Jatim

Gubernur Khofifah Apresiasi 13 Sanggar Topeng Malangan, Dorong Regenerasi Seniman

×

Gubernur Khofifah Apresiasi 13 Sanggar Topeng Malangan, Dorong Regenerasi Seniman

Sebarkan artikel ini
Gubernur Khofifah memberikan apresiasi kepada 13 sanggar Topeng Malangan dan mendorong regenerasi seniman serta penguatan ekonomi kreatif.
Example 468x60

Malang, Jatimmandiri.id- Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam menjaga keberlanjutan kesenian tradisional sekaligus memperkuat regenerasi pelaku budaya.

Salah satu kesenian yang mendapat perhatian adalah Topeng Malangan, yang menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Malang dan Jawa Timur.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Komitmen tersebut disampaikan Khofifah saat menghadiri acara Apresiasi Pelestari Kesenian Asli Jawa Timur di Taman Krida Budaya Jawa Timur, Kota Malang, Kamis (20/8/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Khofifah memberikan dukungan kepada 13 sanggar tari Topeng Malangan. Bantuan diberikan sesuai kebutuhan masing-masing sanggar sebagai bentuk apresiasi sekaligus upaya memperkuat keberlangsungan kesenian tradisional.

Sanggar Tari Setyotomo menerima bantuan satu set gamelan, sedangkan 12 sanggar lainnya masing-masing memperoleh uang pembinaan sebesar Rp5 juta.

Khofifah mengatakan, bantuan tersebut merupakan bentuk penghargaan Pemprov Jatim kepada para sesepuh, maestro, seniman, budayawan, sanggar, komunitas, serta seluruh pihak yang selama ini konsisten menjaga, mengembangkan, dan mewariskan Topeng Malangan kepada generasi berikutnya.

“Terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada para pelestari Topeng Malangan yang terus menjaga dan mewariskan kesenian ini. Apa yang panjenengan lakukan ini adalah menjaga identitas dan warisan budaya Jawa Timur untuk generasi yang akan datang,” ujar Khofifah.

Topeng Malangan Bukan Sekadar Seni Pertunjukan

Khofifah menilai Topeng Malangan tidak sekadar menjadi seni pertunjukan. Kesenian tersebut merupakan bagian dari warisan pengetahuan dan identitas masyarakat yang memiliki keterkaitan erat dengan Cerita Panji.

Di dalam Topeng Malangan terdapat sejarah, simbol, karakter, filosofi, nilai kehidupan, serta kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

“Topeng Malangan bukan sekadar topeng, gerak tari, iringan musik, maupun lakon pertunjukan. Di dalamnya tersimpan sejarah, pengetahuan, simbol, karakter, nilai kehidupan, serta kearifan masyarakat Malang yang diwariskan lintas generasi,” katanya.

Baca Juga  Libels Voice SMAN 15 Surabaya Sabet Dua Emas di Taiwan

Menurut Khofifah, pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mempertahankan bentuk pertunjukan. Pengetahuan, keterampilan, nilai, filosofi, dan kemampuan berkesenian yang menjadi bagian dari Topeng Malangan juga harus terus ditransfer kepada generasi muda.

Karena itu, regenerasi menjadi salah satu kunci utama agar kesenian tradisional tidak hanya tetap tampil di atas panggung, tetapi juga memiliki penerus yang mampu menjaga sekaligus mengembangkannya sesuai perkembangan zaman.

“Kuncinya adalah regenerasi. Jangan sampai sebuah kesenian memiliki panggung, tetapi kehilangan penerus. Keberhasilan pelestarian budaya tidak hanya diukur dari banyaknya pertunjukan, tetapi juga dari lahirnya generasi baru yang mampu meneruskannya,” tegasnya.

Dorong Budaya Terhubung dengan Ekonomi Kreatif

Khofifah juga mengapresiasi berbagai upaya pelestarian yang telah dilakukan seniman dan pemerintah. Salah satunya melalui Program Seni Waris yang memberikan ruang bagi Topeng Malangan untuk terus dipertunjukkan, dipelajari, dan dikenalkan kepada masyarakat secara lebih luas.

Khusus bantuan seperangkat gamelan kepada Sanggar Tari Setyotomo, Khofifah berharap fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran sekaligus media pewarisan budaya.

“Semoga gamelan ini tidak hanya menjadi alat musik, tetapi menjadi bagian dari proses pewarisan. Dari sini anak-anak muda belajar, berlatih, berkarya, dan pada akhirnya menjadi generasi yang meneruskan Topeng Malangan,” tuturnya.

Menurutnya, penguatan seni dan budaya juga harus dilakukan melalui pembangunan ekosistem yang lebih luas. Para seniman dan pelaku budaya perlu mendapatkan ruang untuk berkarya, meningkatkan kapasitas, serta memperoleh manfaat ekonomi dari aktivitas kebudayaan.

Khofifah menekankan pentingnya keseimbangan antara pelestarian, regenerasi, penguatan kapasitas pelaku budaya, dan pembukaan akses ekonomi.

Pengembangan seni dan budaya, lanjutnya, perlu dihubungkan dengan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif sehingga mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.

Baca Juga  Silaturahmi ke Ponpes, Kapolres Ajak Jaga Kamtibmas

“Budayanya lestari, senimannya berdaya, generasi mudanya bangga, ekonomi kreatifnya tumbuh, dan masyarakatnya memperoleh manfaat,” ujarnya.

Selain memberikan bantuan kepada sanggar, Khofifah juga menyerahkan bantuan modal sebesar Rp5 juta kepada Paguyuban Pedagang Kaki Lima (PKL) Taman Krida Budaya Malang.

Bantuan tersebut diharapkan dapat mendukung keberlangsungan aktivitas ekonomi masyarakat yang tumbuh di sekitar ruang kebudayaan.

Keberadaan pelaku UMKM dan PKL di kawasan Taman Krida Budaya dinilai dapat menjadi bagian dari ekosistem yang saling menguatkan dengan kegiatan seni dan budaya. Semakin hidup ruang kebudayaan, semakin besar pula peluang tumbuhnya aktivitas ekonomi masyarakat di sekitarnya.

Jumlah Sanggar dan Seniman Topeng Malangan Meningkat

Gubernur Khofifah menegaskan, penguatan kebudayaan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, seniman, komunitas, lembaga pendidikan, pelaku usaha, hingga masyarakat.

Kolaborasi tersebut diperlukan agar kesenian tradisional tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang dan tetap relevan bagi generasi muda.

Ia berharap apresiasi kepada para sanggar dan pelaku budaya dapat menjadi penyemangat untuk terus berkarya sekaligus memperluas proses pewarisan pengetahuan dan keterampilan seni kepada generasi berikutnya.

“Teruslah berkarya dan mewariskan ilmu kepada generasi berikutnya. Sebab apa yang panjenengan jaga hari ini adalah warisan bagi anak cucu Jawa Timur di masa mendatang,” pesannya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur Evy Afianasari menyampaikan bahwa ekosistem Topeng Malangan menunjukkan perkembangan positif.

Pada 2025 tercatat terdapat 11 sanggar tari khusus Topeng Malangan. Jumlah tersebut meningkat menjadi 15 sanggar pada 2026.

Pertumbuhan juga terlihat dari jumlah seniman aktif. Pada 2025 tercatat sebanyak 369 seniman aktif. Sementara hingga Agustus 2026 jumlahnya telah mencapai 589 seniman.

“Pertumbuhan jumlah sanggar dan seniman aktif menunjukkan bahwa ekosistem Topeng Malangan terus berkembang. Ini menjadi modal penting untuk memperkuat regenerasi sekaligus memastikan kesenian ini tetap hidup dan dekat dengan generasi muda,” kata Evy.

Baca Juga  Alun-Alun Nganjuk Membiru, Ratusan Buruh PT Jaya Kertas Turun Jalan Tuntut Hak Ketenagakerjaan

Capaian tersebut, lanjutnya, menjadi dorongan untuk terus memperluas ruang pertunjukan, pembinaan, pendidikan, dan kolaborasi.

Dengan demikian, semakin banyak generasi muda diharapkan mengenal, mencintai, dan terlibat langsung dalam pelestarian Topeng Malangan sebagai salah satu kekayaan budaya Jawa Timur.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *