

Percepatan program pencegahan kekerasan turut dibangun melalui kerja sama lintas perangkat daerah bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Surabaya melalui inisiatif Dinamika Arek Suroboyo Hebat (DASH).

Pada tahun 2026, jangkauan edukasi program DASH menyasar sebanyak 1.213 titik satuan pendidikan SD dan SMP sederajat di seluruh penjuru Surabaya. Pelaksanaannya menggandeng Fakultas Psikologi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) guna memperdalam instrumen observasi psikologis, pemahaman hak anak, dan mekanisme alur pengaduan resmi.

Febri menambahkan bahwa keterlibatan lingkungan domestik orang tua dalam memantau aktivitas digital anak, serta dukungan warga di tingkat RT/RW dan kelurahan, menjadi pilar penyangga di luar gerbang sekolah.

Komitmen ramah anak ini sebelumnya telah dibuktikan melalui pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah Anak tahun ajaran 2026/2027. Dari hasil evaluasi resmi Dispendik, masa orientasi tersebut berjalan sepenuhnya kondusif dengan catatan nol laporan keluhan maupun nihil pelanggaran prinsip perlindungan anak.

“Tujuan akhirnya adalah memastikan setiap anak merasa aman, dihargai, dan memiliki keberanian untuk mencari pertolongan ketika menghadapi masalah. Karena itu, penguatan karakter harus berjalan beriringan dengan pendampingan yang tepat dan kerja sama semua pihak agar kepentingan terbaik anak selalu menjadi prioritas,” pungkas Febri.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *