Blitar, Jatimmandiri.id – Harapan untuk mengejar cita-cita kembali terbuka bagi dua anak putus sekolah di Kota Blitar.
M Kausar Rozak Saputra asal Kelurahan Pakunden dan Aprilia Ayu Agustin asal Kelurahan Tlumpu resmi melanjutkan pendidikan mereka di Sekolah Rakyat usai dijemput langsung oleh Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin, dari rumah masing-masing pada Sabtu (12/9/2026).
Kedua calon siswa tersebut resmi mulai menetap di asrama Sekolah Rakyat.
Selain mengenyam ilmu akademis, mereka akan beradaptasi dengan lingkungan baru, berkenalan dengan sesama rekan siswa, serta mengikuti beragam program pembinaan yang dirancang khusus di tempat tersebut.
Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin, menegaskan bahwa pengalaman tinggal di asrama merupakan bagian dari proses penting dalam menempa kemandirian anak.
Menurutnya, dibutuhkan keberanian besar dari sisi anak maupun orang tua untuk melampaui fase berpisah sementara waktu dari lingkungan keluarga.
“Ini merupakan proses. Suatu keberhasilan itu harus dimulai dari hal yang sangat sedih, susah, penuh perjuangan, yaitu berpisah dengan orang tuanya. Itu hal biasa. Anak-anak harus diajari bagaimana hidup mandiri, hidup jauh dari lingkungan dan keluarga,” ujar Syauqul, Minggu (12/9/2026).
Pria yang akrab disapa Mas Ibbin ini berharap proses pembelajaran di Sekolah Rakyat mampu mencetak generasi muda yang tangguh dan berkarakter.
Ia turut mengimbau masyarakat yang memenuhi kriteria agar tidak ragu memanfaatkan fasilitas ini, mengingat kuota yang tersedia masih terbuka dari total target 270 siswa.
“Saya kira sayang, fasilitasnya baik dan paling lengkap. Ini bisa mengantarkan anak-anak menjadi orang sukses. Saya kira orang tua harus mau merelakan anak-anaknya di sini,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Sosial Kota Blitar Eka Atiqah menerangkan bahwa Sekolah Rakyat mengusung sistem pembelajaran yang fleksibel melalui skema multi-entry dan multi-exit.
Sistem ini memungkinkan siswa untuk masuk kapan saja tanpa harus menunggu dimulainya tahun ajaran baru.
Menurut Eka, kasus Kausar dan Aprilia menjadi bukti nyata bagaimana sistem tersebut memfasilitasi anak-anak yang sempat terputus akses pendidikannya di tengah jalan.
“Kebetulan yang dua ini, di tengah perjalanan ada yang putus sekolah dan berminat masuk ke sini. Sehingga Pak Wali mengapresiasi anak putus sekolah yang mau sekolah di Sekolah Rakyat, kemudian dijemput,” jelas Eka.
Eka menambahkan bahwa jumlah peserta didik di Sekolah Rakyat terbilang dinamis. Berdasarkan pendataan terkini, tercatat sebanyak 192 siswa sedang menempuh pendidikan di sana.
“Jumlahnya dinamis ya, kemarin sempat diangka 200-an dan sekarang ini ada 192. Mereka berasal dari Blitar, Malang, dan Batu,” imbuhnya.












