Menelusuri Jejak Peradaban Kuno
HIPOTESIS Dhani Irwanto menempatkan Atlantis di Laut Jawa selalu menarik perhatian, karena memadukan narasi Plato dengan data geografis, batimetri, dan rekonstruksi lingkungan purba. Tapi sejauh mana tantangan penelitian untuk melanjutkan hipotesis tersebut.
Insinyur hidrologi asal Yogyakarta itu meneliti gagasan tentang Atlantis sejak 2010 dan menuangkannya dalam buku Atlantis: The Lost City Is in Java Sea yang terbit pada April 2015. Bagi Dhani, Atlantis bukan sekadar legenda. Tetapi Atlantis adalah kemungkinan lokasi fisik yang pernah berada di kawasan Sundaland. Ia menduga ibu kota Atlantis terletak di Laut Jawa, tepatnya di sekitar Pulau Bawean. “Hasil penelitian saya. Kotanya, ibu kota Atlantis itu ada di Laut Jawa,” kata Dhani.
Untuk menyusun hipotesis itu, Dhani menggunakan pendekatan multidisiplin yang mencakup hidrologi, geologi, pemetaan Sistem Informasi Geografis (GIS), batimetri, topografi, dan rekonstruksi lingkungan purba.
Ia mengintegrasikan data GEBCO 2025, SRTM v3, serta model inundasi deglasial untuk merekonstruksi kondisi Paparan Sunda ketika permukaan laut jauh lebih rendah dibandingkan sekarang.
Dari rekonstruksi itu, Dhani mengidentifikasi enam sistem sungai purba dan sebuah danau purba besar di kawasan Teluk Thailand. Kondisi itu, menurutnya, membantu menggambarkan lanskap Sundaland pada masa lalu.
Narasi Plato kemudian menjadi pembanding utama. Dalam dialog Timaeus dan Critias, filsuf Yunani tersebut menggambarkan Atlantis sebagai dataran luas, subur, memiliki banyak sungai, serta dikelilingi pegunungan. “Plato menceritakan dataran Atlantis adalah dataran rata dan halus, serta turun menuju laut,” ujar Dhani.
Ia kemudian mencocokkan deskripsi tersebut dengan karakter geografis Sundaland. Pegunungan Muller Schwaner dan Meratus di Kalimantan, misalnya, dikaitkan dengan rangkaian pegunungan yang disebut dalam narasi Plato.
Dhani juga menghubungkan ukuran dan bentuk Atlantis dengan kawasan Sundaland pada masa Pleistosen. Menurut interpretasinya, terdapat sekitar 60 kesesuaian antara deskripsi Plato dan kondisi geografis kawasan tersebut.
Salah satu titik yang menarik perhatiannya adalah Gosong Gia atau Annie Florence Reef, sekitar 150 kilometer timur laut Pulau Bawean, Gresik. Terumbu karang itu memiliki bentuk melingkar, yang oleh Dhani dikaitkan dengan gambaran ibu kota Atlantis berupa lingkaran konsentris dalam kisah Plato.
Namun, berbagai kecocokan itu belum menjadi bukti arkeologis bahwa Atlantis pernah berada di Laut Jawa. Kritik terhadap hipotesis tersebut antara lain berkaitan dengan belum ditemukannya bukti otentik mengenai keberadaan kota atau struktur peradaban yang dapat diverifikasi.
Jason Colavito, penulis yang mengikuti perkembangan arkeologi alternatif, menilai Dhani berupaya mencocokkan ukuran, bentuk, dan fitur Atlantis dengan kawasan Sumatra dan Jawa pada Zaman Es. Atlantipedia juga mencatat bahwa upaya Dhani mencocokkan narasi Plato dengan lokasi pilihannya membutuhkan verifikasi lebih lanjut.
Setidaknya terdapat beberapa persoalan yang masih terbuka. Eksplorasi bawah laut diperlukan untuk menguji dugaan keberadaan struktur yang disebut berkaitan dengan Atlantis. Rekonstruksi paleo-hidrologi juga masih perlu diuji dengan mempertimbangkan sedimentasi, tektonik lokal, dan proses geologi lainnya yang dapat memengaruhi bentuk bentang alam.
Selain itu, hubungan antara istilah dalam mitologi Yunani, seperti Poseidon, dengan tokoh atau konsep dalam tradisi Nusantara membutuhkan kajian filologis dan linguistik lebih mendalam.
Di tengah perdebatan itu, hipotesis Dhani tetap menarik karena menawarkan cara pandang berbeda terhadap sejarah Sundaland. Ia mencoba mempertemukan berbagai disiplin ilmu untuk membaca kembali perubahan lingkungan Asia Tenggara.
Pendekatan itu juga memiliki irisan dengan gagasan Stephen Oppenheimer dalam Eden in the East yang menempatkan Sundaland sebagai kawasan penting dalam sejarah populasi dan perubahan lingkungan Asia Tenggara.
Dhani sendiri tidak menutup ruang bagi penelitian lanjutan untuk menguji hipotesisnya.
“Perlu ada eksplorasi mendalam untuk mengetahui keberadaan Atlantis,” katanya.
Karena itu, perdebatan mengenai Atlantis tidak harus berhenti pada pertanyaan benar atau salah. Yang lebih penting adalah bagaimana setiap klaim diuji melalui data, metode penelitian, dan bukti yang dapat diverifikasi.
Dalam konteks itu, penelitian Dhani juga memberikan perhatian pada rekonstruksi sungai purba dan perubahan muka laut yang membantu menggambarkan bagaimana bentang alam Asia Tenggara berubah sepanjang waktu.
Penelusuran Atlantis akhirnya menjadi bagian dari pertanyaan yang lebih luas: bagaimana manusia memahami perubahan lingkungan dan kemungkinan jejak peradaban yang pernah hidup di kawasan yang kini sebagian telah menjadi dasar laut.
Apakah Atlantis benar berada di Laut Jawa? Masih membutuhkan pembuktian. Namun, upaya menelusuri kemungkinan tersebut membuka ruang untuk mempelajari Sundaland melalui perpaduan data geologi, hidrologi, arkeologi, dan sejarah.
Dhani juga menegaskan bahwa penelitian bertujuan tidak hanya untuk menerangi asal-usul salah satu legenda terbesar dalam sejarah. “Tetapi juga untuk memajukan metodologi decoding mitos kuno menggunakan alat-alat sains modern,” tegasnya. (*/ibn)












