Intisari Berita:
Sekitar 600 desa di Jawa Timur dilaporkan masih mengalami kendala akses internet atau berada di titik buta jaringan (blank spot).
Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak, menegaskan penguatan infrastruktur digital sangat mendesak demi mengimbangi potensi ekonomi Jatim yang menembus Rp3.200 triliun per tahun.
Sebagai solusi untuk area geografis yang sulit, pemerintah mendorong adopsi teknologi alternatif seperti internet lokal dan internet berbasis satelit.
Surabaya, Jatimmandiri.id — Tantangan nyata di tengah derap transformasi digital nasional masih membayangi sebagian wilayah Jawa Timur. Sebanyak 600-an desa di provinsi ini dilaporkan masih mengalami keterbatasan akses internet atau berada di wilayah blank spot.
Kondisi ini menjadi atensi serius pemerintah daerah yang tengah gencar mendorong pengembangan ekonomi berbasis teknologi di tingkat akar rumput.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menggarisbawahi bahwa konektivitas internet kini telah bergeser menjadi kebutuhan primer masyarakat.
Menurutnya, hampir seluruh urusan dan aktivitas ekonomi modern saat ini tidak dapat dilepaskan dari ekosistem digital. Kendati demikian, ketimpangan akses masih dirasakan pada sejumlah titik wilayah.
Emil mengingatkan bahwa besarnya potensi nilai ekonomi Jawa Timur yang saat ini mencatatkan angka fantastis, yakni lebih dari Rp3.200 triliun per tahun, wajib diimbangi dengan ketersediaan infrastruktur digital yang kokoh dan merata.
Langkah ini krusial agar masyarakat lokal mampu mengambil peran sebagai produsen, bukan sekadar pasar konsumtif bagi produk asing.
“Kalau kita hanya menjadi pasar dan tidak menjadi produsen, maka digitalisasi justru akan membuat kita lebih banyak menyerap produk dari luar dibanding mendorong peningkatan produktivitas di Jawa Timur,” tegas Emil pada Sabtu (11/7/2026).
Pemetaan Wilayah dan Siasat Skema USO bersama Telkom Group
Menyikapi sebaran area yang belum terjangkau sinyal optimal tersebut, Emil mengklarifikasi bahwa kendala jaringan ini mayoritas tidak menimpa keseluruhan wilayah desa secara utuh, melainkan terjadi pada titik-titik koordinat tertentu yang belum terjangkau pemancar secara maksimal.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus bergerak menekan angka blank spot melalui kolaborasi lintas sektor. Salah satu strategi yang diandalkan adalah optimalisasi skema Universal Service Obligation (USO) yang dijalankan oleh pemerintah pusat bersama sejumlah penyedia jasa telekomunikasi terkemuka.
“Telkom Group sudah melakukan pemetaan dan kami sudah bertemu di Grahadi tahun lalu. Secara berkelanjutan daerah-daerah blank spot ini terus dikurangi,” lanjut Wakil Gubernur Jawa Timur tersebut.
Di samping itu, pembangunan infrastruktur berskala nasional seperti jaringan serat optik dan backbone Palapa Ring sejauh ini telah membuka gerbang konektivitas hingga ke belahan Indonesia bagian timur, yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat jalinan kolaborasi ekonomi antarwilayah.
Tantangan Geografis dan Solusi Internet Berbasis Satelit
Meskipun target pembersihan area blank spot terus berjalan, Emil mengakui bahwa menghapus seluruh titik buta sinyal di Jawa Timur membutuhkan proses dan waktu yang tidak instan.
Karakteristik geografis Jawa Timur yang variatif, mulai dari jajaran pegunungan tinggi hingga area permukiman terpencil, menjadi hambatan tersendiri dalam penarikan jaringan konvensional.
Sebagai langkah taktis dan cepat, pemerintah mendorong pemanfaatan instrumen teknologi alternatif. Area-area dengan topografi sulit akan diarahkan untuk memanfaatkan layanan internet lokal serta koneksi internet berbasis satelit.
“Kalau semua desa tersambung, insyaallah beberapa tahun ke depan bisa terwujud. Tetapi kalau sampai seluruh rumah mendapatkan sinyal yang sama, tantangannya lebih besar karena ada wilayah-wilayah yang secara geografis memang sulit dijangkau, sehingga diperlukan teknologi alternatif seperti internet lokal dan internet satelit,” tutup Emil Dardak.












