Menelusuri Jejak Peradaban Kuno
Perubahan muka laut pada akhir zaman es menenggelamkan sebagian besar Sundaland dan memunculkan hipotesis bahwa jejak Atlantis mungkin berada di Laut Jawa.
Fenomena geologi itu didukung bukti ilmiah, tetapi kaitannya dengan Atlantis masih menjadi hipotesis.
————————
Sekitar 20 ribu tahun lalu, permukaan laut dunia berada sekitar 120 meter lebih rendah dibandingkan sekarang. Pada masa itu, Paparan Sunda membentuk daratan luas yang menghubungkan Sumatra, Jawa, Kalimantan, Semenanjung Malaya, dan wilayah Asia Tenggara.
Kondisi berubah ketika lapisan es mencair dan air lelehan masuk ke lautan. Kenaikan muka laut berlangsung bertahap, tetapi pada periode tertentu kecepatannya meningkat. Fenomena tersebut dikenal sebagai meltwater pulse, yang kerap dalam pembahasan terbagi menjadi episode Pulse 1A dan 1B.
Meltwater Pulse 1A berlangsung sekitar 14.600 hingga 13.500 tahun lalu. Pada periode tersebut, muka laut global diperkirakan naik sekitar 16 meter hingga 24 meter. Setelah fase itu, kenaikan muka laut melambat tepatnya pada periode dingin Younger Dryas.
Kenaikan berikutnya dikenal sebagai Meltwater Pulse 1B, yakni sekitar 11.500 hingga 11.000 tahun lalu. Besaran kenaikan pada fase kedua masih diperdebatkan. Perkiraan awal mencapai 28 meter. Tapi penelitian berikutnya menunjukkan kemungkinan angka yang lebih rendah.
Proses tersebut bukan berupa satu gelombang raksasa yang menenggelamkan seluruh daratan dalam sehari. Selama ribuan tahun, garis pantai bergeser, lembah sungai tergenang, dan daratan perlahan terpisah menjadi pulau-pulau.
Jejak perubahan itu kini membentuk bentang alam bawah laut yang kompleks. Termasuk lembah sungai purba, cekungan, pantai lama, dan kemungkinan danau yang tertutup air laut. Fakta itu menjadi dasar kuat bahwa Sundaland pernah menjadi daratan luas.
Namun, keberadaan daratan purba tidak serta-merta membuktikan pernah berdiri kerajaan atau kota besar yang disebut Atlantis. Di titik inilah hipotesis Dhani Irwanto menarik perhatian.
Dia menghubungkan kisah Atlantis dalam tulisan Plato dengan geografi, geologi, peta lama, legenda lokal, serta bentuk dasar Laut Jawa. Sebagaimana dilansir dari ANTARA, Dhani menempatkan Atlantis di kawasan Laut Jawa. Yakni di sekitar Pulau Bawean atau wilayah laut di sebelah timur laut pulau tersebut.
Dhani mengaitkan kawasan itu dengan Gosong Gia atau Annie Florence Reef. Menurut hipotesisnya, bentuk wilayah itu memiliki sejumlah kemiripan dengan gambaran geografis Atlantis yang ditulis Plato. “Plato menceritakan dataran Atlantis adalah dataran rata dan halus, serta turun menuju laut,” ujar Dhani, seperti dikutip ANTARA.
Dhani juga menelusuri sejumlah peta lama yang mencantumkan nama pulau seperti Nusasua, Nisasira, Nusasira, dan Nisaira. Nama-nama itu, oleh Dhani kemudian ditafsirkan sebagai Nusasura.
Dalam kajiannya, bentuk terumbu karang di Gosong Gia juga dikaitkan dengan struktur kota yang digambarkan Plato. Analisis itu, antara lain dikaitkan dengan pemetaan menggunakan teknologi multi-beam echosounder.
Pendekatan Dhani bersifat lintas disiplin ilmu dengan memadukan batimetri, geografi, rekonstruksi lingkungan purba, linguistik, mitologi, dan semiotik. Namun, kesesuaian sejumlah petunjuk belum cukup untuk menetapkan lokasi Atlantis.
Dalam penelitian ilmiah, setiap dugaan masih harus diuji menggunakan data yang dapat diverifikasi secara independen. Dhani sendiri mengakui bahwa masih diperlukan penelitian lebih lanjut. “Perlu ada eksplorasi mendalam untuk mengetahui keberadaan Atlantis,” katanya.
Pembuktian menghadapi tantangan besar karena lokasi diduga berada di bawah laut. Bentuk dasar laut atau terumbu saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa pernah berdiri sebuah kota.
Peneliti perlu bukti arkeologis seperti struktur buatan manusia, artefak, lapisan hunian, serta material yang dapat ditentukan usianya melalui penanggalan ilmiah.
Di sisi lain, kondisi Laut Jawa juga menjadi tantangan tersendiri. Arus, sedimentasi, pertumbuhan karang, aktivitas tektonik, dan perubahan garis pantai dapat mengubah atau menutupi bentuk asli dasar laut.
Penanggalan menjadi persoalan berikutnya. Temuan bawah laut harus memiliki rentang usia yang relevan dengan konteks Atlantis, maupun perkembangan masyarakat di kawasan itu.
Sumber utama kisah Atlantis juga berasal dari dialog Plato, terutama Timaeus dan Critias. Penafsiran pada kedua karya itu masih menjadi perdebatan. Termasuk apakah Atlantis dimaksudkan sebagai tempat nyata, simbol, atau bagian dari konstruksi filsafat.
Kajian mengenai Paparan Sunda juga menghadapi persoalan ilmiah, antara lain perbedaan kondisi tektonik serta penyesuaian kerak bumi akibat perubahan beban es dan air. (*/ibn)












