Sidoarjo, Jatimmandiri.id – Tingginya angka kehilangan air atau Non-Revenue Water (NRW) menjadi tantangan berat yang langsung menanti jajaran direksi baru Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Delta Tirta Sidoarjo.
DPRD Kabupaten Sidoarjo pun mewanti-wanti manajemen baru untuk segera memangkas tingkat kebocoran air bersih yang kini masih menyentuh angka fantastis. Yakni, 40 persen.
Angka tersebut dinilai sangat memprihatinkan karena berada jauh di atas ambang batas target nasional yang ditetapkan pada kisaran 25 hingga 29 persen.
Kondisi ini tidak hanya berdampak buruk pada efisiensi pelayanan air bersih bagi masyarakat, tetapi juga menggerus potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Sidoarjo.
Wakil Ketua Komisi B DPRD Sidoarjo dari Fraksi PDI Perjuangan, Kusumo Adi Nugroho, menegaskan bahwa penekanan angka kebocoran air harus menjadi prioritas mutlak serta indikator utama dalam mengukur capaian kinerja operasional direksi baru.
“Manajemen baru harus segera mengeksekusi langkah-langkah strategis, mulai dari perbaikan masif pada infrastruktur pipa tua hingga modernisasi sistem distribusi digital guna menekan risiko kendala teknis di lapangan,” kata Kusumo, Selasa (1/9/2026).
Pengawasan ketat terhadap kinerja BUMD air bersih ini dipimpin langsung oleh Ketua Komisi B DPRD Sidoarjo Bambang Pujianto.
Legislatif ingin memastikan jajaran pimpinan yang baru dilantik bekerja cepat dan terukur.
Berdasarkan hasil seleksi resmi Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, tampuk kepemimpinan Perumda Delta Tirta untuk periode lima tahun ke depan kini dipercayakan kepada Luhur Pambudi Mulyono sebagai Direktur Utama.
Dalam menjalankan roda perusahaan, Luhur didukung oleh Widyo Nugroho selaku Direktur Operasional dan Rivelino Rizky Muchtar selaku Direktur Pelayanan.
Di sisi lain, guna memperkuat transparansi publik dan mempercepat penanganan aduan pelanggan, Perumda Delta Tirta mengoptimalkan fungsi komunikasi perusahaan di bawah koordinasi Asisten Manajer Humas dan Protokol.












