Kota Besar

Kasus ISPA dan Influenza Melonjak, Komisi D DPRD Surabaya Minta Faskes Siaga 1 dan Maksimalkan Peran Kader RT

Penulis: Hari AgungEditor: Alif Bintang
×

Kasus ISPA dan Influenza Melonjak, Komisi D DPRD Surabaya Minta Faskes Siaga 1 dan Maksimalkan Peran Kader RT

Sebarkan artikel ini
Hari anak nasional 2026 Kasus ISPA
Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya, dr. Zuhrotul Mar’ah
Example 468x60

Intisari Berita:

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id
  • Komisi D DPRD Surabaya dorong Dinkes siagakan sarana faskes, stok obat, dan masker hadapi lonjakan ISPA serta influenza.
  • Kader Surabaya Hebat (KSH) di tingkat RT diminta intensifkan membantu kelompok rentan seperti balita, lansia, dan penderita komorbid.
  • Warga diimbau perketat prokes, konsumsi makanan bergizi, hingga pertimbangkan vaksinasi influenza berkala secara mandiri.

Surabaya, Jatimmandiri.id — Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya meminta Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya bersama seluruh fasilitas pelayanan kesehatan (faskes) memperkuat kesiapsiagaan menghadapi tren peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan influenza di Kota Pahlawan. Peringatan ini disuarakan menyusul laporan lonjakan keluhan flu, batuk, hingga demam di tengah masyarakat akibat perubahan cuaca ekstrem.

Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya, dr. Hj. Zuhrotul Mar’ah, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mencermati laporan peningkatan kasus ISPA dari jajaran dinas kesehatan maupun aduan langsung dari masyarakat. Kendati influenza pada dasarnya tergolong penyakit yang dapat sembuh mandiri (self-limiting disease) seiring kuatnya daya tahan tubuh, kewaspadaan dini tetap menjadi kunci pencegahan agar faskes tidak kewalahan.

“Pelajaran berharga sudah kita dapatkan dari masa pandemi Covid-19 lalu. Ketika tubuh sudah mulai merasakan gejala meriang, ngilu di persendian, pilek, atau batuk, masyarakat seyogianya langsung mengenakan masker dan menjaga jarak agar tidak menularkan ke lingkungan sekitar,” ujar dr. Zuhrotul saat dihubungi Jatimmandiri.id via gawainya, Rabu (23/9/2026).

Pastikan Sarana Faskes dan Logistik Medis Siap: Jangan Sampai Krisis Masker Terulang

Sebagai langkah konkret penanganan, politisi yang juga berlatar belakang dokter ini mendesak Pemkot Surabaya melalui Dinkes untuk memastikan seluruh sarana dan prasarana penunjang medis di rumah sakit daerah maupun puskesmas berada dalam kondisi optimal. Kesiapan tersebut mencakup ketersediaan ruang rawat, alat bantu pernapasan seperti ventilator, hingga kecukupan stok obat-obatan esensial.

Baca Juga  Waspadai Fenomena Gunung Es Calon ART Disekap, DPRD Surabaya Desak Pemkot Gelar Legal Audit Total

Politisi PAN itu, mewanti-wanti agar ketersediaan alat pelindung diri dan logistik medis terus dipantau secara ketat demi mencegah kelangkaan mendadak apabila terjadi ledakan kasus (outbreak).

“Dinkes harus memastikan kesiapan sarana, prasarana, serta SDM medis kita. Jangan sampai kejadian krisis masker atau kehabisan obat seperti awal pandemi terulang kembali. Logistik medis, ketersediaan ruang isolasi maupun ruang perawatan, hingga ventilator harus dipastikan siap pakai jika sewaktu-waktu terjadi lonjakan pasien,” tegasnya.

Proteksi Kelompok Rentan: Gerakkan Kader Surabaya Hebat di Tingkat RT

Terkait perlindungan bagi kelompok berisiko tinggi seperti balita, anak-anak, lansia, serta penderita penyakit komorbid (seperti diabetes melitus, TBC, dan HIV), Zuhrotul menekankan pentingnya memaksimalkan fungsi Kader Surabaya Hebat (KSH).

Menurutnya, Surabaya memiliki keunggulan sistem sosial dengan keberadaan kader terlatih hingga unit terkecil di tingkat rukun tetangga.

Kader KSH diharapkan dapat berperan aktif sebagai ujung tombak pelacakan dan deteksi dini di lingkungan warga binaan masing-masing.

“Kita memiliki potensi besar melalui Kader Surabaya Hebat yang tersebar hingga ke tingkat RT. Kader-kader ini perlu terus diperkuat agar mampu membantu dan pemetaan terhadap warga rentan. Jika ditemukan balita atau lansia bergejala infeksi pernapasan akut, penanganan medis dapat segera diarahkan sebelum kondisinya memburuk dan memicu komplikasi,” urai Zuhrotul.

Edukasi Pola Hidup Bersih di Lingkungan Sekolah

Selain lingkungan permukiman, pengawasan ketat juga diarahkan ke institusi pendidikan formal, khususnya PAUD, SD, hingga SMP yang berada di bawah kewenangan Pemkot Surabaya. Ruang kelas dan lingkungan sekolah dinilai rawan menjadi klaster penularan batuk-pilek apabila siswa yang sakit tetap dipaksakan masuk tanpa protokol proteksi.

Zuhrotul menyarankan pihak sekolah bekerja sama dengan puskesmas setempat untuk rutin menyosialisasikan etika batuk, kebiasaan mencuci tangan memakai sabun secara benar, serta imbauan istirahat mandiri di rumah bagi peserta didik yang terindikasi sakit flu.

Baca Juga  Selaras dengan Kebijakan Presiden, DPRD Surabaya Puji Visi Eri Cahyadi Jadikan Apeksi Forum Solusi

Dorong Pola Hidup Sehat dan Pertimbangan Vaksinasi Influenza Berkala

Menutup keterangannya, anggota Komisi D ini mengimbau warga Surabaya untuk mempertebal daya tahan tubuh secara mandiri di tengah cuaca yang tak menentu. Pola istirahat teratur, konsumsi makanan dengan gizi seimbang, perbanyak cairan, serta menjaga kebersihan sanitasi adalah proteksi paling mendasar.

Di samping pencegahan konvensional, dr. Zuhrotul juga menyarankan masyarakat yang memiliki mobilitas tinggi atau berada dalam kelompok risiko untuk mempertimbangkan vaksinasi influenza secara berkala setiap tahun.

“Masyarakat juga bisa melakukan pencegahan tambahan dengan vaksinasi influenza secara berkala. Upaya preventif mandiri, menjaga asupan gizi, serta segera memeriksakan diri ke puskesmas jika gejala tidak kunjung reda akan sangat membantu memutus mata rantai penularan di Surabaya,” pungkas dr. Zuhrotul.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *