Surabaya, Jatimmandiri.id – Dunia pencak silat sering kali diidentikkan dengan dunia laki-laki yang kaku dan penuh maskulinitas. Namun, di tengah riuh rendah teriakan penonton dan hantaman fisik di atas matras Kejurprov Pencak Silat Jatim 2026, ada dua sosok perempuan tangguh yang membuktikan sebaliknya.
Mereka adalah Wigatiningsih dari Lamongan dan Dian Meirina Amalia asal Malang. Dua srikandi beda generasi ini mendedikasikan hidupnya demi menjaga marwah dan keadilan di gelanggang persilatan.
Wiga ditunjuk sebagai Ketua Pertandingan dalam Kejurprov Pencak Silat Jatim 2026. Sedang Dian turun sebagai Tim Delegasi Teknik.
Bagi Dian Meirina Amalia, pencak silat bukanlah hal asing. Tumbuh besar di lingkungan keluarga yang kental dengan darah pesilat, perempuan kelahiran 1985 ini seolah memang ditakdirkan untuk melangkah di jalur ini.
“Saya memang suka silat dan dari keluarga sendiri juga ada background sebagai pesilat. Sehingga pada 2001, saat SMA, saya memutuskan untuk menjadi atlet pencak silat,” kenang Dian, Kamis, 21 Mei 2026.
Bergabung dengan Perguruan Perisai Diri, kegigihan Dian langsung membuahkan hasil manis. Ia sukses merengkuh gelar Juara 1 di kelas tanding dalam ajang bergengsi International Perisai Diri Championship.
Namun, karier sebagai atlet tentu memiliki batas waktu. Enggan menjauh dari dunia yang membesarkannya, Dian mengambil langkah berani pada tahun 2007.
“Biar tidak terputus passion saya di pencak silat, saya melanjutkan karir sebagai wasit,” ungkapnya.
Kini, dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di dunia perwasitan, Dian bukan lagi sekadar pelengkap. Anggota Pengprov IPSI Jatim ini telah mengantongi sertifikasi sebagai Wasit Kualifikasi Internasional Kelas 3.
Di ajang Kejurprov Jatim 2026, ia memegang peran krusial sebagai bagian dari Tim Delegasi Teknik.
Melihat kemajuan zaman, Dian mengirimkan pesan kuat kepada kaum perempuan. Menurutnya, silat bukan lagi sekadar olahraga, melainkan kebutuhan esensial bagi perempuan modern.
“Wanita itu perlu ikut seperti ini (pencak silat, red). Agar bisa menjaga diri, membela diri, dan supaya tidak kalah dengan laki-laki. Buktikan kita juga bisa berprestasi lewat pencak silat,” tegas Dian.
Selain itu, ia juga menyarankan agar para atlet muda yang mulai tergerak usia tidak ragu untuk meneruskan pengabdian mereka, baik sebagai pelatih maupun wasit juri.
Jika Dian mewakili generasi emas 80-an, maka Wigatiningsih adalah sang legenda hidup dari Sidoarjo. Di usianya yang menginjak 58 tahun, perempuan yang akrab disapa Wiga ini telah mendedikasikan dirinya sebagai wasit pencak silat sejak tahun 1990 dan kini telah memegang kualifikasi nasional.
Kisah perempuan kelahiran Lamongan ini dimulai sejak ia masih duduk di bangku SMP. Berambut cepak dan bertingkah tomboy, Wiga kecil kerap terpukau melihat orang tuanya menampilkan koreografi bela diri di panggung hajatan antarkampung.
Sebagai anak perempuan tertua dari orang tua yang sama-sama bekerja, ia merasa memiliki tanggung jawab besar.
“Dari kecil aku tomboy, lalu maskulin gitu. Karena saya anak perempuan paling besar, jadi punya tugas melindungi adik-adik. Dari sana saya tertarik belajar aneka seni bela diri hingga akhirnya menjadi atlet pencak silat,” cerita Wiga.
Wiga kemudian bergabung dengan Perguruan Tapak Suci. Sebagai atlet, ia pernah merajai kejuaraan tingkat kota dan menembus ketatnya persaingan Kejurprov Jatim (dulu Kejurda) pada tahun 1988.
Namun, titik balik hidupnya terjadi saat ia menyaksikan sebuah tragedi di Kejurnas. Saat itu, partai final yang mempertemukan rival abadi Sulawesi Selatan dan Jawa Timur berujung bentrok hebat antarkontingen. Pemicunya yakni, keputusan fatal dari wasit yang kurang kompeten.
“Nah sejak itu saya termotivasi. Saya ingin jadi wasit, dan saya harus lebih baik dari dia,” cetus Wiga.
Sebagai wasit senior, Wiga menaruh perhatian besar pada mentalitas generasi muda, khususnya Gen Z dan Gen Alpha yang kini mendominasi matras.
Baginya, tantangan terbesar atlet zaman sekarang bukan lagi soal fisik, melainkan adversity quotient (kecerdasan menghadapi kesulitan).
Wiga pun mengutip filosofi mendalam yang pernah didengarnya dari mantan stuntman Jackie Chan asal Malang.
“Jika kamu keras pada dirimu sendiri, maka dunia akan lunak kepadamu. Tapi jika kamu lunak kepada dirimu sendiri, maka suatu saat dunia akan keras kepadamu,” tuturnya.
Wiga menilai penting generasi muda untuk terjun ke dunia persilatan. Terlebih, pencak silat kini telah masuk dalam DBON (Desain Besar Olahraga Nasional). Menyambut Indonesia Emas 2045, Wiga menegaskan bahwa tidak ada jalan pintas untuk menjadi manusia tangguh.
“Tidak ada kata lain selain belajar, belajar, dan belajar,” pungkas Bendahara IPSI Jatim ini.
Dian Meirina dan Wigatiningsih adalah potret nyata bagaimana dedikasi tidak pernah mengkhianati hasil. Melalui ketukan palu juri dan ketegasan sinyal tangan di atas matras, kedua srikandi ini tidak hanya sedang memimpin pertandingan, tetapi juga sedang mengukir sejarah dan menginspirasi generasi masa depan pencak silat Jatim agar tetap tegak, adil, dan mendunia. (bin)












