CILACAP, Jatim Mandiri – Musim kemarau yang berlangsung cukup panjang mulai berdampak pada sektor perikanan budidaya di Kabupaten Cilacap. Berkurangnya pasokan air dan meningkatnya suhu menyebabkan pertumbuhan ikan maupun udang melambat, sehingga sebagian pelaku usaha memilih menunda siklus produksi baru.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Cilacap Indarto mengatakan dampak paling terasa terjadi pada budidaya ikan air tawar. Keterbatasan air membuat banyak pembudidaya menunda penebaran benih karena khawatir tingkat keberhasilan pemeliharaan menurun.
“Berdampak sekali karena sebagian daerah mengalami kekurangan air. Suhu udara juga cukup tinggi sehingga muncul kondisi yang dikenal pembudidaya sebagai bediding, akibatnya pertumbuhan ikan menjadi lebih lambat,” ujar Indarto, Kamis (6/8).
Menurutnya, kondisi tersebut membuat pelaku usaha lebih berhati-hati memulai siklus budidaya baru. Mereka memilih menunggu kondisi cuaca kembali normal dibanding mengambil risiko kerugian akibat benih yang tidak berkembang optimal.
Selain menghambat penebaran benih, ikan yang telah dipelihara juga membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai ukuran panen. Dampaknya, biaya operasional ikut meningkat karena masa pemeliharaan menjadi lebih panjang.
“Akibatnya masa pemeliharaan bertambah sehingga biaya produksi juga berpotensi meningkat,” jelasnya.
Tidak hanya perikanan air tawar, sektor budidaya udang di kawasan pesisir Cilacap juga mulai merasakan dampak musim kemarau. Meningkatnya kadar garam atau salinitas air tambak membuat pertumbuhan udang, terutama udang vaname, berjalan lebih lambat dibanding kondisi normal.
“Kalau tambak juga terpengaruh, walaupun dampaknya tidak sebesar budidaya air tawar. Salinitas sekarang cenderung tinggi sehingga pertumbuhan udang juga menjadi lebih lambat,” kata Indarto.
Meski demikian, kondisi tersebut justru mendorong kenaikan harga udang vaname di pasaran. Berkurangnya produksi membuat pasokan lebih terbatas, sementara permintaan masih relatif stabil sehingga harga jual mengalami peningkatan, bergantung pada ukuran udang.
Dinas Perikanan Kabupaten Cilacap hingga kini masih melakukan pendataan untuk mengetahui besaran penurunan produksi maupun potensi kerugian yang dialami para pembudidaya selama musim kemarau.
“Hampir semua wilayah terdampak, tetapi data statistiknya masih dalam proses verifikasi,” ujarnya.
Selain budidaya, aktivitas perikanan tangkap juga belum menunjukkan peningkatan berarti. Menurut Indarto, kondisi angin di perairan selatan Jawa masih memengaruhi aktivitas melaut sehingga hasil tangkapan nelayan belum mengalami lonjakan seperti yang biasanya terjadi pada musim kemarau.
Padahal, periode kemarau umumnya menjadi salah satu musim terbaik bagi nelayan karena cuaca lebih mendukung aktivitas penangkapan ikan. Ketika hasil tangkapan meningkat, aktivitas di tempat pelelangan ikan (TPI) juga biasanya ikut bergairah dan berdampak pada perputaran ekonomi masyarakat pesisir.
“Mudah-mudahan produksi segera bertambah. Biasanya pada musim kemarau aktivitas di TPI mulai ramai karena hasil tangkapan nelayan meningkat,” kata Indarto.
Pemerintah berharap kondisi cuaca dalam beberapa waktu ke depan mulai membaik sehingga aktivitas budidaya maupun penangkapan ikan dapat kembali berjalan normal. Dengan demikian, produktivitas sektor perikanan yang menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat pesisir Cilacap dapat segera pulih.












