Menelusuri Jejak Peradaban Kuno
AI META Group membangun dunia tropis-maritim berciri Nusantara dalam game Atlantis: Rise of the Java Sea dengan mengolah hipotesis Atlantis di Laut Jawa sebagai inspirasi kreatif. Melalui riset dan teknologi digital, developer Indonesia itu merancang peradaban yang memiliki masyarakat, ekonomi, alam, dan konflik tanpa mengklaimnya sebagai rekonstruksi sejarah.
—————————————-
Atlantis dalam budaya populer kerap digambarkan sebagai kota bawah laut berarsitektur klasik atau kerajaan berteknologi futuristis. AI META memilih jalan berbeda dengan membayangkan peradaban tersebut dari sudut pandang kawasan tropis dan kepulauan.
Direktur AI META Group Iwan Setiady mengatakan, game itu tidak dibuat untuk menggiring pemain menerima satu pendapat mengenai lokasi Atlantis. Hipotesis dan hasil penelitian digunakan sebagai bahan untuk membangun pengalaman yang mendorong rasa ingin tahu.
“Game ini tidak dibangun untuk memaksa orang mempercayai satu teori sejarah. Yang ingin dibangun adalah pengalaman yang membuat orang bertanya, mencari tahu, membaca, membandingkan, dan melihat bahwa Indonesia memiliki sejarah geografis dan kebudayaan yang sangat luar biasa,” kata Iwan.
Dalam rancangan AI META, Atlantis tidak cukup diwujudkan melalui istana megah, kota besar, dan hamparan laut. Developer juga membangun cara masyarakat hidup, berdagang, bepergian, mengelola sumber daya, mengembangkan teknologi, dan berhubungan dengan alam.
Pendekatan tersebut menjadikan Atlantis sebuah ekosistem, bukan latar permainan yang kosong. Di balik bangunan terdapat masyarakat, ekonomi, budaya, kekuasaan, kepercayaan, kepentingan, dan ketegangan yang menggerakkan perjalanan cerita.
Identitas Nusantara hadir melalui karakter lingkungan dan kehidupan masyarakatnya. Laut diposisikan sebagai penghubung antarkawasan, sedangkan pelabuhan, sungai, hutan, gunung, pertanian, permukiman, dan jalur perdagangan membentuk wajah peradaban.
AI META tidak memindahkan kebudayaan Indonesia modern secara mentah ke masa purba. Pengembang mengeksplorasi kemungkinan munculnya peradaban tropis-maritim yang tumbuh di kawasan dengan kedekatan geografis dan ekologis terhadap dunia kepulauan.
Gagasan itu bertemu dengan hipotesis ahli teknik hidrologi Dhani Irwanto. Ia menghubungkan uraian dalam dialog Timaeus dan Critias karya Plato dengan geografi Asia Tenggara bagian barat, termasuk kawasan yang kini menjadi Laut Jawa.
Dhani menyoroti gambaran tentang curah hujan tinggi, air melimpah, iklim hangat, dua musim, tanah subur, sungai, serta keragaman tumbuhan dan satwa. Ciri tersebut, menurut dia, mengarah pada kawasan beriklim tropis.
“Ini menunjukkan daerah Atlantis beriklim tropis. Hanya tiga kemungkinan, Amerika Tengah, Afrika tengah atau Asia Tenggara,” kata Dhani dalam diskusi yang diberitakan Mongabay Indonesia.
Dhani kemudian mengaitkan uraian geografis Plato dengan Sundalandia, daratan purba Asia Tenggara yang pernah memiliki konfigurasi berbeda ketika permukaan laut lebih rendah. Kawasan itu kini terpecah menjadi sejumlah pulau dan wilayah perairan.
“Narasi geografi cukup detail. Kemungkinan di Sundalandia atau Asia Tenggara bagian Barat. Sekarang Pulau Sumatera dan Kalimantan,” ujarnya dalam pemberitaan yang sama.
Di sisi lain, Departemen Teknik Geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember mencatat, kajian Dhani menggunakan pendekatan geografi, iklim, tata letak dataran dan kota, hidrolika sungai, saluran, hasil bumi, struktur sosial, adat, serta mitologi.
Hipotesis itu memang belum menjadi kesimpulan arkeologis yang diterima secara universal. Dalam game, AI META juga menempatkannya sebagai salah satu kemungkinan geografis yang dapat diterjemahkan menjadi dunia fiksi.
Bentang Paparan Sunda memberikan kerangka ruang, sedangkan imajinasi developer mengisinya dengan kehidupan. Kota, permukiman, transportasi, perdagangan, teknologi, dan hubungan manusia dengan alam dikembangkan agar saling terhubung.
Pedang Garuda menjadi salah satu unsur kreatif dalam dunia itu. Kehadirannya memperkuat warna Nusantara dalam game berlatar peradaban Atlantis itu. Hal ini menjadi kombinasi menarik, di mana hipotesis Dhani menjadi salah satu insipirasi game yang menempatkan Atlantis dan Pedang Garuda sebagai interpretasi kreatif untuk kebutuhan permainan. (*/ibn)












