Sragen, Jatimmandiri.id – Musim giling tebu di Pabrik Gula (PG) Mojo Sragen memunculkan keluhan dari sejumlah warga di sekitar pabrik.
Dalam beberapa hari terakhir, jelaga hitam atau langes yang diduga berasal dari emisi cerobong asap pabrik beterbangan hingga mengotori permukiman di wilayah Kelurahan Sragen Kulon.
Salah seorang warga Sragen Kulon, Rahmat Samsono, mengaku teras dan halaman rumahnya kerap dipenuhi butiran debu berwarna hitam sejak proses penggilingan tebu dimulai.
Menurutnya, kondisi tersebut juga banyak menjadi perbincangan warga melalui media sosial.
“Sudah beberapa hari terakhir, tepatnya sejak musim giling tebu dimulai,” ujarnya, Jumat (3/7).
Rahmat berharap pihak manajemen segera melakukan langkah perbaikan agar sebaran jelaga tidak terus mengganggu aktivitas masyarakat.
“Kami berharap sistem pembuangan asap bisa diperbaiki sehingga jelaga tidak lagi sampai ke permukiman warga,” katanya.
Menanggapi keluhan tersebut, pihak manajemen PG Mojo membenarkan adanya debu jelaga yang terbawa angin hingga ke lingkungan sekitar pabrik.
Namun, perusahaan menegaskan telah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi dampak tersebut.
Karyawan PG Mojo, Samuel Mahendra, menjelaskan bahwa saat ini perusahaan sedang melakukan pembenahan secara bertahap pada sistem boiler dan penyaring emisi.
Menurutnya, proses perbaikan cukup kompleks karena sebagian besar peralatan di pabrik merupakan mesin lama yang memerlukan penyesuaian khusus.
“Alatnya sudah tua dan kami terus melakukan pembenahan di beberapa bagian. Prosesnya memang tidak mudah,” ujar Samuel.
Ia menjelaskan, pengadaan suku cadang untuk mesin lama juga membutuhkan modifikasi agar dapat dipasang dan berfungsi optimal.
“Kalaupun ada suku cadang yang didatangkan, tidak bisa langsung dipasang. Harus dilakukan berbagai penyesuaian di lapangan,” jelasnya.
Selain faktor teknis, Samuel menyebut kondisi cuaca pada musim kemarau tahun ini turut memengaruhi penyebaran debu.
Berbeda dengan tahun sebelumnya yang masih diwarnai hujan, kemarau yang lebih kering disertai angin cukup kencang membuat partikel jelaga lebih mudah terbawa hingga ke kawasan permukiman.
“Tahun ini kemaraunya lebih tegas. Angin pada siang hari cukup kencang sehingga debu dari boiler lebih mudah menyebar dibanding tahun lalu ketika masih sering turun hujan,” katanya.
Menurut Samuel, berdasarkan hasil pemantauan internal, intensitas debu yang keluar dari cerobong sudah mulai berkurang dalam beberapa hari terakhir dibandingkan saat awal musim giling.
Saat ini, teknisi PG Mojo terus melakukan penyempurnaan sistem penyaring pada cerobong ketel dengan menambah komponen filtrasi untuk menekan emisi jelaga.
“Kalau tahun lalu tiga perangkat penyaring sudah cukup, tahun ini kami menambah sistem penyaring karena kondisi cuaca berbeda. Kami berupaya semaksimal mungkin agar sebaran debu dapat diminimalkan, bahkan kalau memungkinkan bisa dihilangkan,” pungkasnya.
Pihak manajemen memastikan proses evaluasi dan perbaikan akan terus dilakukan selama musim giling berlangsung guna mengurangi dampak terhadap masyarakat sekitar sekaligus menjaga operasional pabrik tetap berjalan dengan baik.












