Surabaya, Jatim Mandiri
Kanwil DJKN Jatim menggandeng perbankan untuk mempercepat pengajuan lelang dalam mengejar target pokok lelang Rp5 triliun. Hingga 31 Agustus 2026, realisasi telah mencapai Rp2,6 triliun. Atas hal itu, kemarin (21/9) Kanwil DJKN Jatim mendorong enam KPKNL memperkuat koordinasi dengan perbankan.
Kepala Kanwil DJKN Jatim Arik Hariyono mengatakan realisasi pokok lelang meningkat dari Rp1,6 triliun menjadi Rp2,6 triliun. Namun, percepatan tetap diperlukan untuk mencapai target tahunan. “Waktu efektif proses lelang berkisar dua bulan, ditambah pengajuan lelang ulang yang memakan waktu. Jika melewati batas waktu tahun ini, potensi tersebut akan bergeser menjadi target tahun 2027,” ujar Arik.
Koordinasi tersebut melibatkan pimpinan Bank Mandiri, BRI, BNI, BTN, Bank Syariah Indonesia, dan Bank Jatim. Pertemuan berlangsung di Kanwil DJKN Jatim, Gedung Keuangan Negara Surabaya II.
Menurut Arik, salah satu tantangan proses lelang adalah tingginya beban kerja pejabat lelang. Kemampuan rata-rata secara nasional berada pada kisaran 250 hingga 300 permohonan per bulan.
Di Jatim, kinerja pejabat lelang dipacu hingga lebih dari 700 permohonan per bulan. Kondisi tersebut membutuhkan dukungan perbankan agar proses pengajuan dapat berlangsung lebih efektif.
DJKN juga mencatat permohonan lelang yang berakhir Tidak Ada Penawaran (TAP) maupun pembatalan di sejumlah KPKNL mencapai hingga 75 persen.
Perbankan didorong memetakan calon pembeli potensial sebelum mengajukan lelang. Langkah tersebut diharapkan meningkatkan peluang aset yang dilelang memperoleh penawaran.
Kelengkapan dokumen juga menjadi perhatian. Bank diminta melakukan pra-verifikasi berkas sebelum pengajuan agar proses pemeriksaan tidak terkendala persoalan administratif.
Sebagai tindak lanjut, enam KPKNL di Jatim, yakni Surabaya, Sidoarjo, Malang, Madiun, Pamekasan, dan Jember, diminta memperkuat koordinasi dengan pimpinan cabang perbankan di wilayah masing-masing.
Arik mengatakan kondisi ekonomi global dan nasional turut menjadi tantangan bagi daya beli masyarakat dan pasar lelang. Namun, DJKN Jatim tetap mengoptimalkan pencapaian target melalui koordinasi dengan perbankan. “Sinergi dan perencanaan matang dari pihak perbankan sangat menentukan,” tandas Arik. (mhe/ibn)












