Politik

Refleksi 30 Tahun Kudatuli di Posko Pandegiling: Menjaga Benteng Moral Demokrasi

×

Refleksi 30 Tahun Kudatuli di Posko Pandegiling: Menjaga Benteng Moral Demokrasi

Sebarkan artikel ini
Kudatuli
Peringatan 30 Tahun Peristiwa Kudatuli (Tragedi 27 Juli 1996) yang digelar di Posko Pandegiling, Surabaya, pada Jumat (24/7/2026) malam
Example 468x60

Intisari Berita:

  • Peringatan 30 Tahun Tragedi Kudatuli 27 Juli 1996 berlangsung khidmat di Posko Pandegiling Surabaya dengan tema “Merawat Sejarah, Mewariskan Perjuangan”.

  • Tokoh PDI Perjuangan seperti Puti Guntur Soekarno, Bonnie Triyana, hingga Bambang DH menekankan pentingnya generasi muda memahami sejarah kebebasan demokrasi.

Surabaya, Jatimmandiri.id — Suasana penuh haru dan khidmat mewarnai Peringatan 30 Tahun Peristiwa Kudatuli (Tragedi 27 Juli 1996) yang digelar di Posko Pandegiling, Surabaya, pada Jumat (24/7/2026) malam. Ratusan kader serta simpatisan PDI Perjuangan memadati lokasi sejarah yang menjadi saksi bisu tonggak perjuangan demokrasi di Indonesia tersebut.

Mengusung tema “Merawat Sejarah, Mewariskan Perjuangan”, peringatan ini dihadiri jajaran tokoh penting partai, di antaranya Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Pendidikan dan Kebudayaan Puti Guntur Soekarno, Kepala Badan Sejarah DPP PDI Perjuangan Bonnie Triyana, mantan Wali Kota Surabaya Bambang DH, budayawan Agung Sinta, serta senior kader Promeg Baktiono.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Rangkaian acara dibuka oleh Jagad Hariseno, putra almarhum Ir. Soetjipto (tokoh inisiator sekaligus mantan Sekjen DPP PDI Perjuangan).

Selaku penjaga Posko Pandegiling, ia mengenang kembali momen bersejarah ketika Megawati Soekarnoputri mendeklarasikan diri sebagai Ketua Umum PDI secara de facto di tempat tersebut.

“Posko ini bukan sekadar bangunan, tetapi saksi bisu perjalanan perjuangan demokrasi. Saya hanya menjaga peninggalan keluarga sekaligus menjaga jejak sejarah partai,” ungkap Jagad.

Kudatuli dan Pesan Bagi Generasi Muda

Dalam orasinya, Puti Guntur Soekarno menegaskan bahwa Tragedi Kudatuli tidak boleh dipandang secara sempit sebagai ingatan internal partai semata, melainkan bagian dari sejarah kelam perjalanan bangsa Indonesia.

“Kudatuli bukan hanya milik PDI Perjuangan atau keluarga Megawati. Ini adalah tragedi besar yang menjadi bagian dari sejarah rakyat Indonesia,” tegas Puti.

Baca Juga  Tekan Beban TPA, Komisi C DPRD Surabaya Luncurkan Sekolah Sampah untuk Masyarakat

Puti mengajak generasi muda, khususnya Gen Z dan Gen Y, untuk menyadari bahwa iklim kebebasan berpendapat yang dinikmati hari ini merupakan buah dari pengorbanan panjang para pejuang demokrasi.

Ia kemudian memimpin sesi mengheningkan cipta untuk mendoakan para tokoh yang telah gugur, termasuk almarhum Ir. Soetjipto.

Kesaksian Sejarah dan Benteng Moral Demokrasi

Mantan Wali Kota Surabaya, Bambang DH, membagikan kesaksiannya terkait situasi genting di Surabaya menjelang dan pasca-pecahnya kerusuhan 27 Juli 1996 di Jakarta.

Ia menceritakan bagaimana ribuan massa kader Pro-Megawati yang turun ke jalan sempat dihadang hingga ditangkap oleh aparat penegak hukum kala itu.

“Semoga sejarah kelam seperti ini tidak pernah terulang. Aparat negara harus menjadi pelindung rakyat, bukan alat kekuasaan,” tutur Bambang DH.

Sementara itu, Kepala Badan Sejarah DPP PDI Perjuangan, Bonnie Triyana, menyebut Posko Pandegiling sebagai benteng moral dalam mempertahankan nilai-nilai demokrasi.

“Jika tembok-tembok di sini bisa berbicara, maka ia akan menjadi saksi bagaimana tempat ini ikut mempertahankan demokrasi Indonesia,” kata Bonnie, seraya menambahkan bahwa perjuangan politik tersebut harus ditransformasikan ke dalam demokrasi ekonomi demi kesejahteraan rakyat.

Apresiasi terhadap keberanian kader di daerah juga disampaikan oleh budayawan Agung Sinta dan senior kader Baktiono, yang mengenang beratnya pengorbanan serta intimidasi aparat dalam mengawal perjuangan Promeg di Jawa Timur.

Pameran Foto Dokumentasi dan Rangkaian Refleksi

Peringatan 30 tahun Tragedi Kudatuli ini turut dimeriahkan dengan pameran puluhan foto dokumentasi autentik peristiwa 27 Juli 1996 yang merekam momen-momen krusial pergerakan massa.

Sebagai penutup, panitia mengumumkan rencana agenda besar pada tahun 2027 mendatang, yang bertepatan dengan 100 tahun berdirinya Partai Nasional Indonesia (PNI).

Serta peringatan 80 tahun usia Megawati Soekarnoputri. Seluruh prosesi peringatan diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin oleh para senior kader.

Baca Juga  Pemkot Surabaya Luncurkan Buku "Bung Karno: Aku Arek Suroboyo", Tegaskan Soekarno Lahir di Kota Pahlawan
Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *