Lumajang, Jatim Mandiri
Gempa letusan atau erupsi masih mendominasi aktivitas vulkanik Gunung Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang. Berdasarkan pengamatan Kamis (23/7) pukul 00.00–06.00 WIB, Gunung Semeru mengalami 19 kali gempa letusan atau erupsi, tujuh kali gempa embusan, satu kali gempa harmonik, dan satu kali gempa tektonik jauh.
“Gunung Semeru mengalami 19 kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo 13-22 mm, tujuh kali gempa embusan, satu kali harmonik, dan satu kali gempa tektonik jauh,” kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto seperti dikutip Antara.
Sehari sebelumnya, Rabu (22/7), aktivitas Semeru juga didominasi 77 kali gempa letusan atau erupsi. Selain itu, tercatat enam gempa guguran, 12 gempa embusan, dan dua gempa harmonik.
Pada Kamis, Gunung Semeru juga terpantau erupsi sebanyak dua kali. Masing-masing pukul 00.29 WIB dan 05.48 WIB. Visual letusan tidak dapat diamati. Liswanto menjelaskan, aktivitas Gunung Semeru masih berada pada Status Level III (Siaga).
Masyarakat diimbau tidak beraktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga 13 kilometer dari puncak. Di luar kawasan tersebut, masyarakat juga diminta tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi Sungai Besuk Kobokan karena berpotensi terdampak awan panas dan aliran lahar hingga 17 kilometer.
“Masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar,” tegasnya. Dia juga mengimbau masyarakat mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di aliran sungai yang berhulu di Gunung Semeru, terutama Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. (ant/ibn)












