Nganjuk, Jatimmandiri.id-Ratusan warga memadati Pasar Murah yang digelar Pemerintah Provinsi Jawa Timur di Lapangan Kelurahan Kramat, Jalan Kramat, Kecamatan Nganjuk, Kamis (13/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi titik ke-93 Pasar Murah yang digelar Pemprov Jatim sepanjang 2026. Program ini menjadi salah satu upaya pemerintah menjaga stabilitas harga, mengendalikan inflasi, sekaligus memastikan masyarakat dapat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, Pasar Murah merupakan bentuk intervensi pemerintah untuk menjaga stabilitas harga sekaligus mendekatkan akses masyarakat terhadap kebutuhan pangan.
“Harapannya ini adalah penetrasi pengendalian inflasi,” ujar Khofifah.
Menurutnya, Pasar Murah sengaja digelar di lokasi yang dekat dengan permukiman warga, terutama kawasan yang relatif jauh dari pasar tradisional. Dengan demikian, intervensi pemerintah tidak hanya dilakukan melalui pengendalian harga, tetapi juga dengan mempermudah masyarakat mendapatkan bahan kebutuhan pokok.
“Tentu harapannya kita bisa memudahkan mendekatkan penjangkauan pemenuhan logistik masyarakat,” katanya.
Khofifah menjelaskan, Pemprov Jatim akan terus menggelar Pasar Murah di berbagai kabupaten dan kota. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus mengantisipasi gejolak harga bahan pokok.
“Pasar Murah sudah beberapa kali digelar. Pasar Murah juga digelar dengan terus bersinergi dengan kabupaten/kota. Di tahun 2026, ini adalah titik yang ke-93,” ujarnya.
Ia memastikan kegiatan tersebut akan terus berlangsung hingga akhir tahun, terutama di wilayah yang membutuhkan intervensi untuk menjaga keterjangkauan harga pangan.
“Kita ini menggelar Pasar Murah setitik-titiknya. Pasar Murah ini unlimited, sampai akhir tahun terus kita gelar, nanti ganti tahun kita mulai lagi,” tegas Khofifah.
Harga Sembako Lebih Terjangkau
Sejumlah komoditas kebutuhan pokok tersedia dalam Pasar Murah Nganjuk dengan harga yang relatif lebih rendah dibandingkan harga pasar.
Beras premium dijual Rp14.000 per kilogram, beras medium Rp11.000 per kilogram, minyak goreng Rp13.000 per liter, telur ayam ras Rp20.000 per bungkus, tepung terigu Rp10.000 per kilogram, dan gula pasir Rp14.000 per kilogram.
Sementara itu, bawang putih dan bawang merah masing-masing dibanderol Rp6.000 per 250 gram. Cabai dijual Rp5.000 per 200 gram, sedangkan daging ayam ras Rp30.000 per bungkus.
Khofifah menyebut harga komoditas dalam Pasar Murah tersebut berada di bawah harga pasar sehingga diharapkan dapat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Bisa dicek harga di pasar, kalau minyak kita satu liter berapa dan di sini berapa, gula di pasar berapa di sini berapa. Harganya semua jauh di bawah harga pasar,” terangnya.
Ia menegaskan, pengendalian inflasi membutuhkan sinergi berbagai pihak. Tidak hanya pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota, tetapi juga pelaku usaha, distributor, hingga masyarakat sebagai konsumen.
“Kami akan terus menggelar Pasar Murah di titik-titik yang memang membutuhkan intervensi,” tegasnya.
Pemprov Jatim juga terus memantau ketersediaan dan distribusi bahan pangan, termasuk minyak goreng Minyakita. Pemantauan dilakukan setelah sebelumnya terjadi pengurangan pasokan Minyakita di sejumlah wilayah.
“Sempat ada pengurangan suplai Minyakita. Kita koordinasi dengan Bulog, kita juga blusukan ke pasar-pasar,” jelas Khofifah.
Bagikan Ribuan Bendera Merah Putih
Pasar Murah di Nganjuk juga berlangsung dalam suasana semarak bulan kemerdekaan. Di sela-sela kegiatan, Khofifah membagikan lebih dari 1.000 Bendera Merah Putih secara gratis kepada warga di sekitar Lapangan Kramat dan siswa SMKN 2 Nganjuk.
Bersama Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi dan Wakil Bupati Nganjuk Trihandy Cahyo Saputro, Khofifah mengajak masyarakat dan para siswa membentangkan serta mengibarkan Bendera Merah Putih.
Suasana semakin meriah ketika Khofifah bersama warga dan siswa menyanyikan lagu nasional “Hari Merdeka” dan “Bendera”.
“Karena ini bulan kemerdekaan, bulan Agustus, maka di setiap titik itu kita membagikan Bendera Merah Putih sambil kita minta untuk dikibarkan, sambil menyanyikan lagu Hari Merdeka,” tuturnya.
Khofifah menegaskan, pembagian bendera bukan sekadar kegiatan simbolis. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangkitkan semangat nasionalisme dan kecintaan terhadap Tanah Air, terutama di kalangan generasi muda.
“Kami bersyukur bahwa semangat untuk meneguhkan, menguatkan, dan mengukuhkan Negara Kesatuan Republik Indonesia sangat kuat di semua lini yang kami sapa,” ungkapnya.
Ia juga mengaku mendapat respons positif dari masyarakat dalam berbagai kegiatan serupa di sejumlah daerah. Bahkan, ada warga yang mengaku sudah bertahun-tahun tidak menyanyikan lagu kemerdekaan secara bersama-sama.
“Ada di antara mereka yang sudah puluhan tahun tidak menyanyikan lagu Hari Merdeka. Hari ini hari bahagia mereka, di bulan kemerdekaan Republik Indonesia,” katanya.
Sapa Siswa ADEM asal Papua
Dalam kunjungan tersebut, Khofifah juga menyempatkan diri bertemu dengan siswa asal Papua yang tengah menempuh pendidikan di SMKN 2 Nganjuk melalui Program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) Papua.
Khofifah berpesan agar para siswa tekun belajar dan memanfaatkan kesempatan menempuh pendidikan di Jawa Timur dengan sebaik-baiknya. Ia juga mengundang mereka menghadiri Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, pada 17 Agustus 2026.
Salah satu siswa ADEM asal Wamena, Papua Pegunungan, Chandison Wesal, 17, mengaku bahagia dapat bertemu langsung dengan Khofifah. Ia juga menyampaikan terima kasih atas kesempatan mendapatkan pendidikan di Jawa Timur.
Chandison berharap dapat melanjutkan kuliah di Jawa Timur, khususnya mengambil jurusan Akuntansi di Jember. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia ingin kembali ke Papua dan ikut membangun daerah asalnya.
“Saya ingin kuliah Akuntansi di Jember, supaya nanti saat kembali ke Papua saya bisa membangun Papua. Saya berharap banyak adik-adik saya di Papua yang bisa mendapatkan beasiswa di Jawa Timur seperti saya,” katanya.
Sementara itu, Novita, 16, siswi kelas XI SMKN 2 Nganjuk, mengaku senang mendapatkan Bendera Merah Putih langsung dari Gubernur Jawa Timur. Baginya, momen tersebut menjadi pengalaman pertama bertemu dengan kepala daerah tingkat provinsi.
“Alhamdulillah senang sekali saya dapat bendera dari Ibu Gubernur. Ini pengalaman pertama saya bertemu Gubernur Jawa Timur. Saya senang sekali. Terima kasih Bu Khofifah,” ungkapnya.
Bagi Suwarni, 67, warga sekitar Lapangan Kramat, Pasar Murah memberikan manfaat langsung bagi keluarganya. Ia mengaku bersyukur mendapatkan bantuan beras yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari bersama dua cucunya.
“Saya senang sekali, terima kasih Ibu Gubernur. Ini sangat membantu, bisa buat makan saya dan dua cucu saya yang sudah tidak punya bapak ibu,” pungkasnya.












