Jateng

Rupiah Melemah, Harga Kedelai Impor dari Amerika Melambung

×

Rupiah Melemah, Harga Kedelai Impor dari Amerika Melambung

Sebarkan artikel ini
Pegawai Primkopti Kabupaten Rembang menunjukkan kedelai dari Amerika Serikat, yang harganya semakin meroket.
Example 468x60

Rembang, Jatimmandiri.id – Harga kedelai impor di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah terus mengalami kenaikan.

Hal itu dipicu oleh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Perajin tempe dan tahu pun terpukul. Pasalnya, omset mereka menurun.

Di Primer Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Primkopti) Kabupaten Rembang, sebelah selatan Pasar Rembang, saat ini hanya menjual kedelai impor dari Amerika Serikat.

Barang yang tersedia, kedelai merek Siip dan Pagoda. Kedelai impor tersebut dinilai memiliki kualitas jauh lebih bagus dibandingkan kedelai lokal.

Seiring nilai tukar rupiah semakin melemah terhadap dolar AS, harga kedelai dari AS kian melambung.

Pantauan Jatimmandiri.id, pada Rabu, 3 Juni 2026 sudah menembus Rp10.700 per kilogram.

Padahal sebelumnya, hanya Rp9.000, kemudian naik Rp9.500, Rp9.800, hingga naik lagi sampai pada posisi Rp 10.700 per kilogram.

Salah satu perajin tempe warga Sugiyan Desa Pulo, Ratna Irmawati, mengaku terpaksa mengurangi ukuran tahu dan tempe untuk menyiasati kondisi tersebut.

“Lha gimana mas, soalnya nggak cuman kedelai saja yang naik, harga plastik untuk pembungkus juga naik,” ungkapnya.

Kalau perajin menaikkan harga dagangan, ia khawatir akan kehilangan banyak pelanggan.

Apalagi belakangan ini omset dagangan semakin menurun, karena daya beli masyarakat ikut menurun.

“Biasanya saya waktu normal, habis kedelai 30 kilogram, sekarang tinggal 15 kilogram per hari. Pesaing juga banyak, omset turun,” imbuh Ratna.

Pihak Primkopti Rembang mengakui tren harga kedelai terus naik dan belum pernah turun. Itu setelah nilai tukar rupiah terhadap dolar melemah.

Rinwati, salah satu pengurus Primkopti Rembang, menyebut angka penjualan kedelai turun.

“Katakan lah biasanya rata-rata 2 ton per hari, sekarang tinggal 1 ton per hari. Soalnya harga kedelai yang semakin mahal, berdampak pada daya beli,” ujarnya.

Baca Juga  Rupiah Melemah, Harga HP di Blora Melonjak hingga Rp 1 Juta

Ia berharap, pemerintah mengeluarkan kebijakan insentif khusus. Terutama bagi harga kedelai di sektor usaha tempe tahu kelas menengah ke bawah.

“Rencana mau ada pertemuan Primkopti di Salatiga. Keluhan-keluhan anggota akan kami teruskan. Anggota (pembeli) yang masih aktif di sini kisaran 50 orang. Mohon pemerintah dapat mencarikan solusi, soal harga kedelai impor,” imbuh Rin.

Terkait penjualan kedelai lokal, Primkopti Rembang sebenarnya sudah pernah mencoba.

Namun kualitas kedelai lokal tergolong rendah dan tidak kuat bertahan lama. Sehingga kurang diminati pembeli.

“Kedelai lokal itu ukurannya kecil-kecil. Nggak kuat bertahan lama. Dibuat tempe dan tahu rasanya kurang enak,” papar Rin.

“Beda dengan kedelai impor, ukuran kedelai besar dan tahan lama. Nah ini yang ke depan perlu dipikirkan pemerintah, bagaimana pengembangan kedelai lokal agar lebih bagus lagi,” sambungnya.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *