Sidoarjo, Jatimmandiri.id – Penanganan dugaan pungutan liar (pungli) berkedok Sumbangan Komite Peningkatan Mutu (SKPM) senilai Rp400 ribu di SMAN 2 Sidoarjo kini memasuki babak baru yang kian memanas.
Meski manajemen sekolah dan komite sempat bergeming bahwa isu tersebut sekadar hoaks akibat miskomunikasi, kondisi di lapangan justru menunjukkan dinamika sebaliknya.
Upaya konfirmasi media diwarnai sikap tertutup dan cenderung defensif dari pihak sekolah, Selasa (1/9/2026).
Saat awak media menyambangi sekolah untuk meminta klarifikasi resmi dari bagian humas, barikade penolakan langsung mengadang di pintu gerbang.
Petugas keamanan (satpam) secara agresif menghalangi wartawan dengan dalih bahwa persoalan iuran tersebut sudah diketahui oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Pendidikan Jawa Timur.
Sikap intimidatif ini seolah sengaja dibangun untuk mengondisikan seakan permasalahan di internal SMAN 2 Sidoarjo telah tuntas.
Sikap tertutup di luar pintu gerbang tersebut berbanding terbalik dengan gejolak yang terjadi di internal sekolah.
Informasi yang dihimpun dari grup percakapan internal menyebutkan bahwa manajemen sekolah kini disibukkan dengan investigasi mandiri demi memburu oknum wali murid yang memviralkan video iuran tersebut ke media sosial.
Langkah berburu pembocor ini makin memicu spekulasi publik mengenai transparansi pengelolaan dana yang diklaim bersifat sukarela tersebut.
Kondisi kian pelit kala pihak UPT Dinas Pendidikan Jawa Timur wilayah Sidoarjo-Surabaya memberikan respons yang dinilai ambigu.
Kepala UPT Cabang Dinas Pendidikan Jatim Wilayah Sidoarjo-Surabaya, Kiswanto, melalui stafnya bernama Deddy, mengaku tidak mengetahui adanya penarikan dana berkedok sumbangan di SMAN 2 Sidoarjo.
Menurut Deddy, setiap kebijakan penarikan resmi idealnya diketahui UPT, namun pihaknya mengaku kesulitan mendeteksi jika hal itu bersifat internal sekolah.
“Kita tidak tahu kalau bersifat internal sekolah, karena tidak mungkin kita mengontrol satu per satu,” dalihnya saat dikonfirmasi.












