Dalam NegeriEdu-Life & Sport

Sutejo Dedikasikan Penghargaan Sastra untuk Generasi Muda

Penulis: AyundaEditor: Ayn
×

Sutejo Dedikasikan Penghargaan Sastra untuk Generasi Muda

Sebarkan artikel ini
Dr Sutejo, akademisi dan pegiat literasi dari Ponorogo, Jawa Timur, menerima penghargaan sastra dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang diserahkan oleh Wakil Ketua Komisi X DPR RI Himmatul Aliyah pada puncak acara Bulan Bahasa 2026 di Jakarta (28/10/2026).
Example 468x60

Jakarta, Jatim Mandiri
Sastra bukan sekadar rangkaian kata untuk menghibur pembaca, melainkan sarana merawat pikiran, membentuk karakter, dan membangun peradaban. Pandangan itu menjadi landasan perjalanan Dr. Sutejo, akademisi sekaligus penggerak literasi asal Ponorogo, yang menerima penghargaan nasional bidang kritik sastra pada puncak Bulan Bahasa 2026 di Jakarta, Rabu (28/10).

Penghargaan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, diberikan atas bukunya berjudul Sastra Simulator Pikiran dan Jiwa. Buku setebal 494 halaman tersebut menghimpun esai dan perjalanan pemikiran kritik sastra yang telah digelutinya sejak menjadi mahasiswa S1 di Malang pada 1989, sekaligus dilengkapi kajian perkembangan sastra dalam beberapa dekade terakhir.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Bagi Sutejo, sastra merupakan roh kehidupan bangsa, cermin realitas sosial, sekaligus penggerak cita-cita bersama. Ia merujuk pemikiran Angus Fletcher, guru besar sastra dan neurosains dari Ohio State University, Amerika Serikat, mengenai peran sastra dalam membantu manusia membangun peradaban.

“Jadi, sastra itu, selain tidak bisa dipungkiri sebagai sarana hiburan, juga berfungsi sebagai teman diskusi imajinatif bagi pembaca maupun pengarangnya, sekaligus sebagai simulator pikiran dan jiwa yang menggerakkan,” kata Sutejo.

Pemenang sayembara penulisan buku bacaan fiksi tingkat Jawa Timur pada 2000 dan penerima penghargaan kebudayaan Pemprov Jatim pada 2022 itu terus mendorong anak muda mengenal dunia kepenulisan. Ia membuka rumah bukunya bagi siswa dan mahasiswa dari Ponorogo maupun daerah lain untuk membaca, berdiskusi, serta mengembangkan kemampuan menulis.

“Meskipun usia saya sudah mendekati 60 tahun, alhamdulillah saya tidak pernah lelah untuk mengajak kesadaran siapapun untuk menyelami sastra dan kepenulisan,” ujarnya.

Dedikasi tersebut juga diwujudkan melalui pendampingan langsung kepada pelajar yang ingin menulis fiksi maupun nonfiksi. Sutejo bersedia berbagi teknik menulis cerpen dan puisi, bahkan menerima siswa yang datang ke rumah untuk berkonsultasi mengenai karya tulis. Pada masa pandemi COVID-19, ia pernah menguji skripsi mahasiswa di tengah kebun. Di luar aktivitas literasi, ia juga dikenal gemar berkebun dengan pola organik.

Baca Juga  Kemnaker dan IJTI Perkuat Kompetensi Jurnalis Muda Hadapi Era AI dan Transformasi Digital

Alih-alih menjadikan penghargaan sebagai puncak pencapaian pribadi, Sutejo berharap pengakuan nasional itu menyemangati generasi muda agar tekun belajar dan berkarya.

“Untuk penghargaan kali ini, mungkin sesuai usia, saya tidak lagi menempatkan sebagai kebanggaan pribadi, melainkan saya niatkan untuk menggugah semangat anak-anak muda untuk tidak lelah belajar dan berproses,” kata mantan Ketua STKIP PGRI Ponorogo tersebut.

Ia juga berharap penghargaan menjadi bukti kehadiran negara dalam menjaga keberlangsungan sastra dan bahasa Indonesia. Saat ini, Sutejo tengah merampungkan buku tentang sastra sebagai media terapi atau katarsis untuk meringankan beban jiwa.

“Momentum ini memberi pesan bahwa tujuan berkarya itu bukan untuk mengejar penghargaan. Penghargaan adalah karunia yang sebetulnya tidak bernilai apa-apa jika apa yang kita upayakan tidak memberi nilai manfaat bagi banyak orang,” tuturnya.

Dalam ajang yang sama, penghargaan diberikan kepada Iswadi Pratama untuk naskah drama Bayangan Pucat Memudar, Nukila Amal untuk novel Ikhtiar yang tak Benar-benar, Heru Joni Putra untuk kumpulan puisi Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan, serta Raudal Tanjung Banua untuk kumpulan cerpen Cerobong Tua Terus Mendera.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengapresiasi konsistensi para penerima penghargaan dalam memajukan bahasa Indonesia.

“Pencapaian ini menunjukkan dedikasi yang tidak pendek dalam upaya bersama untuk memperkuat dan memajukan harkat serta martabat Bahasa Indonesia,” katanya dalam acara yang disiarkan secara daring.

Abdul Mu’ti juga mengingatkan tiga pilar kebijakan kebahasaan, yakni mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Jakarta, Jatim Mandiri Film dokumenter The Longest Wait yang mengangkat perjalanan Timnas Indonesia dalam Kualifikasi Piala Dunia 2026 mulai tayang…