Surabaya, Jatimmandiri.id – Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) sekaligus atlet panjat tebing nasional, Antasyafi Robby Al-Hilmi, mencatat tonggak penting dalam kariernya. Atlet asal Gresik tersebut meraih medali emas pertamanya di level dunia setelah menjuarai nomor Speed Individual Men pada World Climbing Series (WCS) 2026 di Guiyang, China.
Robby mencatat waktu 4,65 detik pada babak final seri kelima WCS yang berlangsung 11-13 September 2026. Catatan tersebut mengantarkannya mengungguli atlet tuan rumah dan wakil Jepang.
“Perjuangannya penuh suka duka, terutama saat harus menghadapi ketidakpastian pemberangkatan. Alhamdulillah, beberapa minggu sebelum laga kami mendapat kepastian dari pemerintah sehingga bisa fokus penuh dalam pertandingan,” ungkap Robby, dikutip dari situs Unesa, Senin (21/9/2026).
Emas tersebut menjadi capaian penting setelah sebelumnya Robby menjalani persaingan ketat di Eropa. Pada Juli 2026, mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional itu meraih perak nomor Mixed Relay di Polandia dan perak Individual Speed di Chamonix, Prancis.
Meski konsisten naik podium, Robby mengaku kerap gagal mencapai hasil tertinggi karena terlalu terbebani keinginan untuk menang.
“Saya dulu terlalu sibuk ingin membuktikan diri. Ketika masuk final gold race, rasa ingin menang itu terlalu besar sampai saya lupa menikmati proses yang sudah dijalani,” katanya.
Perubahan pendekatan kemudian dilakukan. Robby berdiskusi dengan psikolog olahraga, rekan atlet, serta senior di Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI). Fokusnya diarahkan pada penampilan terbaik, bukan tekanan terhadap hasil.
“Saat di Guiyang, saya tidak memasang target muluk. Yang saya lakukan hanyalah berjuang untuk Merah Putih dan memberikan yang terbaik buat bangsa. Alhamdulillah, dari pola pikir itulah lahir emas pertama saya,” tuturnya.
Setelah Guiyang, Robby kembali menghadapi seri keenam WCS di Chongqing, China, 18-20 September 2026. Baginya, satu kemenangan tidak menjadi alasan untuk berhenti mengejar prestasi.
“Gelar pemenang itu hanya untuk kemarin. Hari ini saya kembali bukan siapa-siapa, melainkan kontestan yang memiliki peluang sama dengan peserta lainnya,” ujarnya.
Emas di Guiyang menjadi bukti bahwa perjalanan menuju podium tertinggi tidak hanya ditentukan oleh kecepatan fisik. Bagi Robby, keberhasilan tersebut merupakan hasil dari rangkaian kompetisi, pengalaman menghadapi kegagalan di final, serta kemampuan mengelola tekanan. Pengalaman dari kompetisi di Eropa dan pendampingan psikologis membantunya menemukan pendekatan baru dalam bertanding: fokus pada proses dan penampilan, bukan semata-mata mengejar kemenangan












