Ekbis

Mengenal Lebih Dalam Batik Jetis Sidoarjo

Penulis: Dicky Dea Editor: Ayn
×

Mengenal Lebih Dalam Batik Jetis Sidoarjo

Sebarkan artikel ini
Memperingati Hari Batik Nasional, favehotel Sidoarjo berkolaborasi dengan Batik Namiroh, salah satu pengrajin dari Kampung Batik Jetis Sidoarjo.
Example 468x60

Sidoarjo, Jatimmandiri.id – Peringatan Hari Batik Nasional di favehotel Sidoarjo berlangsung berbeda. Para tamu tidak sekadar diajak mengenakan batik, tetapi juga melihat langsung proses pembuatannya hingga mencoba mencanting sendiri.

Kegiatan yang digelar di area lobi favehotel Sidoarjo, Sabtu (3/10), tersebut merupakan hasil kolaborasi hotel dengan Batik Namiroh, salah satu perajin dari Kampung Batik Jetis Sidoarjo yang dikelola Reynaldi.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Aktivitas membatik secara langsung menjadi daya tarik utama. Dengan pendampingan perajin, para tamu diberi kesempatan mengenal tahapan membatik sekaligus mencoba membuat motif di atas kain. Pengalaman tersebut membuat batik tidak berhenti sebagai produk budaya yang dipajang, tetapi dapat dipahami melalui proses pembuatannya.

Kolaborasi itu juga menghadirkan display kain batik karya Batik Namiroh di lobi hotel. Pengunjung dapat melihat sekaligus membeli kain dengan harga mulai Rp250 ribu hingga jutaan rupiah per lembar, tergantung motif dan pengerjaannya.

General Manager favehotel Sidoarjo, Eka Dewi, mengatakan kegiatan tersebut dirancang agar peringatan Hari Batik Nasional memiliki nilai edukasi sekaligus memperkenalkan potensi perajin lokal kepada masyarakat yang lebih luas.

“Kami ingin memperingati Hari Batik Nasional dengan cara yang tidak hanya seremonial. Tamu bisa melihat dan mencoba langsung proses membatik sekaligus mengenal karya perajin Kampung Batik Jetis. Dari sini, mereka tidak hanya melihat kainnya, tetapi juga memahami cerita dan proses di balik setiap karya,” ujar Eka.

Menurut dia, kolaborasi dengan pelaku budaya lokal juga menjadi cara hotel menghadirkan pengalaman berbeda bagi tamu. Batik yang selama ini identik dengan busana dapat dikenalkan sebagai bagian dari proses kreatif dan ekonomi masyarakat.

Pemilik Batik Namiroh, Reynaldi, menyambut baik kesempatan tersebut. Menurutnya, interaksi langsung menjadi salah satu cara efektif membuat masyarakat memahami nilai batik sekaligus menghargai kerja para perajin.

Baca Juga  UMKM Jatim Tumbuh, DPRD Minta Pembinaan Berbasis Kebutuhan

“Batik bukan hanya kain dan motif. Ada ketelitian, proses panjang, dan cerita di setiap lembarannya. Ketika masyarakat mencoba sendiri, mereka akan lebih memahami bagaimana batik dibuat dan menghargai kerja perajin,” kata Reynaldi.

Ia berharap kegiatan serupa semakin sering digelar, terutama untuk mengenalkan batik kepada generasi muda. Dengan begitu, pelestarian batik tidak berhenti pada penggunaan, tetapi berlanjut pada pemahaman dan apresiasi terhadap proses kreatifnya.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Surabaya, Jatim Mandiri, Bank UMKM Jatim membawa sejumlah mitra binaan menembus pasar internasional melalui Misi Dagang Jatim-Arab Saudi dan memperluas…

Ekbis

Jakarta, Jatimmandiri.id – Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Dradjad Hari Wibowo memasuki babak baru dalam…