Lumajang, Jatimmandiri.id – Tokoh lintas agama di Kabupaten Lumajang menegaskan Pancasila sebagai titik temu sekaligus perekat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pesan tersebut mengemuka dalam dialog kebangsaan pada Kemah Moderasi Beragama, Jumat (2/10/2026).
Dialog menghadirkan Pdt Evgan dari Kristen, Ydha dari Katolik, Astono dari Hindu, serta Asir, perwakilan Islam sekaligus Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Lumajang. Para tokoh menyampaikan pesan serupa: mencintai Indonesia berarti menjaga persatuan, menghormati perbedaan dan menempatkan Pancasila sebagai fondasi kehidupan berbangsa.
Pdt Evgan mengatakan kemajemukan merupakan kenyataan yang melekat pada Indonesia. Keberagaman agama dan kondisi geografis Indonesia membutuhkan komitmen bersama untuk mempertahankan persatuan.
“Indonesia memiliki penduduk yang beragama dan tersebar di ribuan kepulauan. Karena itu, komitmen mencintai bangsa dan negara serta menjaga persatuan menjadi hal yang sangat penting,” ujarnya.
Sementara Astono menilai kecintaan kepada sesama harus diwujudkan melalui kebiasaan yang mampu mempertemukan masyarakat. Budaya lokal, menurut dia, dapat menjadi ruang untuk membangun kebersamaan.
Dalam dialog tersebut, Astono bahkan mengajak peserta bernyanyi bersama dengan iringan gitar. Suasana forum pun mencair dan menunjukkan bahwa perbedaan dapat dipertemukan melalui aktivitas sederhana.
“Budaya lokal perlu terus digalakkan karena dari sanalah kebersamaan dan rasa mencintai sesama manusia dapat tumbuh,” katanya.
Ketua FKUB Lumajang Asir menegaskan Pancasila bukan ideologi yang lahir secara tiba-tiba. Nilainya telah berakar dalam budaya dan kehidupan masyarakat Indonesia serta menjadi titik temu berbagai agama, suku dan tradisi.
“Pancasila merupakan satu-satunya ideologi yang bersumber dari akar nilai dan budaya bangsa yang telah tumbuh sejak adanya bangsa Indonesia,” kata Asir.
Menurut Asir, Indonesia memiliki pengalaman berbeda dibanding sejumlah negara yang mengalami perubahan ideologi dan sistem politik. Karena itu, Pancasila harus terus dijaga sebagai fondasi kehidupan berbangsa.
“Indonesia memiliki pengalaman yang berbeda. Dari dahulu, sekarang, dan insyaallah sampai nanti, Indonesia tetap menjadi NKRI yang berdasarkan Pancasila,” ujarnya.
Dialog tersebut menegaskan moderasi beragama tidak cukup menjadi slogan. Nilainya perlu diwujudkan melalui toleransi, dialog dan penghormatan terhadap pemeluk agama lain.
Bagi para tokoh lintas agama, keberagaman merupakan kekuatan Indonesia. Merawat perbedaan berarti menjaga persatuan, sementara menjaga persatuan berarti mempertahankan Pancasila sebagai perekat NKRI.












