BANTUL, Jatim Mandiri – Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul menemukan paparan rokok di lingkungan keluarga masih menjadi salah satu penyebab utama tingginya kasus stunting. Temuan tersebut diperoleh setelah pemerintah daerah memetakan berbagai faktor yang memengaruhi kondisi balita mengalami gangguan pertumbuhan.
Hasil tersebut dipaparkan dalam kegiatan Rembug Stunting yang melibatkan berbagai pihak untuk mengevaluasi penyebab dan upaya percepatan penurunan angka stunting di Kabupaten Bantul.
Kepala Dinas Kesehatan Bantul Agus Tri Widiyantara mengatakan dari hasil pemetaan yang dilakukan, keberadaan anggota keluarga yang merokok menjadi faktor paling dominan dibandingkan penyebab lainnya.
“Berdasarkan hasil yang kami dapatkan, faktor determinan salah satunya adanya perokok di dalam keluarga,” katanya, Selasa (4/8).
Ia menjelaskan sekitar 61,9 persen keluarga yang memiliki balita stunting diketahui masih memiliki anggota keluarga yang merokok. Kondisi tersebut dinilai berpengaruh terhadap kesehatan ibu maupun anak, termasuk kualitas lingkungan tempat balita tumbuh dan berkembang.
“Yang paling besar di tingkat kabupaten adalah paparan rokok dalam keluarga yang ternyata 61,9 persen dari data stunting salah satu keluarganya perokok,” ujarnya.
Selain paparan rokok, Dinkes Bantul juga menemukan sejumlah faktor lain yang turut berkontribusi terhadap munculnya kasus stunting. Di antaranya kondisi keluarga miskin, pola pengasuhan campuran, panjang badan lahir kurang dari 48 sentimeter, berat badan lahir rendah, tidak dilakukan inisiasi menyusu dini (IMD), tidak memperoleh ASI eksklusif, hingga adanya penyakit penyerta pada balita.
Menurut Agus, berbagai faktor tersebut saling berkaitan sehingga penanganan stunting tidak cukup hanya dilakukan melalui pemberian makanan tambahan, tetapi juga membutuhkan perubahan perilaku dan pola hidup sehat di lingkungan keluarga.
Dalam kesempatan itu, Agus juga mencontohkan keberhasilan Kalurahan Selopamioro, Kapanewon Imogiri, yang mampu menurunkan jumlah kasus stunting melalui program Community Feeding Center (CFC). Program tersebut mengumpulkan balita stunting untuk makan bergizi bersama dalam pengawasan petugas.
Sebelumnya, jumlah balita stunting di wilayah tersebut sempat mencapai 167 kasus. Namun, melalui pelaksanaan CFC secara rutin, jumlahnya kini berhasil ditekan hingga kisaran 90 kasus.
Menurut Agus, metode makan bersama dinilai lebih efektif dibandingkan pemberian makanan bergizi untuk dibawa pulang. Selama ini, makanan tambahan yang diberikan kepada balita kerap tidak habis dikonsumsi karena dibagi dengan anggota keluarga lainnya.
“CFC ini ternyata ada perubahan yang signifikan, ini harapannya dilakukan di daerah lain supaya penurunan stunting lebih efektif,” katanya.
Dinas Kesehatan Bantul berharap pola penanganan seperti yang diterapkan di Selopamioro dapat menjadi contoh bagi wilayah lain sehingga upaya percepatan penurunan stunting bisa berjalan lebih optimal.












