Jatim

Ringankan 19.837 Warga Pasuruan, Khofifah Salurkan 45 Tandon dan Siapkan Modifikasi Cuaca

Penulis: Hari AgungEditor: Alif Bintang
×

Ringankan 19.837 Warga Pasuruan, Khofifah Salurkan 45 Tandon dan Siapkan Modifikasi Cuaca

Sebarkan artikel ini
Khofifah
Gubernur Khofifah menyalurkan 45 tandon kapasitas 1.200 liter dan 500 jeriken di Pasuruan
Example 468x60

Intisari Berita:

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id
  • Gubernur Khofifah menyalurkan 45 tandon kapasitas 1.200 liter dan 500 jeriken guna mencukupi kebutuhan air bersih bagi 19.837 warga di Pasuruan.
  • Sebanyak 20 kabupaten di Jawa Timur telah menerima distribusi air bersih dari total 24 daerah yang menetapkan status darurat kekeringan.
  • Pemprov Jatim bersiap mengeksekusi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) memanfaatkan pergerakan awan potensial, sembari mengimbau warga menggelar salat istisqa.

Pasuruan, Jatimmandiri.id – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa turun langsung memastikan pasokan air bersih bagi masyarakat terdampak kemarau ekstrem di Kabupaten Pasuruan terpenuhi. Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) menyalurkan bantuan logistik penampungan air berupa 45 unit tandon dan 500 jeriken guna menopang kebutuhan dasar 19.837 jiwa atau 6.556 keluarga di empat kecamatan terdampak.

Penyerahan bantuan logistik serta armada air bersih tersebut dipusatkan di Kecamatan Lumbang, Kabupaten Pasuruan, pada Minggu (6/9).

“Bantuan Provinsi Jawa Timur untuk Kabupaten Pasuruan 45 unit tandon dengan kapasitas 1.200 liter dan 500 unit jeriken berkapasitas 15 liter,” ujar Gubernur Khofifah.

Adapun empat kecamatan yang menjadi sasaran utama intervensi Pemprov Jatim meliputi Lumbang, Pasrepan, Winongan, dan Kejayan. Berdasarkan rekapitulasi data, Kecamatan Lumbang mencatatkan populasi terdampak paling luas, yakni 8.966 jiwa (2.923 keluarga). Disusul Pasrepan dengan 7.675 jiwa (2.603 keluarga), Kejayan 1.743 jiwa (549 keluarga), serta Winongan sebanyak 1.443 jiwa (481 keluarga).

Kolaborasi Taktis Pemprov Jatim dan Pemkab Pasuruan

Khusus di Kecamatan Lumbang, penanganan krisis air turut diperkuat lewat sokongan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan. Dukungan armada meliputi distribusi air bersih berkapasitas 6.000 liter, tiga unit tandon 1.200 liter, 50 jeriken 15 liter, serta tiga unit truk tangki yang masing-masing berdaya tampung 6.000 liter.

Baca Juga  Atasi Kemarau Ekstrem, Khofifah Guyur 120 Rit Air Bersih ke Blitar untuk 38.270 Keluarga

Gubernur Khofifah menjelaskan bahwa langkah penanganan kekeringan ini merupakan wujud kerja bersama antara pemerintah provinsi dan kabupaten. Kehadiran Pemprov Jatim dirancang guna memperluas jangkauan layanan ke area-area yang sulit terjangkau.

“Dari 24 kabupaten kehadiran Pemprov Jatim mensubstitusi apa yang sudah dilakukan Bupati Pasuruan dengan meluaskan sapaan agar pemenuhan kebutuhan mudah dijangkau. Selain itu, membersamai dengan membagi sembako di setiap titik untuk membantu keterjangkauan masyarakat mengakses logistik,” jelas Khofifah.

Pembagian paket sembako di titik-titik krisis ditujukan untuk meringankan beban finansial rumah tangga, mengingat sebagian keluarga harus mengalihkan anggaran belanja harian demi membeli air bersih selama kemarau berlangsung.

Peta Darurat Kekeringan Jawa Timur: 20 Kabupaten Terima Pasokan Air

Hingga 5 September 2026, dropping air bersih telah terealisasi di 20 kabupaten se-Jawa Timur. Wilayah sasaran mencakup Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Probolinggo, Pasuruan, Jember, Lumajang, Pamekasan, Bangkalan, Malang, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, Ngawi, Mojokerto, Gresik, Lamongan, Bojonegoro, dan Pacitan.

Rangkaian penanganan darurat ini bersandar pada status siaga darurat kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dipayungi Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 100.3.3.1/327/013/2026 bertanggal 26 Mei 2026. Status siaga tersebut berlaku selama 133 hari untuk 38 kabupaten/kota.

Hingga saat ini, dari 38 daerah, sebanyak 24 kabupaten telah menerbitkan status keadaan darurat kekeringan di wilayahnya masing-masing, memicu penguatan koordinasi penanganan pasokan pangan dan air bersih secara masif.

Kesiapan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan Seruan Salat Istisqa

Selain mengandalkan jalur distribusi darat, Pemprov Jatim telah menyiapkan strategi sains atmosfer melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Skema penyemaian awan disiapkan seiring terdeteksinya bibit awan hujan yang mulai bergeser ke wilayah daratan Jawa Timur.

Baca Juga  Pemkab Blitar Kirim 200 Kg Sambel Pecel Khas Daerah untuk NTT

“Selain bantuan berupa dropping air dan tandon, Pemprov Jatim akan melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Awan sudah mulai masuk di beberapa titik. Jika potensial, maka akan dilakukan OMC agar ada hujan yang bisa diakses dari awan yang sedang bergerak,” papar Khofifah.

“Kami standby karena sangat mungkin di atas tanggal 6 September ada awan yang bergerak ke daratan untuk melakukan OMC dan berpotensi menjadi hujan,” imbuhnya menegaskan kesiapan tim teknis.

Ikhtiar Batin Memohon Turun Hujan

Di samping mitigasi teknologi, Khofifah mengetuk kesadaran spiritual para pemuka agama dan elemen warga di Pasuruan untuk melengkapi ikhtiar dengan doa bersama.

“Pasuruan termasuk kota maupun kabupaten religius, saya berharap seluruh masyarakat dan tokoh-tokoh agama melakukan salat istisqa untuk meminta hujan supaya ikhtiar kita dikabulkan Allah,” tuturnya.

Respons Warga dan Rencana Solusi Permanen Delapan Desa

Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo menyampaikan apresiasi mendalam atas intervensi langsung Pemprov Jatim. Rusdi membeberkan bahwa terdapat delapan desa di wilayahnya yang secara historis selalu menjadi langganan krisis air setiap kali musim kemarau menerpa.

Meskipun dropping tangki dan tandon saat ini menjadi instrumen penyelamat darurat, Pemkab Pasuruan terus merumuskan langkah penanganan jangka panjang agar siklus krisis tahunan dapat terputus tuntas.

“Sudah minta tolong Gubernur Jawa Timur insyaallah bantuan dari Provinsi supaya delapan desa tidak lagi kekurangan air di saat musim kemarau,” kata Rusdi Sutejo.

Kelegaan nyata dirasakan warga di tataran bawah. Fitria (35), warga Kecamatan Lumbang, menuturkan betapa beratnya beban pengeluaran warga saat pasokan air terhenti.

“Ketika tidak mendapat kiriman air, warga terpaksa membeli air bersih dengan harga sekitar Rp150 ribu,” ungkap Fitria.

Baca Juga  Cak Hadi DPRD Jatim Tampung Aspirasi Warga Pandantoyo Kediri

Kehadiran armada air bersih serta tandon penampungan ini langsung meringankan alokasi belanja rumah tangga mereka.

“Senang sekali dan sangat bermanfaat bagi kami untuk minum, masak dan kebutuhan lainnya. Sedangkan uang yang biasa untuk membeli air bisa digunakan lain seperti anak sekolah dan kebutuhan di rumah,” pungkas Fitria penuh rasa syukur.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *