Jatim

Warga Sembung Bongkar Makam Kuno, Diduga Peninggalan Abad ke-16

×

Warga Sembung Bongkar Makam Kuno, Diduga Peninggalan Abad ke-16

Sebarkan artikel ini
Berdasarkan hasil kesepakatan, makam tersebut akan dipindahkan ke kompleks pemakaman di Kelurahan Botoran.
Example 468x60

Tulungagung, Jatimmandiri.id – Sebuah makam kuno di Kelurahan Sembung, Kecamatan/Kabupaten Tulungagung, dibongkar warga untuk dipindahkan ke kompleks pemakaman di Kelurahan Botoran.

Makam tersebut diduga merupakan peninggalan masa peralihan dari periode Hindu-Buddha menuju awal penyebaran Islam sekitar abad ke-16.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Pemilik tanah, Imam Mustajib, mengatakan makam kuno itu pertama kali diketahui sekitar 1995.

Saat itu, sebuah pohon trembesi yang berada di pekarangan rumahnya ditebang. Setelah pohon tumbang, warga menemukan struktur makam di bawahnya.

“Sejak ditemukan sampai sekarang, tidak ada warga yang mengetahui secara pasti siapa yang dimakamkan di sini,” kata Imam Mustajib, Kamis (27/8/2026).

Pembongkaran dilakukan setelah melalui musyawarah lintas sektor.

Berdasarkan hasil kesepakatan, makam tersebut akan dipindahkan ke kompleks pemakaman di Kelurahan Botoran.

Dalam proses pembongkaran, penggalian telah mencapai kedalaman sekitar tiga meter.

Namun, hingga saat ini warga belum menemukan jasad yang diperkirakan berada di dalam makam tersebut.

Mengingat usia makam yang diperkirakan telah mencapai ratusan tahun, Imam menyebut terdapat kemungkinan jasad di dalamnya sudah mengalami pelapukan dan tidak lagi dapat ditemukan.

“Ada tiga kemungkinan, jasad ditemukan secara utuh, tinggal tulang-belulang, atau jasadnya sudah hilang atau muksa,” ujarnya.

Sementara itu, Anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Tulungagung, Haryadi, mengaku telah melakukan penelitian pribadi terhadap makam tersebut.

Dari hasil pengamatan, makam memiliki nisan dengan gaya Tembayat atau Bayat.

Menurutnya, karakteristik nisan semacam itu umumnya ditemukan pada kompleks pemakaman yang berasal dari masa peralihan Hindu-Buddha menuju periode awal perkembangan Islam.

Berdasarkan bentuk dan karakteristik materialnya, Haryadi memperkirakan makam tersebut berasal dari sekitar abad ke-16 hingga abad ke-17 Masehi.

“Bentuk nisannya menyerupai kelir atau gunungan, dengan ciri khas bagian atas melebar dan meruncing membentuk siluet. Bentuk ini menyerupai gunungan dalam pewayangan atau bentuk kurawal makara kuno,” jelasnya.

Baca Juga  Kapolda Jatim Tegaskan Tak Ada Ancaman Kerusuhan, Warga Diminta Tak Mudah Percaya Hoaks

Selain bentuknya, material nisan juga menjadi salah satu petunjuk mengenai usia dan latar budaya makam tersebut.

Nisan dipahat langsung dari batu andesit dengan tekstur guratan kasar yang menunjukkan bekas pahatan secara manual.

Bagian bawah nisan juga diduga bertumpu pada umpak batu berbentuk persegi dan berundak.

Menurut Haryadi, konstruksi tersebut memiliki kemiripan dengan gaya arsitektur lapik arca maupun bangunan suci pada masa pra-Islam.

“Nisan dengan langgam seperti ini merekam jejak akulturasi budaya yang kuat antara seni ukir masa klasik Majapahit-Demak dengan tradisi makam kasepuhan Islam,” pungkasnya.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Surabaya, Jatim Mandiri Perwakilan warga dan sekolah di Kaliwaron, Surabaya, berencana mengajukan rapat dengar pendapat kepada DPRD Kota Surabaya untuk…