Beritaꦧꦸꦢꦪ

Mendeteksi Kota Atlantis

×

Mendeteksi Kota Atlantis

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi pusat peradaban Atlantis yang identik dengan cincin konsentris, berbentuk kota melingkar seperti yang ditulis filsuf Yunani Plato.
Example 468x60

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno

Benarkah Atlantis berbentuk kota melingkar seperti yang ditulis filsuf Yunani Plato? Pertanyaan itu kembali mengemuka ketika sejumlah peneliti membandingkan deskripsi Atlantis dengan tata kota kuno di berbagai belahan dunia, termasuk hipotesis yang menempatkannya di kawasan Sundaland.

————————————–

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Dalam dialog Critias dan Timaeus, Plato menggambarkan ibu kota Atlantis memiliki pola cincin konsentris. Kota itu disebut terdiri atas lingkaran daratan dan kanal yang saling berselang-seling, dihubungkan jembatan, serta dikelilingi benteng berlapis.

Selama berabad-abad, gambaran tersebut menjadi salah satu ciri paling dikenal dalam kisah Atlantis. Namun, para peneliti masih memperdebatkan apakah bentuk melingkar itu merupakan gambaran kota yang benar-benar ada, simbol filosofis, atau penyederhanaan dari tata ruang sebuah peradaban kuno.

Bentuk kota melingkar sesungguhnya bukan hal yang sepenuhnya asing dalam sejarah. Sejumlah peradaban kuno diketahui membangun permukiman dengan memperhatikan fungsi pertahanan, pengelolaan air, maupun tata ruang yang terencana, meski tidak selalu identik dengan deskripsi Plato.

Mohenjo-daro di Lembah Indus, yang berkembang sekitar 2500 SM, misalnya, dikenal memiliki perencanaan kota yang maju. Jalan-jalan disusun membentuk pola teratur, dilengkapi sistem drainase bawah tanah, sumur, serta kawasan permukiman yang tertata. Meski tidak berbentuk lingkaran, kota ini menunjukkan kemampuan rekayasa perkotaan yang mengagumkan pada zamannya.

Di Asia Tenggara, kompleks Angkor di Kamboja juga memperlihatkan tingkat perencanaan yang tinggi. Jaringan kanal, waduk raksasa (baray), serta sistem distribusi air dibangun untuk mendukung kehidupan kota dan pertanian. Tata ruang Angkor memperlihatkan bahwa pengelolaan air telah menjadi bagian penting dari peradaban besar di kawasan tropis.

Selain itu, sejumlah kota kuno lain seperti Babilonia di Mesopotamia, Xi’an di Tiongkok, hingga beberapa kota Romawi juga dikenal memiliki benteng, kanal, dan sistem pertahanan yang dirancang sesuai kebutuhan geografis masing-masing.

Baca Juga  Kuntadi Diusulkan ke Presiden

Perbedaan itu menunjukkan bahwa unsur-unsur yang disebut Plato, seperti benteng, kanal, dan tata kota terencana, sebenarnya bukan karakter yang hanya dimiliki satu peradaban. Yang membedakan Atlantis adalah penggambaran cincin konsentris yang hingga kini belum memiliki padanan arkeologis yang diakui secara luas.

Dalam konteks itulah, hipotesis yang dikemukakan peneliti independen Dhani Irwanto menjadi salah satu kajian yang sering dibahas. Melalui bukunya Atlantis: The Lost City is in the Java Sea, ia mengemukakan bahwa kisah Atlantis kemungkinan berhubungan dengan kawasan Sundaland, daratan luas yang dahulu menghubungkan Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya ketika permukaan laut masih lebih rendah. “Hasil penelitian saya. Kotanya, ibukota Atlantis itu ada di Laut Jawa,” kata Dhani.

Menurut hipotesis tersebut, deskripsi Plato tidak harus dimaknai sebagai kota berbentuk lingkaran sempurna. Cincin konsentris dapat dipahami sebagai gambaran bentang alam yang terdiri atas kombinasi sungai, rawa, kanal alami, maupun buatan yang membentuk pola tertentu di kawasan permukiman.

Hipotesis Dhani Irwanto masih menjadi bahan kajian dan belum diterima sebagai konsensus ilmiah. Hingga kini belum ada bukti arkeologis yang diakui secara luas untuk memastikan lokasi Atlantis ataupun membuktikan bahwa Sundaland adalah Atlantis yang dimaksud Plato.

Meski demikian, perbandingan antara deskripsi Atlantis dengan tata kota kuno tetap menarik untuk ditelusuri. Kajian tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan manusia merancang kota, membangun benteng, dan mengelola air telah berkembang di berbagai peradaban sejak ribuan tahun lalu.

Bagi para peneliti, kisah Atlantis bukan sekadar pencarian sebuah kota yang hilang. Lebih dari itu, Atlantis menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana peradaban kuno berkembang, beradaptasi dengan lingkungannya, dan meninggalkan jejak yang masih mengundang pertanyaan hingga sekarang. (*/ibn)

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Surabaya, Jatim Mandiri Direktorat Jenderal Pajak (DJP) bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memulai pilot project integrasi sistem Coretax…

Berita

Surabaya, Jatim Mandiri Surabaya Great Expo (SGE) 2026 resmi dibuka di Exhibition Hall Grand City, Surabaya, Rabu (5/8), sebagai ajang…

Berita

Mojokerto, Jatim Mandiri Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mojokerto menyelidiki laporan dugaan pelanggaran pengelolaan air…

Berita

Pasuruan, Jatim Mandiri Polres Pasuruan menonjobkan anggota Reskrim Polsek Beji yang terlibat dalam penanganan kasus seorang terduga pelaku judi online…

Berita

Probolinggo, Jatim Mandiri Pemerintah Kota Probolinggo memperkuat sinergi lintas sektor untuk mempercepat pengentasan kemiskinan melalui Rapat Koordinasi Tim Koordinasi Penanggulangan…