Beritaꦧꦸꦢꦪ

Berlomba Melawan Waktu di Atlantis

×

Berlomba Melawan Waktu di Atlantis

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno

Atlantis berada di puncak kejayaan ketika perubahan alam perlahan mengancam kehidupan masyarakatnya. Melalui Atlantis Rise of the Java Sea, AI META Group merancang pengalaman pemain menyaksikan peradaban menghadapi bencana, konflik kepentingan, dan waktu.

—————————

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Pada mulanya, kehidupan masih berjalan normal. Pelabuhan ramai, kapal membawa barang dari berbagai wilayah, pasar dipenuhi masyarakat, pusat pengetahuan berfungsi, dan para pemimpin masih memegang kekuasaan.

Teknologi terus berkembang. Masyarakat pun percaya peradaban mereka akan bertahan. Namun, keyakinan itu mulai goyah ketika alam memperlihatkan perubahan. Cuaca berubah, air mulai menjadi ancaman, dan bencana terjadi. Ketegangan sosial kemudian meningkat ketika peradaban yang merasa kuat harus menghadapi sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan.

Konflik inilah yang menjadi salah satu kekuatan cerita dalam game garapan PT Meta Artificial Technology atau AI META Group tersebut. Ancaman tidak hanya datang dari kerajaan lain maupun seorang tokoh antagonis.

Manusia harus berhadapan dengan alam. Kekuasaan berhadapan dengan kepentingan masyarakat, kemajuan dengan keserakahan, serta teknologi dengan kebijaksanaan.

Di tengah perubahan itu, terdapat kelompok yang ingin mempertahankan keadaan. Di sisi lain, ada pihak yang mulai melihat datangnya ancaman. Perbedaan sikap tersebut menempatkan sebuah peradaban dalam perlombaan melawan waktu.

Direktur PT Meta Artificial Technology, Iwan Setiady, ST, mengatakan Atlantis dipilih karena kisahnya berada di antara misteri, ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan kreativitas. “Atlantis adalah salah satu misteri peradaban terbesar dunia. Sampai hari ini keberadaannya masih menjadi perdebatan. Tetapi justru di situlah daya tariknya,” kata Iwan.

Karena itu, Atlantis dalam game itu tidak diposisikan sebagai rekonstruksi sejarah yang seluruh detailnya diklaim sebagai fakta. Dunia yang dikembangkan merupakan interpretasi kreatif berdasarkan riset dan berbagai hipotesis.

Baca Juga  Petani Dilatih Kendalikan Penyakit

Salah satu gagasan yang dieksplorasi ialah kemungkinan keterkaitan Atlantis dengan Sundaland atau Paparan Sunda. Kawasan daratan purba Asia Tenggara itu mempunyai konfigurasi berbeda sebelum kenaikan permukaan laut.

Hipotesis tersebut menjadi pijakan kreatif untuk membangun peradaban tropis-maritim yang mempunyai kedekatan geografis dengan dunia kepulauan. Namun, konsep itu tidak dimaksudkan untuk memindahkan kebudayaan Indonesia modern ke masa Atlantis.

Dalam dunia tersebut, laut tidak ditempatkan sebagai pemisah. Laut justru menjadi penghubung antarkawasan, sedangkan pelabuhan dan perdagangan berperan penting dalam kehidupan masyarakat.

Air, hutan, gunung, sungai, pertanian, permukiman, sumber daya alam, dan jalur perdagangan disusun sebagai bagian yang saling berkaitan. Hubungan itu pula yang membuat perubahan alam berpotensi memengaruhi kehidupan sebuah peradaban secara luas.

Pemain tidak langsung memasuki Atlantis setelah menjadi reruntuhan. Mereka datang ketika peradaban itu masih hidup, menjelajahi wilayahnya, berinteraksi dengan masyarakat, menemukan artefak, mempelajari pengetahuan, dan menghadapi berbagai konflik.

Pendekatan tersebut diharapkan membangun hubungan emosional antara pemain dan dunia yang dijelajahinya. Pemain lebih dahulu mengenal kehidupan Atlantis sebelum menyaksikan peradaban itu bergerak menuju titik penentuan.

Dengan cara itu, kehancuran tidak hanya ditampilkan sebagai perubahan latar permainan. Kota, pelabuhan, pusat pengetahuan, dan masyarakat yang terancam telah lebih dahulu menjadi bagian dari perjalanan pemain.

Rasa ingin tahu terhadap reruntuhan kemudian berkembang menjadi rasa kehilangan terhadap sebuah kehidupan yang pernah dikenal. Pemain tidak sekadar melihat hasil akhir kehancuran, tetapi mengikuti proses ketika ancaman perlahan datang.

Menurut Iwan, game tersebut tidak dibuat untuk mengarahkan pemain agar menerima satu teori mengenai keberadaan maupun lokasi Atlantis. “Game ini tidak dibangun untuk memaksa orang mempercayai satu teori sejarah. Yang ingin dibangun adalah pengalaman yang membuat orang bertanya, mencari tahu, membaca, membandingkan, dan melihat bahwa Indonesia memiliki sejarah geografis dan kebudayaan yang sangat luar biasa,” ujarnya.

Baca Juga  Nanik Mundur, Sudaryono Resmi Kepala BGN

Atlantis pun dirancang lebih luas daripada perjalanan dari satu level menuju level berikutnya. Game tersebut membangun sebuah dunia yang mempunyai masyarakat, ekonomi, budaya, teknologi, kekuasaan, kepentingan, konflik, dan alam.

Di tengah seluruh unsur tersebut, muncul pertanyaan yang menjadi inti pergulatan peradaban: apakah kemajuan cukup untuk menghadapi perubahan alam?

Pertanyaan itu tidak dijawab dengan klaim sejarah. Namun, melalui perjalanan sebuah dunia digital, pemain diajak melihat bahwa peradaban yang kuat sekalipun dapat berada dalam bahaya ketika alam berubah, kepentingan bertabrakan, dan waktu terus berjalan. (*/ibn)

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Presiden Targetkan Tuntas Dua Pekan Surabaya, Jatim Mandiri Kebakaran kawasan Tahura Gunung Arjuno-Welirang, Jatim, belum padam hingga Selasa (25/8).  Padahal…

Berita

Surabaya, Jatim Mandiri Dinas Pendidikan Jatim menyiapkan gedung SMA dan SMK negeri sebagai tempat transit peserta Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama…

Berita

Surabaya, Jatim Mandiri Pemprov Jatim dijadwalkan mengirim tambahan lima ton beras hari ini (26/8) untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak gempa…