Beritaꦧꦸꦢꦪ

Atlantis Bukan Tujuan Akhir

×

Atlantis Bukan Tujuan Akhir

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi editorial geolog Danny Hilman Natawidjaja dalam upaya menelusuri jejak kehidupan dan peradaban kuno di daratan Sundaland melalui penelitian multidisiplin.
Example 468x60

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno

Geolog Danny Hilman Natawidjaja mengajak publik melampaui perdebatan lokasi Atlantis dengan meneliti kemungkinan kehidupan dan peradaban kompleks di Sundaland melalui riset multidisiplin. Kajian itu penting karena kenaikan muka laut mengubah bentang tropis tersebut menjadi gugusan pulau di Asia Tenggara seusai zaman es.

———————–

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Bagi Danny, nama Atlantis tidak perlu menjadi tujuan akhir penelitian. Pertanyaan yang lebih penting adalah kemungkinan keberadaan manusia dan perkembangan peradaban di daratan Sundaland sebelum sebagian wilayahnya tenggelam. “Kalau di dunia akademis, Atlantis atau Sundaland, jadi tidak harus Atlantis,” kata Danny kepada Jatim Mandiri, Rabu (9/9).

Danny mengakui Atlantis masih dipandang sebagai kisah yang bersumber dari dialog Timaeus dan Critias karya Plato. Karena itu, setiap upaya menghubungkannya dengan suatu kawasan harus melalui pengujian ilmiah.

Berbeda dengan Atlantis, keberadaan Sundaland telah diterima sebagai fakta geologi. Kawasan tersebut dahulu berupa daratan luas yang menghubungkan Semenanjung Malaya, Sumatra, Jawa, dan Kalimantan ketika permukaan laut lebih rendah.

Penelitian dalam jurnal Communications Biology menunjukkan kenaikan muka laut sejak periode glasial terakhir, hingga mengurangi luas daratan Sundaland lebih dari separuh. Perubahan tersebut turut memengaruhi persebaran populasi manusia di Asia Tenggara.

Fakta itu membuktikan perubahan besar pada bentang alam Sundaland. Namun, keberadaan daratan yang kemudian tergenang tidak otomatis membuktikan adanya Atlantis ataupun peradaban maju sebagaimana digambarkan Plato.

Danny melihat sejumlah kemiripan antara uraian Plato dan kondisi alam Nusantara. Kemiripan tersebut meliputi iklim, musim, gunung, sungai, rawa, keragaman fauna, serta keberadaan gajah.

“Dari manuskrip Plato, kondisi geografis, flora, fauna, ciri tumbuhan, musim, dan adat istiadat memiliki kecocokan dengan Nusantara,” ujarnya.

Ia juga menyoroti uraian mengenai dua musim dan buah yang mudah rusak. Menurut Danny, ciri tersebut lebih dekat dengan kawasan tropis, dibandingkan sejumlah lokasi lain yang pernah dikaitkan dengan Atlantis.

Baca Juga  Atlantis Menunggu Pembuktian

Dalam penilaiannya, kecocokan bentang Sundaland dengan deskripsi Plato mencapai sekitar 95 persen. Namun, angka tersebut merupakan penilaian berdasarkan perbandingan ciri, bukan ukuran yang membuktikan keberadaan Atlantis.

“Dengan deskripsi yang cocok secara ilmiah, tidak bisa kemudian dikatakan Sundaland itu Atlantis. Harus melalui riset,” tegas Danny.

Pernyataan tersebut menempatkan batas jelas antara kemiripan, hipotesis, dan kesimpulan ilmiah. Sebuah hipotesis baru dapat diperkuat apabila ditemukan bukti fisik yang sesuai dengan lokasi, umur, dan konteksnya.

Bukti itu dapat berupa jejak permukiman, peralatan, bangunan, pengolahan bahan, atau sisa aktivitas manusia. Penanggalannya juga harus menunjukkan hubungan yang dapat diuji dengan masa perubahan lingkungan Sundaland.

Petunjuk penting mengenai kehidupan di daratan yang kini tenggelam pernah ditemukan di Selat Madura. Penelitian pada 2025 melaporkan ribuan fosil hewan dan dua fragmen tengkorak Homo erectus dari material dasar laut.

Material tersebut berasal dari lembah purba Sungai Solo di dasar Selat Madura, dekat Surabaya. Penelitian memperkirakan lapisan fosil itu berusia lebih dari 100 ribu tahun.

Temuan tersebut menjadi catatan pertama fosil hominin dari kawasan Sundaland yang telah tenggelam.

Bukti itu menunjukkan manusia purba pernah menempati bentang yang kini berada di bawah laut. Namun, temuan Homo erectus tidak membuktikan keberadaan masyarakat kompleks ataupun Atlantis. Usianya juga jauh lebih tua dibandingkan masa yang umumnya dikaitkan dengan cerita Plato.

Temuan itu tetap memperlihatkan bahwa dasar laut Indonesia menyimpan informasi penting mengenai perjalanan manusia. Penelitian Sundaland karena itu tetap bernilai, meskipun tidak pernah menghasilkan bukti tentang Atlantis.

Untuk menjawab pertanyaan lebih besar, geologi diperlukan guna memetakan daratan, sungai, dan garis pantai purba. Oseanografi dapat membantu mengenali perubahan dasar laut dan menentukan kawasan yang layak diperiksa.

Baca Juga  DLH Gresik Peringatkan 100 Perusahaan

Arkeologi bawah air kemudian diperlukan untuk menemukan serta membaca benda hasil aktivitas manusia. Paleoklimatologi membantu merekonstruksi lingkungan, sedangkan penanggalan laboratorium menentukan umur setiap temuan.

Penelitian genetika juga dapat menelusuri perpindahan dan hubungan antarpopulasi. Seluruh hasilnya harus dipertemukan agar suatu kesimpulan tidak hanya bertumpu pada kemiripan geografis atau cerita lama.

Naskah Plato tetap dapat digunakan sebagai sumber pertanyaan. Namun, teks tersebut tidak dapat menggantikan artefak, konteks lapisan tanah, hasil penanggalan, dan pengujian oleh peneliti dari berbagai disiplin. (*/ibn)

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Surabaya, Jatim Mandiri Toyota Alphard menabrak 11 sepeda motor dan dua mobil setelah diduga kehilangan kendali, menyebabkan lima orang terluka…

Berita

Madiun, Jatim Mandiri Sebanyak 30 siswa dan guru SDN 2 Kanigoro mendapat penanganan setelah mengalami pusing, mual, dan muntah usai…

Berita

Sidoarjo, Jatim Mandiri Gelombang susulan keracunan massal yang diduga bersumber dari Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali berlanjut di Kabupaten Sidoarjo….