Surabaya, Jatimmandiri.id — Agenda Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang digelar Anggota Komisi X DPR RI, Reni Astuti, berlangsung hangat dan interaktif.
Bertempat di Surabaya, pertemuan yang diikuti ratusan warga serta tokoh masyarakat ini menjelma menjadi ruang dialog terbuka untuk membumikan nilai-nilai kebangsaan dalam aksi konkret sehari-hari.
Dalam pemaparannya, Reni menegaskan bahwa empat pilar kebangsaan, Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, tidak boleh berhenti sebagai hafalan atau konsep teoretis belaka.
Nilai-nilai luhur tersebut harus hidup dan dirasakan dampaknya di tengah lingkungan masyarakat.
“Persatuan tidak cukup hanya kita ucapkan. Persatuan harus kita rawat melalui sikap saling menghormati, gotong royong, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar,” ujar Reni, Senin (28/9/2026).
Suasana sosialisasi berjalan dinamis. Peserta tidak sekadar duduk mendengarkan pemaparan, tetapi aktif melempar pertanyaan, berbagi pengalaman, hingga mendiskusikan persoalan nyata yang kerap dihadapi di tingkat RT/RW.
Beberapa topik hangat yang mencuat antara lain strategi merawat kerukunan di tengah perbedaan, membangun pola komunikasi antarwarga yang harmonis, hingga solusi mengikis sikap apatis masyarakat terhadap isu-isu lingkungan.
Politisi PKS ini menggarisbawahi bahwa partisipasi aktif warga merupakan fondasi utama dalam merawat demokrasi.
Menurutnya, kontribusi terhadap bangsa tidak selalu harus dimulai dari gerakan besar yang muluk-muluk.
“Berpartisipasi bisa dimulai dari lingkungan terdekat. Ikut menjaga kebersihan lingkungan, hadir dalam kegiatan masyarakat, membantu tetangga, menyampaikan aspirasi dengan cara yang baik, dan ikut mencari solusi atas persoalan bersama juga merupakan bentuk partisipasi sebagai warga negara,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Reni secara khusus mengajak para tokoh masyarakat untuk konsisten menjadi penggerak kebersamaan.
Peran tokoh lokal dinilai sangat krusial sebagai perekat hubungan antarwarga sekaligus jembatan komunikasi antara aspirasi arus bawah dan para pemangku kebijakan.
Antusiasme peserta yang tinggi hingga akhir acara menunjukkan bahwa pendekatan dialog dua arah membuat materi Empat Pilar terasa jauh lebih dekat dan relevan dengan realitas sosial.
Menutup kegiatannya, Reni berharap forum ini mampu memperkuat kesadaran kolektif bahwa menjaga keutuhan bangsa adalah tugas bersama seluruh elemen masyarakat.
“Perbedaan adalah bagian dari Indonesia. Yang perlu kita jaga adalah bagaimana perbedaan itu tidak menjadi alasan untuk terpecah, tetapi menjadi kekuatan untuk saling melengkapi,” pungkas doktoral Unair ini.












