Intisari Berita:
- Pemprov dan warga Jatim kirim 64,4 ton bantuan ke Labuan Bajo via Tanjung Perak dengan target dukungan mencapai 100 ton.
- Bantuan kesehatan diperkuat pasokan obat terukur, penyiagaan 14 RS Jatim, serta keberangkatan tim dokter lanjutan pada 22 Agustus.
- Penanganan bencana mengedepankan prinsip ‘tidak membebani daerah terdampak’ dengan opsi posko, dapur umum, hingga trauma healing.
Surabaya, Jatimmandiri.id — Pemerintah Provinsi (Pemprov) bersama masyarakat Jawa Timur kembali memberangkatkan bantuan kemanusiaan logistik dan kesehatan sebanyak 64,4 ton untuk korban terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Bantuan tersebut diberangkatkan melalui Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Kamis (20/8/2026) malam, menggunakan kapal Dharma Rucitra VII menuju Labuan Bajo.
Muatan bantuan yang dikirimkan meliputi obat-obatan esensial, bahan pangan atau permakanan, perlengkapan mandi, serta peralatan kebersihan (hygiene kit). Dukungan ini menjadi wujud solidaritas antardaerah sekaligus tindak lanjut penanganan gempa yang terus diperluas dengan target total bantuan menembus 100 ton.
Solidaritas Antardaerah: Target Bantuan Ditambah hingga 100 Ton
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa pengiriman bantuan kemanusiaan ini merupakan implementasi nyata semangat persaudaraan dan kegotongroyongan antarprovinsi di Indonesia.
“Insya Allah hari ini yang sudah terkumpul sekitar 64,4 ton. Target sampai 100 ton yang bisa kita support. Persaudaraan dan kegotongroyongan harus dibangun semaksimal mungkin,” ujar Khofifah dalam keterangan tertulisnya, Jumat (21/8/2026).
Khofifah menjelaskan, tahapan respons Pemprov Jatim terhadap bencana gempa NTT telah dilakukan secara bertahap dan terstruktur sejak awal kejadian:
- 16 Agustus 2026: BPBD Jawa Timur menerjunkan tujuh personel tahap awal guna memperkuat proses evakuasi dan penanganan darurat di lapangan.
- 17 Agustus 2026: Selepas apel renungan suci, diberangkatkan 8,4 ton bantuan logistik menuju Ende sebagai wilayah terdampak berat yang terkoneksi dengan Labuan Bajo.
- 17 Agustus 2026: Pemberangkatan tim tenaga medis, paramedis, dan obat-obatan yang langsung bergabung di rumah sakit setempat.
- 20 Agustus 2026: Pengiriman laut 64,4 ton logistik, obat-obatan, dan paket kebersihan via KM Dharma Rucitra VII menuju Labuan Bajo.
- 22 Agustus 2026: Rencana pemberangkatan tambahan personel dokter spesialis dan tenaga kesehatan lanjutan.
Perkuat Sektor Medis: 14 Rumah Sakit Pemprov Jatim Disiagakan
Dukungan penanganan darurat kali ini difokuskan pada penguatan sektor kesehatan berbasis identifikasi kebutuhan riil. Obat-obatan yang dikirimkan telah dipetakan secara akurat oleh tim dokter Jatim yang lebih dulu bergabung di rumah sakit darurat di bawah koordinasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
“Dari mereka dilakukan identifikasi apa saja kebutuhan obat. Sekarang ini kita bawa obat-obat cukup banyak sesuai kebutuhan yang dimaksud,” jelas Khofifah.
Gubernur perempuan pertama di Jatim tersebut memastikan sebanyak 14 rumah sakit di bawah naungan Pemprov Jatim berada dalam status siaga untuk mengirimkan suplai dokter, perawat, maupun paramedis tambahan jika situasi lapangan membutuhkan eskalasi.
“Mereka sudah support obat-obatan sesuai dengan yang diidentifikasi oleh dokter yang sudah lebih dulu sampai sana. Jadi kita akan melihat kebutuhannya, katakan kalau dokter spesialis apa, kalau perawat berapa orang,” ungkapnya.
Prinsip Dukungan Cermat: Jangan Bebani Wilayah Terdampak
Dalam tata kelola kedaruratan, Khofifah menekankan prinsip kehati-hatian agar pengiriman bantuan, pembentukan posko, dan pengerahan relawan tidak menjadi beban tambahan bagi pemerintah daerah setempat yang tengah berfokus melakukan penanganan.
“Kita tidak boleh menambah beban daerah yang pada dasarnya sudah memiliki tim yang sudah eksis sehingga kita sebetulnya bisa memberikan penguatan. Tetapi opsi untuk kemungkinan kita menyiapkan posko itu sudah kita bahas,” tegasnya.
Selain mengkaji kesiapan dapur umum lapangan bersama Dinas Sosial dan BPBD Jatim, Pemprov Jatim juga menyiapkan tim khusus pemulihan psikologis (trauma healing dan trauma konseling) untuk menangani korban selamat yang mengalami tekanan mental pascabencana.
“Dinas Sosial kita siapkan untuk trauma healing yang mestinya memang mendapatkan penguatan ketika terjadi bencana alam. Pemulihan mental dan rasa aman masyarakat juga menjadi bagian penting agar warga dapat kembali bangkit,” tuturnya.
Di akhir keterangannya, Khofifah menyampaikan rasa duka mendalam bagi para korban gempa di NTT.
“Semoga yang tertimpa musibah, yang meninggal semua dapat tempat yang mulia di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa. Kemudian yang sedang dirawat di rumah sakit segera sembuh dan yang lain mudah-mudahan tetap semangat melanjutkan kehidupan mereka bersama keluarga,” pungkas Khofifah.












