Sportainment

Piala Dunia Datang, Dompet Meradang

×

Piala Dunia Datang, Dompet Meradang

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

PIALA Dunia 2026 datang dengan wajah baru. Pesertanya bertambah menjadi 48 negara.

Lebih banyak tim. Lebih banyak pertandingan. Lebih banyak cerita.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Bagi Indonesia, ada bonus lain. Jam tayangnya lebih bersahabat. Karena digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, sebagian besar laga bisa dinikmati pada pagi hingga siang hari.

Harusnya ini kabar baik.

Tapi sepak bola sering kalah oleh urusan dapur.

Saat dunia sibuk menghitung peluang juara, rakyat Indonesia justru menghitung harga kebutuhan hidup. Kurs dolar naik. Rupiah tertekan. Efeknya menjalar ke mana-mana.

Harga BBM naik. Ongkos transportasi ikut bergerak. Barang kebutuhan pokok perlahan merangkak. Tahun ajaran baru datang dengan daftar pengeluaran yang tidak pernah pendek.

Piala Dunia pun kehilangan sebagian romantismenya.

Dulu, orang sibuk menentukan siapa yang bakal angkat trofi. Sekarang, banyak yang lebih dulu memastikan saldo rekening masih aman sampai akhir bulan.

Menonton di rumah juga ada hitungannya. Televisi menyala berjam-jam. Listrik berjalan. Kuota internet ikut terkuras.

Pilihan lain adalah warkop. Tempat paling demokratis bagi pencinta sepak bola.

Namun, warkop pun tak lagi murah. Dua cangkir kopi. Dua piring camilan. Dua jam duduk menonton pertandingan. Uangnya cukup untuk membeli kebutuhan lain yang lebih mendesak.

Akhirnya banyak yang memilih menunggu. Babak grup dilewati. Perempat final dipantau dari media sosial. Semifinal mulai melirik. Final baru berani nobar.

Ironis.

Piala Dunia yang seharusnya menjadi hiburan rakyat justru harus menunggu kondisi kantong membaik.

Di sinilah pemerintah layak bercermin.

Stabilitas ekonomi bukan sekadar angka pertumbuhan yang dipamerkan di layar presentasi. Yang dibutuhkan masyarakat adalah harga yang terkendali dan daya beli yang terjaga.

Baca Juga  Kunjungan Prabowo ke Prancis Hasilkan Investasi Rp61,25 Triliun, Buka Peluang Mitra Baru di Eropa

Rakyat kecil tidak meminta banyak.

Mereka tidak menuntut kurs rupiah menjadi yang terkuat di dunia. Tidak juga berharap hidup seperti miliarder.

Mereka hanya ingin bisa menikmati sepak bola tanpa dihantui kenaikan harga bensin. Tanpa memikirkan biaya sekolah anak. Tanpa cemas harga sembako berubah setiap pekan.

Piala Dunia memang hanya berlangsung sebulan.

Tetapi pertandingan ekonomi rakyat berlangsung setiap hari.

Dan sampai hari ini, banyak yang merasa mereka bermain tanpa wasit yang benar-benar membela kepentingannya.

Mungkin itulah satir terbesar Piala Dunia 2026.

Trofi emas diperebutkan di Amerika.

Sementara di Indonesia, rakyat masih bertanding melawan inflasi, biaya hidup, dan harapan agar dompet tidak lebih dulu kalah sebelum peluit akhir dibunyikan.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *