Edu-Life & Sport

Rektor Unusa Ingatkan Lulusan Tak Cukup Andalkan IPK

×

Rektor Unusa Ingatkan Lulusan Tak Cukup Andalkan IPK

Sebarkan artikel ini
Pembekalan calon wisudawan periode September 2026 di Kampus B Unusa, Kamis (27/8/2026).
Example 468x60

Surabaya, Jatimmandiri.id –  Gelar sarjana dan indeks prestasi kumulatif (IPK) tinggi bukan lagi satu-satunya modal untuk memasuki dunia profesional. Lulusan perguruan tinggi dituntut mampu berkomunikasi, berpikir kritis, beradaptasi, bekerja dalam tim, sekaligus mengelola keuangan ketika mulai menerima penghasilan sendiri.

Kesiapan tersebut menjadi perhatian Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) dalam pembekalan calon wisudawan periode September 2026 di Kampus B Unusa, Kamis (27/8/2026).

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Rektor Unusa Prof. Tri Yogi Yuwono mengatakan perubahan dunia kerja berlangsung semakin cepat, terutama akibat perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (AI), dan otomatisasi. Situasi itu membuat kemampuan akademik perlu dilengkapi dengan job readiness skill atau kecakapan kesiapan kerja.

“IPK yang tinggi hanya akan mengantarkan kalian sampai ke meja wawancara kerja. Namun, job readiness skill atau kesiapan kerja yang menentukan apakah kalian akan diterima, bertahan, dan sukses mendaki puncak karier,” ujarnya.

Pembekalan bertajuk “Financial Literacy & Job Readiness Skill” tersebut merupakan hasil kolaborasi Unusa dengan KADIN Jawa Timur, KADIN Institute, dan Plan International Indonesia.

Menurut Tri Yogi, kebutuhan industri kini tidak sebatas penguasaan teori. Lulusan juga harus mampu berkomunikasi secara profesional, mengambil keputusan berdasarkan pemikiran kritis, beradaptasi dengan perubahan, serta berkolaborasi dalam tim yang memiliki latar belakang keahlian berbeda.

Karena itu, pembekalan sebelum wisuda dinilai penting untuk mempertemukan kompetensi yang diperoleh selama perkuliahan dengan kondisi nyata di lingkungan profesional.

“Manfaatkan pembekalan ini untuk menjembatani teori yang kalian dapat di kelas dengan realitas dunia kerja yang dinamis,” pesannya kepada calon wisudawan.

Gaji Pertama Harus Dikelola Bijak

Selain keterampilan kerja, Tri Yogi mengingatkan pentingnya literasi keuangan bagi lulusan yang akan memasuki fase baru kehidupan. Penghasilan yang besar, menurut dia, belum tentu berbanding lurus dengan kesehatan finansial jika tidak disertai kemampuan mengatur keuangan.

Baca Juga  Hattrick Messi Bawa Argentina Hancurkan Aljazair, Samai Rekor Klose

Tantangan itu semakin besar karena generasi muda kini berada dalam ekosistem digital yang menawarkan kemudahan konsumsi. Fasilitas paylater, pinjaman daring, hingga gaya hidup yang terbentuk melalui media sosial perlu disikapi secara bijaksana.

“Literasi keuangan bukan tentang seberapa besar uang yang berhasil kalian hasilkan, melainkan seberapa bijak dan bertanggung jawab kalian mengalokasikannya,” katanya.

Ia meminta calon wisudawan mulai membangun kebiasaan finansial sehat sejak menerima penghasilan pertama. Kebutuhan perlu ditempatkan di atas keinginan, sebagian pendapatan disisihkan untuk tabungan dan dana darurat, sementara sebagian lainnya dapat dialokasikan pada kegiatan yang produktif.

Tri Yogi menilai kemampuan mengelola pendapatan merupakan bagian penting dari perjalanan menuju kemandirian ekonomi.

Kompetensi Harus Berjalan dengan Karakter

Di tengah tuntutan kompetensi profesional dan kecakapan finansial, Rektor Unusa juga mengingatkan agar lulusan tidak kehilangan karakter. Integritas, adab, sopan santun, empati, solidaritas, serta sikap menghormati sesama harus tetap dibawa ketika memasuki lingkungan profesional.

“Industri akan menghormati kalian bukan hanya karena kalian cakap bekerja, tetapi karena kalian adalah manusia yang berintegritas dan beradab mulia,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa keberhasilan tidak semestinya hanya dilihat dari jabatan maupun besarnya pendapatan. Lulusan Unusa diharapkan mampu memberikan manfaat bagi tempat kerja, keluarga, dan masyarakat.

Nilai kemanusiaan tersebut juga perlu diterapkan dalam kehidupan digital. Menurut Tri Yogi, kemampuan profesional harus berjalan beriringan dengan empati dan tanggung jawab, termasuk ketika menggunakan media sosial.

Para calon wisudawan juga diminta menjaga nama baik almamater melalui prestasi dan perilaku ketika mulai meniti karier.

Tri Yogi mengapresiasi keterlibatan KADIN Jawa Timur, KADIN Institute, dan Plan International Indonesia dalam kegiatan tersebut. Kolaborasi dengan dunia usaha dan organisasi yang berpengalaman dalam pengembangan generasi muda dinilai penting agar perguruan tinggi dapat terus menyesuaikan pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja.

Baca Juga  Deep Learning Jadikan Orang Tua Mitra Belajar PAUD

“Universitas tidak ingin melepas kalian ke masyarakat tanpa bekal yang matang,” ujar Tri Yogi.

Melalui pembekalan tersebut, Unusa berharap calon wisudawan tidak hanya siap mendapatkan pekerjaan, tetapi juga mampu bertahan menghadapi perubahan, terus berkembang, mengelola kehidupan finansial secara bertanggung jawab, serta menciptakan nilai bagi masyarakat di tengah perubahan dunia yang semakin cepat.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *