Ada kabar transfer yang sekadar menjadi berita. Ada pula yang menjadi tamparan kecil bagi sebuah kota.
Kepindahan Marselino Ferdinan ke Persija Jakarta mungkin masuk kategori kedua.
Marselino adalah produk Persebaya. Di klub inilah bakatnya diorbitkan hingga menembus tim senior pada era Aji Santoso. Nomor 7 pernah begitu lekat dengan dirinya. Green Force membesarkannya, sebelum kariernya berlanjut ke Eropa dan timnas Indonesia.
Maka ketika namanya kembali dikaitkan dengan Persebaya, harapan tentu saja muncul. Bonek dan Bonita punya alasan untuk membayangkan Marselino kembali ke rumah.
Tetapi sepak bola memang tidak selalu mengenal istilah pulang.
Dikutip dari Antara, Marselino justru mengatakan Persija adalah klub yang paling serius untuk memaksimalkan potensinya.
“Yang pasti sekarang saya melihat tim yang benar-benar serius dan bisa memaksimalkan potensi saya. Saat kondisi seperti ini fokus saya mengembalikan performa dan fitness saya. Persija adalah tim yang terbaik untuk saya ke depannya,” kata Marselino.
Kalimat itu sederhana. Tetapi bagi sebagian pendukung Persebaya, barangkali terdengar cukup panjang untuk direnungkan.
Lalu muncul pertanyaan yang tidak perlu dijawab dengan suara keras: kalau Persija serius, Persebaya bagaimana?
Rumor kepulangan Marselino memang beberapa kali berembus. Sayangnya, rumor tetaplah rumor. Ia datang, membuat gaduh, lalu pergi tanpa meninggalkan tanda tangan.
Dan kali ini, tanda tangannya justru berada di jersey merah Persija.
Lebih menarik lagi, Marselino datang bukan sekadar untuk mengisi daftar pemain. Ia membawa ambisi.
“Saya akan selalu memberikan yang terbaik dan berharap kami bisa juara bersama di tahun ini. Dengan komposisi pemain dan pelatih sekarang, kami optimistis bisa meraihnya,” ujarnya.
Nah.
Kalimat terakhir itu mungkin yang paling membuat Bonek menelan ludah.
Persebaya sedang membangun mimpi besar menuju usia 100 tahun pada 2027. Marselino, sebagai salah satu produk terbaik akademi klub, tentu saja mudah dibayangkan sebagai bagian dari cerita tersebut.
Tetapi cerita ternyata punya bab lain.
Marselino memilih Persija. Di sana ia akan mengenakan nomor 10 dan kembali bekerja bersama Shin Tae-yong, pelatih yang sudah mengenalnya ketika menangani timnas Indonesia.
Persebaya membesarkan.
Eropa mematangkan.
Timnas mengasah.
Persija yang sekarang mendapatkan tanda tangannya.
Begitulah sepak bola. Kadang-kadang, yang menanam tidak selalu menjadi pihak yang memanen.
Bagi Persebaya, mungkin ini bukan sekadar kehilangan seorang pemain. Ini juga pengingat bahwa nostalgia tidak cukup untuk membawa seorang pemain pulang.
Harus ada keseriusan. Harus ada proyek. Harus ada keyakinan bahwa rumah lama masih menjadi tempat terbaik untuk melanjutkan perjalanan.
Kalau tidak, jangan heran jika anak yang dibesarkan sendiri akhirnya memilih mengetuk pintu tetangga.
Dan kali ini, pintu itu bernama Persija.
Hem.












