Edu-Life & Sport

Tugu Wiraraja Mojokerto Satukan Jejak Majapahit dan Kemerdekaan

×

Tugu Wiraraja Mojokerto Satukan Jejak Majapahit dan Kemerdekaan

Sebarkan artikel ini
Tugu Wiraraja yang menjadi kebanggaan warga Mojokerto.
Example 468x60

Mojokerto, Jatimmandiri.id – Di tengah Alun-alun Kota Mojokerto berdiri Tugu Wiraraja setinggi 45 meter. Bangunan ini bukan sekadar penanda baru kawasan pusat kota, tetapi juga menjadi ruang yang menyatukan sejarah Majapahit dengan perjuangan mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia.

Ketua Bidang Kajian dan Pengembangan Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto, Ayuhanafiq (Yuhan), mengatakan setiap bagian tugu dirancang membawa pesan sejarah. Bahkan, angka yang digunakan dalam struktur bangunan merujuk pada momentum Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Bagian dasar tugu dilengkapi kolam dengan delapan sudut yang terinspirasi dari Surya Majapahit. Sementara tangganya terdiri atas 17 bilah.

“Angka-angka tersebut menunjukkan tanggal, bulan dan tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, yaitu 17 Agustus 1945,” jelas Yuhan kepada detikJatim, Rabu (19/8/2026).

Di sisi lain, bentuk Tugu Wiraraja mengambil inspirasi dari bangunan suci era Majapahit. Desainnya mengadopsi lingga sebagai simbol Dewa Siwa dan yoni sebagai simbol Dewi Parwati yang secara luas dimaknai sebagai lambang kesuburan.

Konsep lingga dan yoni juga pernah digunakan Presiden Soekarno ketika merancang Tugu Monas di Jakarta. Namun, Tugu Wiraraja dibuat dengan bentuk pilinan sehingga memiliki karakter tersendiri. Bentuk tubuh tugu tersebut menggambarkan perjalanan kehidupan yang dinamis dengan cita-cita yang kuat.

Pada bagian atas terdapat bunga teratai atau padma. Padma yang mekar dimaknai sebagai pencapaian spiritual sekaligus hubungan vertikal manusia dengan Sang Pencipta. Sementara padma dalam posisi kuncup mengarah ke atas melambangkan kekuatan rohaniah.

Pesan sejarah juga diperkuat melalui empat bidang relief di ruangan bagian kaki tugu. Masing-masing relief mengangkat potongan perjalanan panjang Mojokerto, mulai dari era Majapahit hingga pembangunan kota pada masa kini.

Relief di sisi timur mengisahkan penobatan Dyah Gitarja sebagai raja perempuan pertama Majapahit pada 1329 Masehi. Ia dinobatkan dengan gelar Abhiseka Tribhuana Wijaya Tungga Dewi.

Baca Juga  Museum Tugu Pahlawan Surabaya Jadi Destinasi Edukasi Favorit, Sajikan Sejarah dengan Sentuhan Teknologi

Sisi utara menggambarkan perpindahan pusat pemerintahan dari Kauman Kuthobedah di Sooko ke Magersari, Kota Mojokerto, pada 1838. Lokasi pusat pemerintahan tersebut kini berada di kawasan Kantor Pemkab Mojokerto.

Sementara relief sisi barat mengangkat kisah pertemuan dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan pada 1945 di Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto dan wilayah sekitarnya. Dalam rangkaian pertempuran tersebut, salah satu putra terbaik Kota Mojokerto, KH Nawawi, gugur.

Adapun relief di sisi selatan menggambarkan pembangunan Kota Mojokerto dengan karakter yang tetap menonjolkan sejarah dan kebudayaan daerah.

“Pemerintah Kota Mojokerto ingin menjadikan alun-alun sebagai kawasan yang lebih bermakna dengan menonjolkan sisi Kota Mojokerto yang identik akan sejarah Kerajaan Majapahit,” ujar Yuhan.

Jejak Sejarah Alun-alun Mojokerto

Keberadaan Tugu Wiraraja tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang Alun-alun Kota Mojokerto. Kawasan tersebut ternyata telah berdiri jauh sebelum Indonesia merdeka, yakni sejak 1838.

Pembangunan alun-alun dilakukan bersamaan dengan rumah Bupati Mojokerto yang berada di sisi timurnya. Di bagian selatan dahulu terdapat kampung Pecinan. Sisi barat merupakan Masjid Agung Kauman yang kini dikenal sebagai Masjid Agung Al Fattah.

Sementara di sebelah utara terdapat kantor asisten residen Belanda yang saat ini menjadi Markas Korem 082/CPYJ.

Setelah Indonesia merdeka, posisi Mojokerto kembali penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Pada masa itu, wilayah Kota Mojokerto menjadi salah satu garis pertahanan para pejuang.

Untuk mengenang perjuangan tersebut, pemerintah kemudian membangun Tugu Proklamasi di tengah alun-alun. Tugu itu diresmikan pada 5 Desember 1949 dan dilengkapi relief naskah Proklamasi.

“Peresmian Tugu Proklamasi bersamaan dengan penyerahan kedaulatan dari tentara Belanda kepada pemerintah RIS,” ungkap Yuhan.

Tugu Proklamasi kemudian direnovasi pada 1981, ketika Sami’oedin menjabat Wali Kota Mojokerto. Renovasi tersebut ditujukan untuk semakin memperkuat citra Mojokerto sebagai salah satu kota perjuangan.

Baca Juga  Skuad Timnas Indonesia FIFA Matchday Juni 2026 Diumumkan, Jay Idzes Absen karena Cedera

Namun, dalam revitalisasi kawasan alun-alun, Pemkot Mojokerto membongkar Tugu Proklamasi pada 9 September 2021. Bangunan bersejarah itu kemudian digantikan Tugu Wiraraja yang dirancang lebih megah dan estetis. Nama Wiraraja sekaligus disematkan pada kawasan alun-alun tersebut.

Nama Wiraraja sendiri memiliki makna pemimpin pemberani. Menurut Yuhan, terdapat dua pemaknaan yang berkembang. Sebagian mengaitkannya dengan Arya Wiraraja, tokoh yang membantu pendirian Kerajaan Majapahit. Ada pula yang menyebut Wiraraja sebagai nama pasukan pengawal raja.

“Wiraraja memiliki makna pemimpin pemberani. Ada yang menyebut nama itu sebagai penghormatan pada Arya Wiraraja yang membantu pendirian kerajaan Majapahit, ada juga yang menyebut Wiraraja adalah nama pasukan pengawal raja,” tandasnya.

Pembangunan Tugu Wiraraja dilakukan secara bertahap selama 2021-2023. Proyek tersebut menghabiskan anggaran sedikitnya Rp2,3 miliar. Sementara pembuatan empat relief sejarah di bagian tugu menelan biaya sekitar Rp888 juta.

Dengan perpaduan simbol Majapahit, sejarah perjuangan kemerdekaan, dan perkembangan Kota Mojokerto, Tugu Wiraraja kini menjadi bagian penting dari wajah baru alun-alun sekaligus media untuk mengenalkan sejarah daerah kepada masyarakat.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *