Gaya Hidup

Review Film Hope Garapan Na Hong-jin: Spektakel Sci-Fi Liar yang Berani Tampil Beda

Penulis: Hari AgungEditor: Alif Bintang
×

Review Film Hope Garapan Na Hong-jin: Spektakel Sci-Fi Liar yang Berani Tampil Beda

Sebarkan artikel ini
Film Hope
(@cinema21)
Example 468x60

Intisari Berita:

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id
  • Sutradara Na Hong-jin resmi merilis film fiksi ilmiah invasi alien berjudul Hope di bioskop pada 9 September.
  • Karya terbaru sutradara The Wailing ini menampilkan deretan bintang papan atas, mulai dari Hwang Jung-min, Hoyeon, Zo In-sung, hingga Michael Fassbender dan Alicia Vikander.
  • Ulasan kritikus terbelah tajam karena babak awal dinilai brilian bak mahakarya monster, tetapi visual gerakan alien dan humor babak lanjutannya dinilai membingungkan sekaligus berpotensi jadi film *cult classic*.

Los Angeles, Jatimmandiri.id — Sutradara kenamaan asal Korea Selatan, Na Hong-jin, kembali menggebrak layar lebar lewat karya terbarunya bertajuk Hope yang resmi tayang di bioskop mulai 9 September. Sosok di balik mahakarya horor-misteri The Wailing (2016) ini kini banting setir ke ranah fiksi ilmiah (sci-fi) aksi berskala blockbuster musim panas, menyajikan invasi makhluk luar angkasa yang belum pernah disaksikan sebelumnya di ranah sinema modern.

Film berdurasi intens ini mempertemukan ansambel pemeran lintas negara yang luar biasa. Bintang papan atas Korea Selatan seperti Hwang Jung-min, Hoyeon (aktris serial Squid Game), dan Zo In-sung beradu peran dengan jajaran aktor internasional Hollywood, yakni Michael Fassbender, Alicia Vikander, Cameron Britton, serta Taylor Russell yang menghidupkan sosok entitas luar angkasa melalui teknologi motion-capture.

Sejak pemutaran perdananya di Festival Film Cannes, respons terhadap Hope terbelah tajam antara pujian atas keberanian teknis dan kritik terhadap narasi yang liar tak terkendali. Kritikus Gizmodo, Isaiah Colbert, menyoroti bahwa film ini menyajikan kualitas yang kontras: babak pertamanya menghadirkan sensasi sinematik monster terbaik, namun babak kedua dan ketiganya bertransformasi menjadi tontonan janggal yang justru mengarahkannya pada status *cult classic* masa depan.

Baca Juga  Ashanty Sebut Wisuda Bersama Keluarga Jadi Pengalaman Sekali Seumur Hidup

Teror Siang Bolong di Desa Hope Harbor: Dari Pembantaian Ternak ke Zona Perang

Mirip premis desa terisolasi dalam The Wailing, cerita Hope berpusat di sebuah perkampungan tenang bernama Hope Harbor yang mendadak terjerumus ke dalam kekacauan. Kepala polisi setempat, Bum-seok (Hwang Jung-min), awalnya hanya merespons laporan warga mengenai seekor banteng piaraan berharga yang tewas tercabik secara mengerikan oleh predator misterius.

Tanpa bala bantuan memadai akibat minimnya anggaran kepolisian, investigasi yang semula diduga serangan beruang liar berubah total menjadi malapetaka dahsyat. Bum-seok mendapati kotanya luluh lantak menjadi medan tempur dengan alien yang berkeliaran di area pemukiman warga.

Di babak pertama ini, Na Hong-jin dinilai berhasil memamerkan kepiawaian penyutradaraan film monster paling memukau sejak Jaws milik Steven Spielberg atau The Host karya Bong Joon Ho. Sutradara mengambil langkah ekstrem dengan merekam wujud teror di bawah terik sinar matahari siang bolong secara on-location menggunakan lensa sudut lebar (wide-angle lenses), alih-alih memanfaatkan studio kedap suara (soundstage) yang kerap membatasi persepsi ruang dan skala visual.

Dinamika horor dibangun perlahan lewat tanda-tanda kehadiran sang monster sebelum memperlihatkan wujud aslinya secara utuh. Ketika kekacauan meledak, bangunan pertokoan runtuh bak fosil terinjak dan mobil meledak menciptakan kepulan asap jamur, menghadirkan kejar-kejaran intens di mana Bum-seok bertahan menghadapi ketakutan dengan melontarkan lelucon situasional khas komedi kelam ala Jordan Peele atau Zach Cregger. Kehebohan aksi ini turut diperkuat oleh sepak terjang bawahannya yang berapi-api, Sung-ae (Hoyeon), serta pemburu lokal, Sung-ki (Zo In-sung).

Visual Gerakan Alien Tiga Meter dan Masalah Kecepatan Framerate

Kendati babak pembukanya diganjar pujian tinggi, titik balik kualitas film dinilai mengalami guncangan (rubber-banding) saat sosok makhluk asing tersebut mulai diperlihatkan secara bergerak penuh di babak kedua. Alien setinggi tiga meter yang diperankan secara motion-capture oleh Michael Fassbender, Alicia Vikander, Cameron Britton, dan Taylor Russell diakui memiliki desain visual yang memukau dan bernuansa etereal saat berdiam diri, namun tampak janggal (uncanny) begitu bergerak aktif di depan kamera.

Baca Juga  Usai Mediasi di Pengadilan, Clara Shinta Pilih Rujuk dengan Muhammad Alexander Assad

Adegan kejar-kejaran berkecepatan tinggi yang melibatkan kuda dan mobil melintasi jalan raya, hutan, dan pemukiman kota dinilai terganggu oleh eksekusi visual. Mobil dan laju kuda terasa tidak pernah mencapai kecepatan riilnya, sementara para alien tampak bergerak dengan lompatan kecepatan bingkai (framerate) yang berbeda drastis. Efek gerakan patah-patah (herky-jerky) ini kerap mereduksi imersi ketegangan penonton saat adegan aksi mencapai puncaknya.

Di sisi lain, intensitas lelucon pemecah ketegangan yang muncul berulang kali di babak akhir dinilai mengaburkan pesan tematik yang lebih mendalam mengenai jurang perbedaan perspektif yang berujung pada tragedi kemanusiaan. Kontras antara babak depan dan belakang membuat narasinya terasa ambigu—antara penghormatan (homage) atau parodi terhadap waralaba fiksi ilmiah klasik ala James Cameron dan J.J. Abrams.

Potensi Menjadi Cult Classic di Tengah Arus Sekuel Waralaba

Kendati meninggalkan tanda tanya besar dan membingungkan penonton saat kredit akhir bergulir, Hope tetap diapresiasi atas keberanian teknis dan orisinalitasnya di tengah industri film yang didominasi sekuel lawas (legacy sequels). Komitmen akting para pemeran Korea yang berpadu dengan performa tangkap gerak aktor Barat berhasil menjembatani kendala bahasa di layar secara efektif.

Gaya sinematografi yang berani mengambil risiko tinggi ini menjadikan Hope sebuah tontonan aksi sci-fi musim gugur yang unik dan sulit dilupakan. Kelemahan ritme dan keanehan visualnya justru dinilai menjadi ciri khas tersendiri yang berpotensi melambungkan film ini menjadi karya *cult classic* yang terus diperbincangkan para pencinta sinema lintas generasi.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Edu-Life & Sport

Jakarta, Jatimmandiri.id –  Kehidupan rumah tangga Chicco Jerikho dan Putri Marino kembali menjadi perhatian. Sama-sama berkarier sebagai aktor dan aktris,…